5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
TikTok @yuliana_ngoceh
Dream - Mengerjakan tugas di sekolah, melakukan pekerjaan rumah atau tugas lain pastinya membutuhkan fokus agar bisa selesai. Pada beberapa, menyelesaikan tugas tertentu bisa memakan waktu lama. Hal ini bisa karena banyak hal, salah satunya fokus.
Seperti pengalaman seorang ibu bernama Yuliana yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Ia memiliki anak lelaki bernama Yugi yang sangat lama saat haarus mengerjakan sesuatu. Banyak yang mengira Yugo sangat sulit untuk fokus.
Dalam sebuah video di akun TikTok @yuliana_ngoceh, sang ibu memperlihatkan bagaiman sulitnya Yugo memecahkan telur. Sangat lama dan banyak pertimbangan.

" Dia anak perfeksionis yang ga suka kalau salah jadi dia harus hati-hatidan banyak pertimbangan, observasi dan pertimbangannya yang makan waktu itu bikin kita dan gurunya geregetan. Kebiasaan Yugo yang gampang teralihkan bikin kita ngelabel dia anak yang careless, gak fokus selalu bikin geregatan," ungkap Yuliana dalam TikToknya.
© Dream
Hal tersebut membuat sang ibu mengkonsultasikan Yugo pada beberapa pendidik dan guru. Rupanya ada faktanya yang baru terkuak dan sangat berbeda dan yang dikira sebelumnya. Setelah diobservasi, Yugo ternyata merupakan anak yang sangat fokus.

" Leader dari sekolah Yugo ternyata ngomong kalau Yugo tipe anak yang sangat fokus. Dia liat saat Yugo melakukan sesuatu tapi pas ada hal lain yang menginterupsi, fokusnya berpindah ke hal kedua. Jadi Yugo itu tidak multitasking tapi di hal yang dia fokusi itu dia super detail," katanya.
© Dream
Fakta tersebut memang tak mengubah keadaan tapi memberi sudut pandang lain pada orangtua Yugo untuk menyikapinya dengan lebih baik. Tidak lagi melabelinya dengan anak yang sulit belajar.
" Sejak itu kita latihan lebih dalam menerima kelebihan dan kelemahannya. Perjalanan parenting yang ngedukung eksplorasi di area forte Yugo benar-benar dimulai. Kita ikutkan dia pada hal-hal yang mempertajam keingintahuannya di area mekanik, perakitan dan coding," kata sang ibu.

Kemampuan Yugo yang sangat andal dalam hal detail membuat kemampuan risetnya sangat terasah tanpa dipaksa. Ia juga mengembangkan kemampuan analisis, koordinasi, komunikasi dan critical thinking.
Yugo bahkan memenangkan lomba perakitan alat listrik yang membuatnya sangat bangga akan hasil karyanya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Terkadang kita sebagai orangtua memang harus dengan segala mencari cara untuk mengetahui kelebihan anak agar ia lebih optimal dalam bidang tersebut.
Lihat videonya di sini
© Dream
Dream - Pada anak tertentu, saat disediakan makanan, mereka bukan melahapnya tapi selalu dimainkan. Ada yang memindahkan, memutarnya, menaruhnya di atas kepala atau meremasnya sampai hancur.
Hal itu pastinya membuat pusing ayah dan bunda di rumah. Biasanya hal ini terjadi pada anak balita yang masih belajar makan. Situasi makan memang jadi sangat berantakan, tapi sebenarnya hal itu juga merupakan pertanda baik.
Mengapa? Berikut alasannya dikutip dari KlikDokter.com.
Proses Belajar dan Bermain
Pada usia 5-6 tahun, itu merupakan masa-masa penting untuk perkembangan sensori anak. Sebab pada masa tersebut, anak melakukan eksplorasi dengan mengembangkan kemampuan panca indera mereka. Salah satunya adalah eksplorasi rasa dan sentuhan, merasakan, dan membedakan berbagai tekstur melalui makanan.
Tanda Anak Pintar
Ternyata, anak-anak yang makan dengan berantakan berpotensi menjadi pembelajar yang lebih baik dan lebih cepat di masa mendatang. Journal Developmental Science mengamati 72 balita yang diberikan oatmeal, saus apel, dan susu.
Hasilnya, anak-anak yang mengotori tangan mereka dengan ketiga makanan tersebut ternyata mampu mempelajari kata-kata dengan lebih cepat daripada yang makannya rapi.
© Dream
Makanan yang dirasa sudah cukup enak oleh orang dewasa, belum tentu berlaku sama untuk anak-anak. Ketika si anak lebih banyak meremas dan melempar makanannya ketimbang memasukkannya ke dalam mulut, itu bisa saja menandakan ia dia kurang berselera dengan makanan yang orang tua buat.
Sedang Tidak Lapar
Meski sudah jam makannya, ada kalanya anak masih merasa kenyang, apalagi jika sebelumnya sempat minum susu atau menikmati camilan manis. Memberikan makanan lain kepada anak yang masih kenyang, akhirnya dianggap sebagai menawarkan sebuah mainan. Maka tidak heran jika anak malah memainkan makanannya atau menjadikan makanan tersebut eksperimen.
Penjelasan selengkapnya baca di sini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?