Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Ilustrasi
Dream - Kehidupan masyarakat muslim Amerika Serikat (AS) kerap menjadi korban diskriminasi akibat berkembangnya Islamophobia. Siapa sangka, di tengah kondisi tersebut berkah Ramadan tahun ini memberikan sedikit kebahagiaan bagi warga muslim AS, khususnya Minneapolis.
Abdirahman Mukhtar, muslim AS asal Minneapolis, Minnesota adalah salah satu penduduk yang merasakan perbedaan besar tersebut. Mukhtar dan 150 ribu muslim lainnya di Minnesota akan menghadapi jam puasa yang lebih panjang dan panas pada Ramadhan kali ini.
" Bisa menjalani bulan Ramadhan adalah sebuah berkah. Ini adalah bulan yang penuh pengampunan, kasih sayang, kesederhanaan, amal, dan refleksi diri," katanya seperti dikutip minnpost.com, Minggu, 21 Juni 2015.
Meski tak senyaman negara lain, Mukhtar masih bersyukur bisa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan di negara seperti AS.
" Bayangkan jika Anda tinggal di Suriah, Myanmar dan Yaman. Bahkan di Tiongkok, muslim dilarang berpuasa di bulan Ramadhan."
Kebahagiaan Mukhtar bertambah setelah sebuah undang-undang baru yang dibuat oleh anggota Dewan Kota Minneapolis Andrew Johnson mengizinkan pemilik bisnis restoran di luar kota untuk tetap buka di hari-hari khusus.
Meski bukan hal baru di wilayah itu, undang-undang itu menjadi angin segar bagi pemilik restoran muslim dan lainnya untuk memenuhi kebutuhan komunitas muslim di Minneapolis selama Ramadan.
Ilhan Omar, pembantu pembuat kebijakan senior untuk Johnson, mengatakan selama ini banyak muslim berbondong-bondong ke restoran jika sudah waktunya berbuka puasa. Tetapi mereka harus buru-buru makan karena restoran hanya bisa beroperasi hingga pukul 10 malam.
" Banyak pemilik restoran mengalami kesulitan finansial. Mereka hanya beroperasi 30 menit hingga satu jam sementara harus membayar pajak dan gaji pegawai," kata Omar.
Sementara bagi pelanggan muslim, waktu yang sedikit itu menyulitkan mereka mencari tempat untuk berbuka karena banyak yang sudah tutup.
Bulan Ramadan adalah bulan di mana muslim dewasa diwajibkan menjalankan puasa. Mukhtar mengatakan puasa bukan hanya menahan lapar dan haus.
" Bagi saya, Ramadan adalah momen refleksi diri dan penyembuhan spiritual," kata Mukhtar. " Sebuah waktu untuk mengingat mereka yang lapar dan menghargai hal-hal yang kita anggap remeh dalam hidup."
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama


3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya


Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
