Pertamina Hulu Energi Akuisisi PI 3 WK di Kaltim, Salah Satunya di Lokasi Temuan Cadangan Gas Raksasa Tahun 2023
Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah
5 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Setiap Hari Jika Ingin Mengurangi Gula
Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A
Mengapa AC Mobil Listrik Tetap Bisa Aman Menyala Meski Mesin Mati?
Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya
Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan
8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi
Pelemahan Indeks Syariah Terus Berlanjut.
Dream - Perdagangan hari kedua di tahun 2018 belum membawa kabar baik bagi pergerakan indeks acuan saham syariah Bursa Efek Indonesia. Sempat harapan saat sesi pembukaan, aksi ambil untung investor menyeret Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) ke zona merah.
Meski ada peningkatan dari sisi nilai transaksi perdagangan, lantai bursa saham syariah tertekan oleh aksi pemodal asing asing.
Pada penutupan perdagangan harian BEI, Rabu 3 Januari 2018, indeks ISSI terkoreksi cukup tajam sebesar 3,057 poin (1,61%) ke level 186,670. ISSI membuka perdagangan dengan mengaut ke level 189,795 dan sempat menyentuh level tertinggi. Sementara posisi terendahnya tercatat di level 185,789.
Kondisi ini juga terjadi pada saham-saham keping biru syariah. Dengan 22 emiten unggulan yang ditutup melemah, indeks JII rontok sampai 16,911 poin (2,23%) ke level 740,199.
Transaksi perdagangan saham syariah meningkat secara nilai namun berkurang untuk sisi volume. Dengan 39,61 juta saham syariah yang berpindah tangan, nilai transaksi perdagangan syariah mencapai Rp3,6 triliun, bertambah Rp600 miliar.
Pemodal asing yang sejak awal tahun mengurangi porsi sahamnya, kali ini mencatat nilai jual bersih. Nett sell asing pada saham syariah mencapai Rp73 miliar pada jajaran saham ISSI. Nett sell asing pada saham bluechips justru mencapai Rp136 miliar.
Semua indeks sektor tiarap pada perdagangan tengah pekan ini. Aksi jual saham marak terjadi pada indeks barang konsumsi yang rontok sampai 2,51 persen, infrastruktur 1,9 persen, industri dasar 1,59 persen, dan industri aneka 1,31 persen.
Emiten-emiten unggulan syariah yang menjadi top gainer kali ini dihuni LPPF yang harga sahamnya naik Rp275, INDF Rp100, EXCL Rp40, INCO Rp20, dan SCMA Rp20.
Penguatan ini tak cukup kuat menahan koreksi besar-besar pada saham-saham top losser JII. Emiten UNVR dan UNTR memimpin daftar emiten korban jual investor dengan anjlok masing-masing Rp1.875 dan Rp1.075. Penurunan harga saham diikuti oleh TLKM yang harga sahamnya terkoreksi Rp180, ASII Rp150, dan TPIA Rp150.
Dari pasar uang, sentimen positif membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terangkat. Ketika perdagangan ditutup, kurs rupiah terhadap dolar AS naik 43 poin (0,32%) ke level Rp13.471 per dolar AS.
(Sah)
Advertisement

3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar

Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes

Bukan Sekadar Hantu, Teror Rambut Sewu Berawal dari Dendam Keluarga


Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah

5 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Setiap Hari Jika Ingin Mengurangi Gula