Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Tahun 2016, Ada Risiko-risiko Bisnis Yang Harus Diwaspadai. (Sumber: Merdeka.com)
Dream - World Economic Forum (WEF) telah merilis daftar risiko bisnis tahun 2016. Survei ini dilakukan terhadap 750 negara anggota.
Dilansir dari laman Lautindo, Senin 13 Juni 2016, Founder dan Editor Visual Capitalist, Jeff Desjardins, mengatakan WEF merilis daftar sepuluh risiko tertinggi yang akan dihadapi bisnis tahun 2016.
" Kegagalan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menjadi risiko yang paling tinggi," kata Desjardins.
Dia mengatakan peringkat kedua diduduki oleh migrasi besar-besaran. Secara umum, risiko ekonomi seperti guncangan harga minyak, krisis fiskal, dan bubble properti juga masih menghadang. " Risiko lingkungan seperti krisis air dan kerusakan ekosistem pun juga turut mengintai global," kata dia.
Desjardins mengatakan, dalam 18 bulan mendatang, migrasi penduduk besar-besaran menduduki peringkat pertama sebagai risiko global yang tertinggi sebesar 52 persen dan diikuti oleh krisis ekonomi sebesar 27,9 persen. Lalu, konflik antar negara memegang peringkat ketiga sebagai risiko global yang paling tinggi, dan diikuti oleh pengangguran sebesar 26 persen dan kegagalan pemerintah 25,2 persen.
WEF, lanjut dia, juga merilis risiko global 10 tahun mendatang. Krisis air menduduki peringkat pertama sebagai krisis yang harus diwaspadai. Krisis air memegang peran 39,8 persen dan diikuti oleh kegagalan mitigasi risiko dan adaptasi dari perubahan iklim yang memegang porsi 36,7 persen. Peringkat ketiga dipegang oleh bencana akibat cuaca iklim sebesar 26,5 persen, peringat keempat adalah krisis pangan sebesar 25,2 persen, dan ketidakstabilan sosial sebesar 23,3 persen.
" Faktor lingkungan dan sosial dengan fokus terhadap air, pangan, dan cuaca mendominasi kesemuanya," kata Desjardins.
Advertisement

3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?


Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih