Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Kilang Minyak Lepas Pantai
Dream - Arab Saudi mengirimkan pesan keras kepada seluruh dunia. Produsen minyak mentah terbesar di bumi ini takkan mengurangi pasokannya meski harga minyak jatuh ke level US$ 20 per barel.
Bagi Saudi, sangat tidak adil jika negara-negara penghasil minyak (OPEC) diminta untuk mengurangi produksi namun pesaingnya di luar OPEC justru dibiarkan saja.
" Kalaupun minyak turun sampai US$ 20 per barel, US$ 40, US$ 50, US$ 60, desakan ini sangat tak relevan," kata Menteri Perminyakan Arab Saido, Ali Al Naimi dalam wawancara dengan Middle East Economic Survey (MEES).
Dalam komentarnya yang tak lazim ini, Naimi membela keputusan OPEC yang tetap mempertahankan produk minyak dunia di level 30 juta barel per hari.
Sontak keputusan ini membuat harga minyak terus anjlok ke level terendahnya US$ 50 per barel sejak Juni lalu.
Permintaan minyak mentah yang terus berkurang ditambah penguatan nilai tukar dolar AS, ikut Ngebor membuat harga minyak semakin jatuh.
Selama ini, Arab Saudi senantiasa berperan sebagai penyeimbang permintaan dan pasokan di pasar minyak dunia. Hal ini terjadi karena Saudi memiliki kapasitas cadangan minyak yang begitu besar.
Ladang minyak di Saudi setidaknya memompa 9,6 juta barel minyak per hari. Naimi menilai permintaan konyol jika Saudi diminta untuk mengurangi produksi minyak yang bakal mengacaukan iklim bisnis negaranya.
" Apakah masuk akal meminta perusahaan yang efisien dalam memproduksi minyak sementara perusahaan inefisien terus melanjutkan produksinya?" tanya Naimi seperti dikutip Dream dari laman Emirates247, Rabu, 24 Desember 2014.
Seraya menambahkan, Saudi akan menanggung rugi besar dengan pengurangan produk minyak. " Sementara Brasil, Rusia dan produksi shale gas dari AS akan menikmati untung dari kenaikan harga (jika produksi Saudi diturunkan)."
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama


3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya


Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
