Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Petugas Disinfektan Tengah Menyemprot Ruangan Sholat Di Masjid Istiqlal (Foto: Deki Prayoga/Dream.co.id)
Dream – Pandemi corona membuat masyarakat cemas terutama dalam urusan keuangan. Sebagian besar orang menilai pandemi Covid-19 bisa mengancam pendapatan yang selama ini mereka peroleh.
Survei yang dilakukan Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), menemukan mayoritas rakyat Indonesia menyatakan corona telah mengancam pemasukan atau penghasilan. Sekitar 25 persen warga menyatalan sudah tak bisa lagi memenuhi kebutuhan pokok tanpa pinjaman.
Hasil survei juga menemukan 15 persen warga mengaku tabungan yang mereka miliki hanya cukup hanya untuk menopang hidup beberapa minggu lagi. Sementara 15 persen lainnya merasa tabungan cuma cukup untuk satu minggu.
Temuan ini merupakan hasil survei nasional tentang Wabah Covid-19 yang dirilis secara online pada 17 April 2020. Survei dilakukan pada 9-12 April 2020 terhadap 1200 responden yang diwawancarai melalui telepon yang dipilih secara acak, dengan margin of error 2,9 persen.
Survei ini juga menunjukkan 67 persen rakyat Indonesia menyatakan kondisi ekonominya semakin memburuk sejak pandemi Covid-19. Yang menyatakan tidak ada perubahan 24 persen dan yang menyatakan lebih baik hanya 5 persen.
Kalangan yang paing terkena dampak ini adalah mereka yang yang bekerja di sektor informal, blue collar, dan kelompok yang mengandalkan pendapatan harian.
Kelompok yang berpendapatan rendah, terutama pekerja harian, yang paling terdampak wabah Covid-19 cenderung terpaksa melanggar kebijakan PSBB dan social distancing. Pemberian subsidi pun menjadi kebutuhan yang mendesak agar penyebaran virus bisa ditekan.
Bantuan pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi harus segera dilakukan dan diawasi pelaksanaannya agar tepat sasaran serta menghindari penyimpangan.
Dream – Negara-negara dengan perekonomian terbesar dunia, G-20 memutuskan untuk membebaskan pembayaran utang bagi negara-negara termiskin di dunia selama satu tahun. Keputusan ini dilakukan agar negara-negara tersebut bisa fokus pada perjuangan menghadapi pandemi virus corona.
Dikutip dari Liputan6.com yang melansir AFP, Kamis 16 April 2020, anggota G20 juga menegaskan kembali komitmennya mengerahkan semua alat kebijakan yang tersedia untuk menangani krisis kesehatan dan ekonomi yang disebabkan COVID-19.
Dengan lebih dari dua juta kasus dan kematian mendekati 130 ribu di seluruh dunia, banyak dari negara-negara kurang berkembang menghadapi beban terberat. Negara tersebut tidak memiliki kekuatan dana belanja untuk menangani pengobatan dan ekonomi yang terpuruk akibat langkah lockdown yang mereka diberlakukan untuk menahan virus.
![]()
Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 dikatakan mendukung penghentian pembayaran utang untuk negara-negara termiskin. Dikatakan pula jika semua kreditor resmi bilateral akan berpartisipasi dalam inisiatif ini.
" Negara-negara miskin tidak perlu khawatir tentang pembayaran selama 12 bulan ke depan," ujar Menteri Keuangan Saudi Mohammed Al-Jadaan, yang saat ini memimpin G-20.
Inisiatif ini akan menyediakan hampir USD 20 miliar likuiditas langsung, bagi negara-negara miskin untuk digunakan sebagai dana sistem kesehatan. " Dan mendukung mereka menghadapi COVID-19," kata Mohammed Al-Jadaan dalam konferensi pers.
" G20 menaruh uang kami di tempat yang kami tuju, dan berkomitmen untuk lebih mendukung dunia saat menghadapi pandemi ini," kata Al-Jadaan.
Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia sebelumnya telah menyerukan kepada pemerintah untuk memberikan keringanan utang kepada negara-negara yang paling membutuhkan.
Para menteri keuangan dari Kelompok G-7 yang berisi negara maju sepakat untuk melakukannya. Ini juga meliputi meliputi dukungan China dan Rusia.
Para pemimpin IMF dan Bank Dunia menyambut pengumuman itu. Lembaga ini menyebutnya sebagai " inisiatif yang kuat dan tindakan cepat yang akan memberikan banyak hal untuk melindungi kehidupan dan mata pencaharian jutaan orang yang paling rentan."
Pemberi pinjaman yang berbasis di Washington telah bergegas untuk menggelar pembiayaan darurat dan telah menerima permintaan bantuan dari 100 negara.
IMF memiliki kapasitas pinjaman USD 1 triliun dan telah menggandakan fasilitas pembiayaan daruratnya. Lembaga ini juga fokus pada negara-negara termiskin yang membutuhkan bantuan paling lunak.
" Target kami adalah melipattigakan apa yang kami lakukan untuk negara-negara ini," ujar Kepala IMF, Kristalina Georgieva.
G-20 juga meminta kreditor swasta, bekerja melalui Institute of International Finance, untuk berpartisipasi dalam inisiatif yang meluas ke 76 negara termiskin di dunia. Negara yang memenuhi syarat untuk mendapatkan pembiayaan lunak dari International Development Association (IDA).
IMF menyebut krisis ekonomi sebagai penguncian besar-besaran. Lembaga ini juga memperingatkan pandemi akan memangkas USD 9 triliun pertumbuhan global karena ekonomi dunia terkontraksi tiga persen pada tahun ini. Ini merupakan penurunan paling parah sejak Depresi Hebat pada 1930-an.
Situasi ini bisa menjadi jauh lebih buruk jika pandemi ini bertahan hingga paruh kedua tahun ini atau bangkit kembali.
IMF memperkirakan 20 negara telah berkomitmen menyiapkan sekitar US$8 triliun (Rp124.806,4 triliun) untuk memerangi virus dan menyediakan jalur ekonomi bagi rumah tangga dan perusahaan yang berjuang untuk mengatasi krisis.
Dana lebih besar dinilai akan diperlukan lebih banyak untuk memulai kembali ekonomi global setelah pandemi telah berlalu.
" Ketika pandemi terus berlanjut di seluruh dunia, berapa banyak lagi yang akan " tergantung pada seberapa efektif langkah-langkah itu, dan seberapa cepat virus terhenti," kata Georgieva.
(Sumber: Liputan6.com/Nurmayanti)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya