Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Warnet Di Jepang (livejapan.com)
Dream - Warung internet (warnet) dan kafe komik menjadi tempat populer di Jepang hingga saat ini. Dua tempat ini kerap buka 24 jam sehari dan tak pernah tutup.
Banyak tunawisma, termasuk backpacker memfavoritkan dua tempat untuk bermalam. Bahkan ada yang menetap lantaran tidak sanggup membayar sewa kamar yang terbilang mahal, yang lebih dikenal dengan istilah `pengungsi warnet`.
Akibat virus corona yang menyerang Jepang, ribuan 'pengungsi warnet' tersebut terpaksa tinggal di jalan-jalan. Ini akibat otoritas Jepang memberlakukan penutupan.
Warnet dan kafe komik di Jepang memang dilengkapi fasilitas nyaman seperti sofa, komputer, komik, minuman ringan, hingga kamar mandi dengan shower. Ditambah lagi, orang hanya cukup merogoh kocek sebesar 2.000 yen, setara Rp200 ribu per malam, tarif yang murah di Jepang.
Diperkirakan sekitar 4.000 orang telah menggunakan fasilitas warnet dan kafe komik untuk rumah mereka. Hal tersebut sudah jadi sesuatu yang biasa di Tokyo.
Penutupan yang terjadi dikhawatirkan dapat meningkatkan angka bunuh diri dan tidur di jalan terbuka. Untuk menghindari hal tersebut, sejumlah pihak berwenang di Tokyo telah membuka tempat penampungan sementara untuk para 'pengungsi warnet'.
Seorang buruh berusia 58 tahun, mengatakan tujuannya tinggal di warnet hanya untuk menghindari basah.
" Sebelumnya saya berpikir untuk tidur di kursi tunggu di sebuah stasiun kereta, atau di stasiun bawah tanah," kata pria yang menolak disebutkan namanya.
Dia mengaku cukup bingung ketika mengetahui warnet yang ditempatinya ditutup pada akhir pekan untuk menekan penyebaran virus corona.
" Saya dulu pergi bekerja dari warnet, saya dulu memiliki pekerjaan, tetapi karena virus corona saya tidak memiliki pekerjaan," kata dia, sembari menambahkan betapa sulit mencari pekerjaan tetap di usianya saat ini.
Menyewa sebuah apartemen di Jepang membutuhkan biaya besar dan administrasi yang rumit. Hal inilah yang mendasari warnet jadi tempat yang nyaman sehingga dipenuhi orang miskin di Jepang.
" Aku tidak punya tempat untuk pergi, hanya punya beberapa kenalan," kata pria itu.
Tempat penampungan sementara yang disediakan otoritas berwenang setempat berada di aula judo di Yokohama dan dioperasikan oleh Otoritas Kanagawa. Tempat ini telah dirancang oleh arsitek Jepang pemenang penghargaan Shigeru Ban dan berguna untuk menjaga privasi serta mencegah penularan infeksi.
Para penghuninya tidur seperti di kamp pengungsian yang dipisahkan bilik di antaranya. Bisa dibilang, ini mirip tempat perlindungan darurat di Cardboard Carthedral for Christchruch di New Zealand setelah bencana gempa bumi 2011.
" Tujuan pembangunan pengungsian ini untuk menyediakan tempat yang aman bagi para 'pengungsi warnet' saat pandemi corona," kata salah satu pejabat Pemerintah Kota Yokohama, Yuji Miyakoshi.
Tempat gratis ini telah menampung 40 orang sejak dibuka pada 11 April lalu. Terbukti efektif pada saat " rumah" mereka ditutup beberapa pekan lalu.
Tokyo terkenal dengan masyarakat yang kaya dan makmur. Tetapi, sama seperti ibu kota lainnya, tunawisma jadi salah satu masalah yang dihadapi kota metropolitan tersebut.
Perekonomian Jepang baru bangkit pada tahun 1990an. Pada masa itu, Jepang berhasil menciptakaan jutaan lapangan kerja dan secara bersamaan melahirkan banyak sekali masyarakat kategori miskin.
Warnet dan kafe komik merupakan surga bagi para pebisnis yang terlambat kerja atau ingin minum di pinggiran kota ketika ketinggalan kereta terakhir. Seiring berjalannya waktu, tempat-tempat tersebut menjadi tempat tinggal pekerja miskin di Jepang.
" Virus ini telah mendorong orang-orang tersebut ketepian," kata Tsuyoshi Inaba, yang telah lama membantu orang-orang tunawisma
Inaba memperkirakan sudah ada 2.000 tunawisma di Tokyo. Digabungkan dengan 4.000 pengungsi warnet, maka ada sekitar 6.000 orang berada dalam lingkungan yang tidak stabil. Angka tersebut baru di Tokyo, belum di daerah-daerah lainnya di seluruh Jepang.
Pemerintah Metropolitan Tokyo memerintahkan penutupan warnet selama pandemi corona. Di saat yang bersamaan, pemerintah mencari solusi untuk para tunawisma yang tidak memiliki tempat tinggal.
Banyak aktivis di Tokyo mengatakan tempat-tempat pengungsian sementara itu terlalu berat diakses. Sebabnya, diperlukan bukti para tunawisma tersebut telah tinggal di Tokyo selama enam bulan atau lebih.
Para 'pengungsi warnet' tersebut banyak yang keluar dari warnet dan tidak memiliki pilihan lain selain tidur di jalanan. Mereka tidak menemukan tempat berlindung yang layak.
" Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Ini menyebabkan kebingungan sosial dan angka bunuh diri akan meningkat," jelas Inaba.
Jika bantuan dari pemerintah pusat tidak dapat didistribusikan dan memadai, Inaba memperkirakan akan terjadi masalah besar terkait persebaran virus corona.
" Beberapa tunawisma ini akan pindah ke kota-kota provinsi dan kemungkinannya besar jika mereka memiliki virus," ia memperingatkan.
Sumber: Straits Times
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya