Di Balik Paras Ayunya, Hijaber Malaysia Ini Seorang Pegulat

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 8 Juli 2019 17:24
Di Balik Paras Ayunya, Hijaber Malaysia Ini Seorang Pegulat
Tidak ada yang menyangka di balik gerakan yang lincah ada sosok hijaber cantik.

Dream - Nor Diana, gadis 19 tahun asal Malaysia ini punya paras ayu. Penampilannya sangat anggun dalam balutan hijab dan gamis.

Siapa sangka, di balik penampilan itu, gadis ini ternyata menggeluti profesi yang tidak pernah dibayangkan banyak orang. Dia adalah atlet gulat profesional.

Bahkan, bisa dikatakan Nor Diana adalah hijaber pertama yang menekuni olahraga identik dengan adu fisik ini. Dia mulai jadi sejak tiga tahun lalu dan menyandang nama khusus Phoenix.

 Dor 'Phoenix' Diana© world of buzz

Dikutip dari World of Buzz, Phoenix tertarik untuk menjadi pegulat ketika dia bermain video game gulat bersama adiknya. Saat itu, dia masih berusia 14 tahun.

1 dari 7 halaman

Terobsesi Jadi Pegulat

Dia jadi terobsesi dengan olahraga ini sejak pertama kali menonton pertunjukan gulat profesional di televisi. Gadis berperawakan manis bahkan pertama kali melihat pertandingan WWE secara langsung pada 2015.

Akhirnya, dia memutuskan bergabung dengan MYPW, klub gulat Malaysia, dan berlatih bersama mereka. Phoenix disambut baik di MYPW, tapi tidak mendapatkan perlakuan khusus hanya karena dia wanita atua karena memakai hijab.

Seperti atlet gulat lainnya, dia juga mendapatkan otonomi dalam setiap latihan. Sehingga, dia harus mencoba gerakan baru yang diinginkan dan di saat bersamaan menolak gerakan yang membuatnya tak nyaman.

" Saya satu dari dua pegulat wanita di MYPW, dan berlatih dengan para pria," kata Phoenix.

2 dari 7 halaman

Sempat Malu, Kini Bisa Berbangga

Perjalanannya meniti karir di ring gulat tidak pernah dibayangkan. Sebagaimana dia diminta untuk meninggalkan profesi pegulat ketika baru berlatih selama dua bulan.

 Phoenix© world of buzz

Pelatihnya, Ayez Shaukal Fonseka, sempat khawatir dengan personanya di ring yang tidak berkembang. Akhirnya, sang pelatih memintanya memakai nama 'Phoenix' di ring.

Dia lalu mulai memakai topeng Luchador, memunculkan kontras dengan kepribadian aslinya yang pemalu dan pendiam. Awalnya, dia sempat enggan menunjukkan hijabnya di hadapan publik.

Tetapi, seketika dia menjadi percaya diri berduel tanpa topeng di Singapura. Dunia akhirnya tahu, ada hijaber cantik di balik topeng tersebut.

(Sah, Sumber: worldofbuzz.com)

3 dari 7 halaman

Gadis Pemulung Sampah Diterima Kuliah di Luar Negeri

Dream - Latar belakang keluarga dan ekonomi tak menghalangi Firna Larasanti meraih pendidikan setinggi-tingginya. Lahir dari keluarga yang pas-pasan, mimpi Firna untuk menempuh pendidikan tinggi tak putus.

Firna bercerita, sejak kecil, dia sekeluarga terbiasa hidup mengontrak di sebuah kamar kecil. Dia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

" Hingga pada tahun 2006 kami diperkenankan untuk mendirikan sebuah gubug kecil dengan status di atas tanah milik pemerintah Kota Semarang," kata Firna, diakses Dream dari laman LPDP, Kamis, 25 Januari 2018.

Meski begitu, Firna mengaku bersyukur dengan kondisi keluarganya.

 

4 dari 7 halaman

Orang Tua Pantang Menyerah

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibu dan bapak Firna memiliki beragam profesi. Dari berjualan nasi goreng keliling, menjadi buruh bangunan, buruh tani, dan terkadang memulung sampah.

Ibu, kata Firna, menambal kekurangan kebutuhan hidup dengan menjadi pembangu, buruh cuci, dan membantu bapak mencari barang rongsokan.

Tetapi, di tengah segala keterbatasan ekonomi, bapak dan ibu Firna selalu meminta Firna, kakak dan adiknya untuk melanjutkan sekolah.

" Bapak dan ibu selalu yakin bahwa suatu saat pendidikan akan mengubah keadaan ini," ucap dia.

Jika tak ada uang untuk menghidupi keluarga dan membayar uang sekolah, bos rongsokan kerap meminjami uang. Tetapi, jika tidak ada, bapak Firna akan jalan kaki dari daerah satu ke daerah lain mencari barang-barang bekas milik orang lain.

 

5 dari 7 halaman

Adik Sakit

Firna bercerita, ketika sekolah di SMP, dia dan kakaknya, turut membantu mengelupasi botol bekas. Memilah buku bekas di rumah sang bos rongsokan.

" Memang hasilnya tidak seberapa, hanya Rp1000 rupiah per hari, tetapi ibu melatih mental saya agar menjadi anak yang mandiri, kuat, dan bisa berwirausaha suatu saat nanti," ucap dia.

Usai mendapat ijazah SMP, Firna bercerita, sempat hampir tak dapat melanjutkan SMA. Dia ingat, selepas lulus SMP, sang kakak sempat berhenti setahun karena ketiadaan biaya.

" Apalagi saat itu adik kami didiagnosa terkena flek paru yang mengharuskan meminum obat selama enam bulan penuh," kata dia.

 

6 dari 7 halaman

Gaji Rp20 Ribu

Terkadang berhari-hari Firna sekeluarga menahan lapar dan berpuasa untuk membayar cicilan utang.

Untungnya, ketika SMA, Firna dapat pekerjaan sampingan di toko kelontong kecil. Meskipun hanya digaji, Rp20 ribu per bulan, orang tuanya tetap mengingatkan unjuk menjaga sekolah.

Hingga pada suatu hari, impian Firna mulai muncul. Saat memilah barang rongsokan, dia menemukan buku SNMPTN berwarna biru.

" Ingin rasanya saya mencoba mendaftar kuliah. Saya memberanikan diri mengatakan kepada bapak dan ibu, namun bapak dan ibu hanya diam saat itu," kata dia.

 

7 dari 7 halaman

Lolos di Perguruan Tinggi di Selandia Baru

Firna mencoba mendaftar beberapa beasiswa agar bekesempatan melanjutkan perguruan tinggi. Tetapi, pada saat itu Firna dinyatakan tidak lolos pada tes SNMPTN, Ujian Mandiri 1 Unnes, Ujian Mandiri 2 Unnes dan Ujian Mandiri Universitas Diponegoro.

" Saya sempat berputus asa dan menganggap bahwa sebaiknya saya mengubur mimpi saya dalam-dalam untuk kuliah," kata dia.

" Hingga di tengah keputusasaan saya, Bapak memberikan koran bekas yang berisikan bahwa Unnes masih membuka pendaftaran tahap terakhir dan disediakan progam beasiswa Bidikmisi. Saya pun berusaha kembali dan akhirnya saya di nyatakan lolos, meski sebagai cadangan," ucap dia.

Saat diterima di Unnes Semarang, Firna dikenai uang pangkal sebesar Rp7.150.000. Sebagai kompensasi, dia bekerja mulai dari buruh pasar hingga babysitter.

Berbagai perjuangan itu pun akhirnya terlunasi. Dia lulus kuliah. Pada November 2016, dia mencoba mengikuti tes LPDP di Yogyakarta.

" Ibu setia menemani saat itu, meskipun kami hanya tidur disebuah mushola kecil," ucap dia.

10 Desember 2016, rasa bahagia itu datang, Firna dinyatakan lolos seleksi beasiswa LPDP. Dia dinyatakan lolos beasiswa LPDP diterima dengan syarat di University of Otago dan University of Auckland.

Kerja keras dan doa keluarga itu terbayar. 

Beri Komentar