Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Belum lagi jenak duduk, mata Sularjo terbelalak. Saban hari bekerja sebagai pegawai rendahan di perkebunan Kalimantan, sungguh tak mengira wajah putranya muncul dalam layar monitor besar di panggung megah. Ribuan pasang mata yang hadir di Gedung Widya Wisuda, Institut Pertanian Bogor (IPB), bisa menatap senyum putra Sularjo.
Hari itu, Rabu 3 Juni 2015, hati Sularjo dirubung bahagia. Susah payah berpeluh keringat di kebun karet mengongkosi anak sekolah, dan hari itulah puncaknya: menyaksikan sang anak duduk di barisan depan. Tempat 'sakral' bagi wisudawan dan wisudawati paling wahid.
Pararawendy Indarjo, nama si anak kedua dari tiga bersaudara itu. Ia tampak gusar duduk di depan para petinggi kampus IPB. Makin kikuk ketika kamera menyorot wajahnya.
Sesekali Parara menoleh ke belakang. Celingukan ke arah tamu undangan, mencari-cari sesuatu. Rupanya ia mencari keberadaan orangtuanya. Ketemu. Sularjo dan Asih Indarti, istrinya yang berbaju batik duduk di tribun utama, sedang menatap serius layar di tengah panggung. Parara mulai tenang.
Tepat pukul 09.00 WIB prosesi wisuda dimulai. Keriuhan gedung berganti senyap, saat sang rektor, Profesor Herry Suhardiyanto menapaki panggung menuju podium. Ia memberikan pidato sambutan dan memberikan pengumuman siapa wisudawan terbaik dalam wisuda kali ini. Semua berdebar menunggu. Penasaran.
" Jatuh pada mahasiswa sarjana Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ialah Pararawendy Indarjo dengan predikat cum laude dan IPK 4,00 dengan masa studi 44 bulan,” kata Herry diikuti tepuk tangan panjang membahana.
Layar besar itu kembali memperlihatkan wajah Parara yang memerah disorot kamera. Tersenyum sambil menahan tangis haru. Dari sudut lain, Sularjo dan istrinya sungguh terkejut. Mereka tak mampu menahan haru. Nama putranya menggema di dalam gedung berkubah biru itu.
Air mata sang ibu tumpah. Menangis sesenggukan. Bahagia. Parara menyaksikan itu di atas panggung saat mendapatkan ucapan dari sang rektor.
" Saya menahan tangis. Malu kena sorot kamera. Kalau duduk di belakang saya menangis," kata Parara dengan nada bergetar mengingat momen itu saat berbicang dengan reporter Dream, Maulana Kautsar, di Masjid Kampus Al Hurriyyah IPB, Bogor, Minggu kemarin.
Terlahir dari keluarga transmigran serba pas-pasan, tidak mengendurkan semangat pemuda kelahiran Sampit, 24 Januari 1994, mengukir prestasi.
Ia sukses membuat wajah mahasiwa lain tertunduk. Menaruh salut. Nilai IPK-nya sempurna. Sebanyak 53 mata kuliah yang diikutinya semua mendapat nilai sempurna, A. Luar biasa!
Belum selesai.....
© Dream
Banyak Orang Tercengang
Usai acara, pemuda bertubuh ceking dengan kumis tipis itu langsung disambut pelukan dari Sularjo dan Asih. Sang ayah rupanya tak mampu menahan tangis. Pipinya bercucuran air mata saat mencium kening Parara. Bangga.
Di luar gedung wisuda, sebuah kejutan telah disiapkan oleh teman-teman seangkatan Parara. Mereka membawa becak sambil membentangkan spanduk ucapan selamat.
Tak henti-hentinya mereka berteriak yel-yel; " Parara Anak Matematika, Ipk 4, Siapa berani lawan!" , " Becaknya siapa nih?” tanya Parara kaget. " Ya buat lo, ayo digenjot.
Ayah sama ibu jadi penumpang," seloroh salah satu kawannya.
Parara tersadar. Becak itu disiapkan sahabatnya menjadi simbol. Lambang bakti anak kepada orangtua. Dikayuhlah becak itu pelan dari Gedung Wisuda hingga Fakultas MIPA. Jaraknya sekitar 500 meter.
Parara memang berbeda dan memiliki keistimewaan dibandingkan kakaknya, Drio Balanopia serta adiknya, Akbar Indarjo. Ia sudah pintar sejak kecil. Meski ketiganya memiliki prestasi serupa, selalu meraih rangking satu di sekolah.
Awalnya orangtua tidak menyangka Parara dengan kehidupan kurang mampu, serta sudah tiga setengah tahun tidak bisa pulang ke Sampit karena faktor biaya ini, menjadi lulusan terbaik di IPB.
Kecerdasan yang ditunjukkan Pararawendy sempat membuat keluarga tercengang. Yaitu ketika sang ibu mengajaknya diskusi kecil berapa biaya yang harus dikeluarkan apabila ingin mudik ke Jawa.
Satu keluarga, baik kakak dan adiknya hanya bisa terdiam saja, sedangkan Parara kecil mampu menghitung baik dari kisaran perjalanan tiket tiga orang pulang pergi serta biaya perjalanan dengan hitungan yang sesuai dan sangat akurat.
© Dream
Rahasia Parara
Di Sampit, Parara sebelumnya menempuh pendidikan di SDN 2 Mentawa Baru Hilir, kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Sampit. Setelah tampat SLTP, dia memilih SMAN 1 Sampit sebagai tempat menuntut ilmu.
Tamat SMA, dia mencoba nasib ke IPB, lewat Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dengan fasilitas Beasiswa Bidikmisi.
Ayah Papara hanya bekerja sebagai pegawai rendahan di perusahaan perkebunan, bertugas membersihkan semak di kebun milik Perhutani. Penghasilnya per bulan cuma Rp 1,5 juta. Jelas tak cukup buat biaya kuliah Parara. Sedangkan sang bunda, cuma ibu rumah tangga.
" Untung dapat beasiswa Bidikmisi. Jadi nggak membayar biaya per semesternya. Cuma waktu awal dikenakan uang pembangunan 9,6 juta. Saya minta keringan. Jadi cuma kena Rp 5 juta. Buat bayar itu tabungan ibu sampe ludes," kata pemuda yang mengidolakan matematikawan Carl Fredich Gauss.
Agar tak terus membebani keluarga, untuk biaya hidup selama kuliah, ia mencari penghasilan tambahan menjadi pengajar privat mata pelajaran matematika bagi mahasiswa di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB.
Dari mengajar, Parara bisa mendapatkan Rp 2,5 juta setiap semester. Uang itu digunakan untuk membayar sewa kos di belakang rumah dosen IPB. Sisanya dipakai buat makan dan kebutuhan harian lainnya.
Hidup serba prihatin di tanah rantau tak jadi penghalang baginya mengukir prestasi. " Pengorbanan ibu dan bapak adalah sumber motivasi. Tinggal mau apa enggak. Alhamdulillah mas, saya bisa membuat bangga orangtua. Insya Allah berusaha mengangkat derajat mereka," kata Parara yang kini berkerja di sebuah Asuransi BUMN, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Hasilnya? semasa kuliah ia tak pernah absen menjadi juara. Mulai dari Juara 1 Gumatika Calculus Cup, Juara 2 Lomba Debat Nasionalisme Fateta se-IPB tahun 2012, Juara II Kompetisi Statistika Dasar Statistika Ria tahun 2013, Mahasiswa Berprestasi Departemen Matematika IPB, Juara 2 Danone Young Socio Entrepreneur dan Juara 2 Kompetisi Essay Nasional Statistika Ria.
" Kalau belajar saya tidak pernah diforsir, tapi berkelanjutan. Dan intensitansnya dibedakan. Antara besok, mata kuliah yang ada kuis dan yang enggak," ujar Parara.
Berbekal doa dari kedua orangtuanya, Parara yang bermimpi menjadi birokrat dari kalangan profesional ini berharap dapat melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.
Lewat tempat kerjanya sekarang, yang setiap tahun menyekolahkan karyawan ke luar negeri. Parara berusaha mendapatkan kesempatan itu, melanjutkan studi di Australia National University (ANU).
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya