Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pexels)
Dream – Pandemi Covid-19 telah menjadi momok menakutkan dalam kehidupan selama beberapa bulan terakhir. Virus ini telah melanda sebagian besar negara di seluruh dunia. Pembatasan wilayah pun menjadi salah satu cara untuk menghentikan penyebarannya.
Berbagai upaya telah dilakukan. Dan vaksin adalah salah satu harapan terbesar untuk menghentikan virus Covid-19. Agar kehidupan dapat segera kembali normal.
Saat ini, terdapat beberapa vaksin yang mulai dikembangkan. Bahkan telah mencapai tahap-tahap terakhir sebelum akhirnya sempurna untuk diproduksi secara massal. Seperti vaksin yang dikembangkan oleh Jenner Institute di Oxford University.
Vaksin yang disebut sebagai ChAdOx1, dikembangkan oleh peneliti Oxford, Dr Sarah Gilbert dan timnya. Hasilnya pun cukup menjanjikan. Sarah pun mengklaim bahwa vaksin yang tengah ia kembangkan memiliki kemungkinan hingga 80 persen. Dan akan aman melindungi orang-orang dari Covid-19.

Namun, setiap kali mendengar adanya vaksin baru, justru menimbulkan kekhawatiran lainnya. Seperti para relawan potensial yang secara sukarela mengikuti uji vaksin tersebut.
Karena dugaan bahwa vaksin yang diujikan belum tentu berhasil, menjadi sebuah ketidaknyaman tersendiri bagi para relawan tersebut.
Tetapi Sarah sangat yakin dengan keselamatan para relawan. Bahkan ketiga anaknya memutuskan untuk turut serta, dalam proses pengujian vaksin tersebut.
Ketiga anak kembarnya, yang masing-masing berusia 21 tahun, juga mempelajari tentang biokimia dan memutuskan untuk ikut dalam tahap uji coba vaksin.
“ Kami tidak benar-benar mendiskusikannya karena saya tidak banyak berada di rumah saat itu. Kami tahu dosis yang harus digunakan karena kami telah melakukan ini berkali-kali sebelumnya. Dan, kami tidak khawatir,” ungkap Dr Sarah.
Ia juga menekankan bahwa prioritas saat ini adalah seberapa cepat vaksin dapat diberikan kepada masyarakat. Ia juga mengatakan bahwa anak-anaknya dalam keadaan aman dan mereka berhasil menyelesaikan tahapan uji coba tanpa adanya efek samping.
(Sumber: indiatimes.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya