Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Freepik)
Dream – Pencarian vaksin Covid-19 terus menemukan titik terang. Beberapa vaksin yang diuji coba menunjukan hasil positif dan tak berefek samping pada tubuh relawan. Namun upaya mencegah terinfeksi corona tetap harus dilakukan dengan menerapkan protokol 3m yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak.
Di lain pihak, para ilmuan dan peneliti terus menerus mencari tahu bagaimana virus Covid-19 bekerja. Dalam sebuah penelitian dari Lancet Journal menyebutkan seorang mantan pasien Covid-19 masih mempunya kemungkinan kembali tertular virus yang sama.
Peneliti juga berusaha mengungkap berapa lama antibodi seseorang dapat bertahan setelah terinfeksi.
Meskipun kasus ini masih jarang terjadi, namun kemungkinan terjadinya infeksi kedua kali pada pasien Covid-19 yang sudah sembuh dapat dianggap remeh.

Kasus pertama yang dikonfirmasi terkait infeksi ulang dari pasien covid-19 ditemukan di AS. Pasien tersebut berasal dari Nevada dan tertular dua jenis virus SARS-CoV-2 yang berbeda dalam rentang waktu 48 hari.
Kasus tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai berapa lama antibodi dapat bertahan sebagai pelindung dari covid-19.
Para peneliti menyebutkan selama pengulangan infeksi, gejala yang dialami akan semakin parah. Bahkan hingga membutuhkan oksigen sebagai alat pernapasan.

Kasus ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran. Namun juga berdampak pada vaksin yang tengah dikembangkan. Terlebih dengan adanya gejala yang lebih parah setelah terinfeksi kembali.
Para peneliti berspekulasi gejala parah yang ditimbulkan disebabkan adanya hubungan dengan seberapa ganas virus tersebut dan seberapa banyak viral load yang ditemui orang itu untuk kedua kalinya.
“ Kemungkinan infeksi ulang dapat memiliki dampak signifikan bagi pemahaman kita terkait kekebalan covid-19. Terutama jika belum ditemukan vaksin yang efektif. Kami masih membutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami mengapa beberapa dari infeksi kedua ini, meski jarang muncul namun ketika terinfeksi kembali justru menimulkan gejala yang lebih parah,” ungkap penulis utama studi, Mark Pandori.
(Sumber: timesofindia.indiatimes.com)
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam