5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Ilustrasi Mobil Listrik. (Foto: Shutterstock)
Dream – Hyundai, produsen otomotif asal Korea Selatan siap membawa dana investasi senilai US$1 miliar (Rp14,12 triliun) ke Indonesia. Hyundai rencananya ingin membangun pabrik mobil listrik di Tanah Air.
Rencana itu diungkapkan Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan saat bertemu manajemen Hyundai.
“ Saya tanya, sambil makan, berapa kau punya investasi. (Dia bilang), ‘Saya bawa US$1 billion, bisa lebih tergantung kapasitas,” kata Luhut di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Selasa 15 Januari 2019.
Rencananya, lanjut Luhut, pabrik mobil listrik tersebut akan dibangun di kawasan industri Bekasi, Karawang, atau Purwakarta. Dia berharap kehadiran Hyundai akan melahirkan industri mobil listrik dari hulu sampai hilir.
" Lokasi kita sedang lihat. Bekasi-Karawang-Purwakarta," kata dia.
Untuk saat ini rencana investasi Hyundai di Indonesia baru sebatas pembicaraan. Dalam waktu dekat Hyundai akan mengirimkan timnya untuk membahas terkait pengembangan industri mobil listrik.
" Saya sudah ketemu akhir tahun kemarin bulan Desember awal di Seoul. Nanti akhir bulan ini, Tim Hyundai, akan ke sini untuk bicara," kata dia.
Selain mobil listrik, pemerintah pun terus mendorong pengembangan bahan baku baterai lithium yang menjadi salah satu komponen penting kendaraan listrik di dalam negeri.
Diketahui pabrik bahan baku baterai lithium untuk mobil listrik sendiri sedang dalam proses dibangun di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah. Pabrik milik PT QMB New Energy Materials tersebut ditargetkan selesai dalam 16 bulan ke depan sehingga dapat beroperasi pada pertengahan 2020.(Sah)
Dream – Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengakui pengembangan kendaraan ramah emisi, low carbon emission vehicle (LCEV), di Tanah Air masih menghadapi banyak tantangan. Tak hanya soal teknologi, kendala itu adalah sosialisasi kepada publik.
Pemerintah memang bertekad mengembangkan pemanfaatan teknologi otomotif yang ramah lingkungan. Hal ini tidak terlepas dari komitmen pemerintah untuk menurunkan gas emisi rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030.
Dikutip Dream dari Merdeka.com, Selasa 6 November 2018, Airlangga Hartarto, menjelaskan pengembangan mobil ini mengalami mulai dari kenyamanan berkendara oleh para pengguna, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, adopsi teknologi dan regulasi.
" Juga termasuk dukungan kebijakan fiskal agar kendaraan electrified vehicle dapat dimanfaatkan oleh para masyarakat pengguna tanpa harus dibebani biaya tambahan yang tinggi,” kata Airlangga.
Kementerian Perindustrian selama ini terus berupaya menggandeng produsen otomotif dan perguruan tinggi untuk membuat riset bersama dan sosialisasi penggunaan kendaraan listrik.
“ Hasilnya diharapkan dapat memberikan pemahaman yang sama tentang gambaran kondisi kendaraan rendah karbon,” kata Airlangga.
Di bidang fiskal, Airlangga mengatakan pemerintah mendorong pengembangan mobil listrik dengan pemberian insentif pembebasan pajak atau tax holiday.
Selain itu, pemerintah juga akan memberi penurunan tarif pajak penjualan barang mewah (PPnBM) bagi industri yang memproduksi yang memproduksi komponen mobil listrik di dalam negeri.
" Kemudian juga mengatur tentang pemberian fasilitas fiskal seperti Bea Masuk Ditanggung Pemerintah," kata dia.
Airlangga mengatakan upaya-upaya itu dilakukan mengingat sektor industri otomotif menjadi salah satu andalan dalam roadmap Making Indonesia 4.0. Dia berharap upaya ini bisa menjadi basis produksi kendaraan bermotor, baik internal combustion engine (ICE) maupun electrified vehicle (EV).
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?