Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Kelelahan
Dream - Padatnya aktivitas bisa membuat tubuh kelelahan. Untuk mengatasinya, istirahat adalah hal paling efektif dilakukan untuk meredakan lelah dan letih.
Tapi bila usai istirahat rasa lelah tak kunjung hilang dan terjadi terus menerus, Sahabat Dream harus waspada.
Gejala itu bisa jadi pertanda penyakit serius. Rasa lelah bisa mengindikasikan bahwa organ tubuh bekerja terlalu keras. Pada kasus Fatigue Syndrome (Sindrom Kelelahan), 20 persennya disebabkan oleh aritmia.
" Aritmia merupakan gangguan produksi atau penjalaran impuls pada otot jantung. Hal ini meyebabkan jantung bekerja terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga menimbulkan rasa lelah," ujar dokter Dicky Hanafy, spesialis jantung dan pembuluh darah di Palmerah, Jakarta Barat, Rabu 24 Januari 2018.
Pada aritmia jenis Bradiaritmia, laju jantung bekerja terlalu lambat di bawah 60 denyut per menit. Sementara jenis Takiaritmia menyebabkan jantung bekerja terlalu cepat hingga lebih dari 100 denyut per menit.
Dokter Dicky menyebutkan, salah satu kasus aritmia yang paling sering terjadi adalah Fibrilasi Atrium (FA). Gangguan impuls ini bisa memicu penyakit yang lebih serius seperti stroke.
" Pada penderita FA, pasien akan mengalami risiko stroke 5 kali lebih tinggi. Ironisnya, sebagian besar pasien tidak mengalami keluhan. Padahal 80 persen diantaranya sering mengalami kelelahan," ujarnya.
Sahabat Dream yang sering mengalami kelelahan harus lebih waspada. Aritmia biasanya juga disertai dengan jantung berdebar, denyut nadi tidak teratur, sensasi pusing hingga pingsan.
" Sebaiknya rutin meraba nadi sendiri setiap pagi hari. Normalnya berkisar antara 60-90 denyut per menit. Apabila dirasa tidak normal dan disertai dengan gejala lain, harus segera cek ke dokter," Dicky menegaskan.
Aritmia bisa diatasi dengan obat antikoagulan untuk mencegah penggumpalan darah. Beberapa elektroterapi seperti ablasi dan pemasangan alat pacu jantung juga bisa digunakan untuk menangani aritmia.
Namun saat ini, dokter ahli aritmia di Indonesia hanya berkisar 25 orang. Oleh karena itu sangat penting untuk melakukan deteksi secara mandiri sebelum berlanjut menjadi penyakit serius.
(ism, Laporan Annisa Mutiara)
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya