Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Dream - Para ilmuwan sebenarnya hampir saja bisa menciptakan vaksin untuk melawan berbagai jenis virus corona, mulai dari SARS, MERS, dan bahkan mungkin COVID-19 bertahun-tahun yang lalu.
Tapi sayang, akibat kurangnya pendanaan, proyek yang salah salah satu koordinatornya adalah ilmuwan Amerika bernama Dr. Peter Hotez itu terpaksa dihentikan.
Dilansir NBC News, setelah bertahun-tahun melakukan penelitian, Dr Hotez dan tim ilmuwannya di Texas telah berhasil mengembangkan vaksin untuk melawan virus corona yang dianggap turunan dari MERS dan SARS. Sayangnya, mereka tidak punya cukup dana untuk melakukan uji coba vaksin tersebut terhadap manusia.
Tapi itu adalah cerita pada tahun 2016 yang lalu. Lebih dari satu dekade sejak virus corona yang dikenal sebagai Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) telah menyebar ke seluruh China hingga menewaskan lebih dari 770 orang pada tahun 2002.
Virus yang merupakan nenek moyang COVID-19 yang sekarang menghantui dunia saat ini hanya menjadi kenangan bagi Dr Hotez dan timnya. Saat itu mereka berusaha mencari dana untuk menguji apakah vaksin mereka bisa bekerja pada manusia.
" Kami sudah berusaha keras untuk mendapatkan investor atau dana hibah untuk membuatnya bisa diproduksi massal dan dipakai di klinik-klinik. Tapi rupanya banyak yang tidak tertarik untuk melakukannya," ujar Dr Hotez, direktur Center for Vaccine Development di Rumah Sakit Anak Texas dan dekan di National School of Tropical Medicine di Baylor College of Medicine, Houston.
Bagi Dr Hotez dan timnya, upaya mereka itu seperti sebuah peluang besar yang sayang sekali dilewatkan. Menurut Dr Hotez, kasus SARS dan MERS seharusnya sudah memicu pemerintah dan perusahaan farmasi global untuk mengucurkan investasi besar dalam mengembangkan vaksin untuk mengantisipasi epidemi di masa depan.
Hingga sekarang, vaksin SARS yang diciptakan tim ilmuwan Dr Hotez melalui kolaborasi dengan ilmuwan di University of Texas Medical Branch di Galveston hanya bisa teronggok di lemari pendingin. Vaksin tersebut masih jauh untuk bisa diproduksi secara komersial sejak empat tahun yang lalu.
Dr Hotez mengatakan timnya sudah siap jika proyek pembuatan vaksin diaktifkan kembali untuk mengatasi virus COVID-19 yang memang masih kerabat dengan SARS dan MERS.
" Kami sebenarnya bisa menyiapkan dan menguji keberhasilannya (vaksin) saat awal wabah corona baru muncul di China. Saya yakin vaksin kami dapat memberikan perlindungan yang sama terhadap virus corona baru (COVID-19), yang menyebabkan penyakit pernapasan," ujarnya.
" Sayangnya, hingga saat ini masih ada masalah dengan ekosistem pengembangan vaksin, dan kita harus segera memperbaikinya," tambahnya.
Dr Hotez bahkan sudah mengirim surat ke Kongres Amerika Serikat saat berbicara di depan dewan komite Science, Space and Technology.
Dia berpendapat bahwa virus COVID-19 harus memicu perubahan dalam cara pemerintah mendanai pengembangan vaksin. " Sungguh tragis kita tidak memiliki vaksin yang siap untuk mengatasi epidemi ini," katanya.
Sementara itu James LeDuc, direktur Galveston National Laboratory, mengatakan saat ini mereka telah melanjutkan vaksin SARS yang sebelumnya dikembangkan bersama tim Dr Hotez.
Laboratorium yang terletak di Pantai Teluk Texas itu telah menerima sampel hidup virus corona baru COVID-19 pada bulan lalu dan akan menguji vaksinnya pada tikus.
Sayangnya, laboratorium harus membiakkan koloni tikus yang direkayasa secara genetis agar bisa meniru penyakit manusia. Sebuah proses yang menurut LeDuc akan memakan waktu berbulan-bulan.
Dr Hotez berharap seriusnya wabah COVID-19 menyadarkan pemerintah dan perusahaan farmasi dalam mendanai pengembangan vaksin di masa mendatang. Dia mengingatkan harga yang harus dibayar dalam bidang ekonomi akan lebih tinggi dibandingkan dana yang digunakan untuk mengembangkan vaksin.
" Taruhannya sangat tinggi. Jumlah uang yang kalian keluarkan untuk mendanai riset ini masih terbilang kecil (dibandingkan dampaknya bagi ekonomi)," tulis Dr Hotez di akhir suratnya kepada Kongres AS.
Sumber: NBC News
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya