3.000 Simpatisan ISIS di Wilayah Kekuasaan Terakhir Menyerah

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 14 Maret 2019 18:03
3.000 Simpatisan ISIS di Wilayah Kekuasaan Terakhir Menyerah
Kondisi kamp pengungsi semakin padat.

Dream - Pejuang Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menyebut, sebanyak 3.000 orang yang bergabung dengan ISIS menyerah dan keluar dari Baghouz, timur Suriah.

Dilaporkan Al Jazeera, Anggota SDF, Mustafa Bali mengatakan, para militan Suriah itu keluar melalui koridor kemanusiaan yang didirikan warga Kurdi. Diantara ribuan orang yang menyerah pada 5 Maret 2019 tersebut, merupakan tentara militan ISIS.

Proses penyerahan diri bermula saat pasukan SDF mengepung wilyah Baghouz yang dihuni simpatisan ISIS. Wilayah Baghouz disebut sebagai wilayah terakhir yang dikuasai ISIS.

Meski begitu, aktivis setempat menyebut masih ada ratusan pejuang dan warga ISIS yang berada di wilayah Baghouz.

Sejak 20 Februari 2019, lebih dari 10.000 orang telah meninggalkan kantong persembunyian ISIS. Banyak diantara yang menyerahkan diri yaitu perempuan dan anak-anak.

Para perempuan dan anak-anak tersebut dibawa ke sebuah lokasi pengungsi untuk orang-orang terlantar di wilayah utara Suriah. Sementara itu, para tentara dimasukkan ke fasilitas penahanan.

Seorang pejabat Komite Internasional untuk Palang Merah, Robert Mardini, mengatakan, bahwa populasi di kamp pengunsi telah meningkat drastis.

Pada awal Desember tercatat 34.000 orang, menjadi 45.000. Dia mengatakan, beberapa ribu orang terutama wanita dan anak-anak tiba setiap hari jumlah itu " terus bertambah" .

Mardini mengatakan mereka yang keluar dari Baghouz menderita " sakit, terluka, lelah, dan takut" .

1 dari 2 halaman

Nekat Perangi ISIS Berbekal Kelihaian Main Game Call of Duty

Dream - Seorang pemuda yang gemar bermain gim komputer, John Duttenhofer, pergi ke Suriah untuk berperang melawan kelompok ISIS. John bergabung bersama militan Yekineyen Parastina Gel (YPG) atau Unit Proteksi Orang.

Uniknya, John tak punya latar belakang militer. John nekat pergi ke Suriah berbekal gim perang Call of Duty yang dia mainkan setiap hari.

John mengaku, menghabiskan bermain gim Call of Duty selama 13 jam sehari. Dari gim tersebut dia belajar menghadapi pertempuran dan menyergap lawan.

" Saya mempersiapkan diri mengenai strategi perang dan cara agar tidak terbunuh, seperti cara menggunakan anti peluru dan tidak berdiri di tempat terbuka," kata John dikutip dari The Stars, Kamis 28 Februari 2019.

 John Duttenhofer belajar strategi perang dari gim

John Duttenhofer belajar strategi perang dari gim (Foto: Twitter)

John menghabiskan waktu bermain gim setelah sekolah. " Dalam gim kamu akan tertembak dan kamu dengan cepat belajar jika kamu terbunuh, tetapi dalam kehidupan nyata kamu hanya mati," ujar dia.

John mengatakan, meski telah di zona perang tetap menyisihkan waktu bermain gim. Dia menghabiskan siang untuk bermain Dungeons and Dragos, membaca, dan ngobrol.

2 dari 2 halaman

Kembali ke AS karena...

Tetapi pada malam hari, pemuda asal Colorado, Amerika Serikat (AS) itu akan menemani unit penembak jitu dengan AK47 untuk melacak pejuang ISIS.

Pemerintah AS sebetulnya telah menyarankan warganya untuk tidak ke Suriah. AS juga menyebut, tidak ada konsekuensi hukum untuk menjadi sukarelawan memerangi ISIS dengan milisi Kurdi dan Suriah.

“ Saya tidak memiliki masalah tentang itu. Mereka (ISIS) adalah kelompok yang lebih buruk daripada Nazi. Mereka ingin menjalani zaman kegelapan lagi dan aku tidak ingin hidup di dunia bersama mereka," ujar dia.

John kembali ke kampung halamannya pada Februari 2019. Dia kembali empat bulan setelah sahabatnya warga Inggirs tewas pada Oktober 2018.

Beri Komentar
Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik