Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Pengumuman Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Foto: Twitter @Kratonjogja)
Dream - Situasi pandemi Covid-19 berdampak pada pelaksanaan tradisi Grebeg Maulud yang biasa digelar Kraton Yogyakarta. Acara menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW biasanya ditandai dengan keluarnya gunungan yang akan diperebutkan warga sekitar.
Melalui unggahan akun Twitter resmi @kratonjogja, diberitahukan bahwa tahun ini pihak Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak akan melaksanakan secara terbuka Garabeg Mulud Tahun Jimakir 1954/2020 yang harusnya diadakan pada pagi ini Kamis, 29 Oktober 2020.
Meski tidak diadakan secara ramai dan terbuka seperti tahun-tahun sebelumnya, Kraton Jogja tetap melakukan penyesuaian prosesi. Gunungan tetap dibuat tapi dibagikan secara terbatas tanpa mengurangi esensi dan filosofi Garabeg sebagai bentuk konsistensi pelestarian budaya.
Sebagai informasi, tiap tahun Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki serangkaian acara untuk merayakan Gunungan Mulud. Gunungan Mulud sendiri merupakan simbol raya syukur dan sedekah dari raja kepada rakyatnya.
" Setiap peringatan Maulid Nabi, Keraton Yogyakarta menggelar serangkaian agenda yang mencakup Miyos Gangsa, Kondur Gangsa dan Garebeg Mulud," tulis akun Twitter @kratonjogja, Kamis 29 Oktober 2020.
Untuk acara pelaksanaan tahun ini, dilakukan dengan rayahan Gunungan di tiga tempat yakni Kagungan Dalem Masjid Gedhe, Kepatihan, dan Puro Pakualaman.
Prosesi pembagian Ubarampe Gunungan dipimpin oleh KPHNotonegoro, nampak hadir pula KPH Yudonegoro, KPH Suryahadiningrat dan KPH Yudhahadiningrat dalam acara tersebut, menurut laporan langsung Twitter @Kratonjogja.
Setelah upacara pembukaan selesai, Garabeg Maulud akan diantar ke Kadipaten Puri Pakualaman dan Kepatihan Yogyakarta.
Uborampe Gunungan Gerebeb Mulud kali ini berisi Rengginang dan upil-upilan beraneka warna, yakni putih, hijau, merah, kuning, dan hitam.


Selain pembagian Uborampe Gunungan, sebagai bentuk sedekah raja dibagikan juga udhik-udhik yang berisi uang koin, bunga dan biji-bijian.

Acara kemudian ditutup dengan pembagian Uborampe Gunungan kepada media dan melakukan press conferences.

Sahabat, #GarebegMulud Tahun Jimakir 1954/2020 yang sedianya digelar pagi ini (29/10) ditiadakan#KratonJogja #infoKraton pic.twitter.com/fa9aNRCYao
— Kraton Jogja (@kratonjogja)October 29, 2020
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam