Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Liputan6.com)
Dream - Baru-baru ini viral sebuah video dari aliansi dokter dunia yang menyebut Covid-19 tidak nyata. Video ini, menurut sosok yang berbicara di dalamnya, dibuat pada 10 Oktober 2020.
Dalam video tersebut, beberapa dokter meyakini bahwa fakta yang diungkapkan selama ini soal data kapasitas rumah sakit dan hasil tes Covid-19 hanya dibuat-buat.
Menanggapi video itu, juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, memberikan klarifikasi dan menegaskan konten tersebut sebagai misinformasi.
" Saya juga ingin melakukan klarifikasi terhadap video pernyataan aliansi dokter dokter dunia tentang Covid-19. Penting untuk diketahui bahwa konten yang disebarkan oleh kelompok aliansi dokter dunia masuk ke dalam kategori misinformasi," tegas Wiku dalam siaran pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Selasa, 27 Oktober 2020.

Wiku menyebut ada tiga bentuk disinformasi terkait Covid-19.
" Pertama, misinformasi terhadap keyakinan yang bersifat umum. Ke dua, keyakinan terhadap teori konspirasi. Ke tiga, keyakinan dari agama," ujarnya.
Konten informasi dalam video Aliansi Dokter Dunia dapat diidentifikasikan sebagai misinformasi yang muncul dengan menyamakan Covid-19 dengan influenza.
" Penting untuk diketahui, penyebab dinamika transmisi dan akibat dari kedua penyakit tersebut sangat berbeda. Satgas Covid-19 mengingatkan kepada masyarakat, misinformasi dapat memengaruhi respons seseorang terhadap suatu informasi," jelas Wiku.
Wiku menambahkan, masyarakat harus mengevaluasi kebenaran informasi yang diterima. Masyarakat diimbau mencari sumber informasi yang kredibel.
" Oleh karena itu, masyarakat harus mengevaluasi kredibilitas informasi yang diterima serta merujuk informasi tentang Covid-19 pada lembaga yang dapat dipercaya, seperti Badan Kesehatan Dunia (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC)," papar Wiku.
" Khusus di Indonesia, tentunya sumber terpercaya diperoleh dari Kementerian Kesehatan dan Satgas Penanganan Covid-19," imbuh dia
Untuk jurnalis dapat melakukan konfirmasi informasi kepada pengamat, bisa tokoh masyarakat atau tokoh terpandang serta memiliki akses terhadap data dan informasi yang valid.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya