Derita Ribuan Warga Konawe dan Samarinda, Banjir Saat Lebaran

Reporter : Dwi Ratih
Rabu, 12 Juni 2019 16:02
Derita Ribuan Warga Konawe dan Samarinda, Banjir Saat Lebaran
DMC merupakan Disaster Management Center.

Dream – Masyarakat Indonesia baru saja melalui hari kemenangan Idul Fitri 1440 H dan berkumpul dengan saudara di kampung halaman pada Rabu, 5 Juni 2019 kemarin.

Tapi di beberapa di wilayah Samarinda dan Konawe, Lebaran diwarnai dengan bencana alam. Terjadi banjir akibat intensitas curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.

Banjir menggenangi dua wilayah di Indonesia, Samarinda (Kalimantan Timur) dan Konawe (Sulawesi Tenggara). Sejak Sabtu, 1 Juni hingga Minggu, 9 Juni kemarin di Kabupaten Konawe Utara (Sulawesi Tenggara), sekitar 1.000 rumah terendam banjir, dan ribuan orang mengungsi sejak Jumat, 7 Juni.

Dompet Dhuafa merespon dengan cepat wilayah  Indonesia yang terkena bencana. Kami telah menurunkan tim Disaster Management Center (DMC) untuk membantu masyarakat yang terkena banjir baik di Konawe maupun di Samarinda,” ucap Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, drg Imam Rulyawan MARS pada Selasa, 11 Juni 2019 kemarin.

 Dompet Dhuafa

“ Untuk respons pertama, sementara ini selain evakuasi korban hingga assement wilayah terdampak. Di Samarinda, Dompet Dhuafa mendirikan dapur umum yang terletak di Jl. S. Parman, Samarinda hingga kini sudah 500 penerima manfaat yang terbantukan, selain hal itu Dompet Dhuafa melalui Tim Disaster Management Center (DMC) mendirikan pos sehat hingga distribusi bantuan menuju Konawe dan Samarinda sebagai respons tanggap bencana,” tambahnya.

Berdasarkan data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga Selasa kemarin, di Konawe Utara, sebanyak 4.089 orang mengungsi, jumlah ini terdiri dari 1054 kepala keluarga yang bermukim di enam kecamatan dan 58 rumah warga hanyut terseret arus dan 4.089 orang harus mengungsi.

Banjir juga disebabkan luapan sungai Lasolo dan rendahnya beberapa lokasi pemukiman warga di enam kecamatan yakni Kecamatan Andowia, Asera, Oheo, Langgikima, Landawe dan Wiwirano.

Akibat banjir, 28 Desa diperkirakan terisolasi karena akses jalan dan jembatan ke sejumlah Desa terputus.

Situasi yang tidak berbeda jauh juga melanda wilayah Samarinda, Kalimantan Timur,  akibat tidak dapat menahan  naiknya ketinggian air  mengakibatkan meluapnya Sungai Mahakam dan Sungai karang Mumus.

Ribuan rumah terdampak banjir hingga dua meter. Pemerintah Kota Samarinda melansir tidak kurang 10.300 jiwa terdampak dari peristiwa ini.

Saat ini status darurat banjir ditetapkan hingga sepekan ke depan.

Banjir juga  menggenangi dan meluas pemukiman yang terdapat di kelurahan Sidodadi yang berada di kecamatan Samarinda Ulu. Tidak kurang 10.000 jiwa terdampak banjir.

Selain permukiman dan rumah ibadah, banjir juga merendam instansi perkantoran di Jalan PM Noor. Di Gunung Lingai, 1.200 KK (kepala keluarga) atau sekitar 6.000 jiwa terdampak banjir.

Baik manula, balita, bayi, dievakuasi menggunakan perahu. Banjir merendam pemukiman wilayah Bengkuriang di Kecamatan Samarinda Utara,Gunung Lingai di Kecamatan Sungai Pinang sertaTemindung Permai juga di sungai pinang.

Data sementara keadaan banjir kota Samarinda pada Selasa, 11 Juni 2019 di beberapa titik seperti disekitaran Gatot Subroto, elang, S.Parman, Tantina, Jl. Camar dan Belatuk mengalami penaikkan debit air.

Dengan situasi Samarinda dilanda cuaca mendung dan hujan gerimis. Masih banyak warga memilih menetap dirumah masing-masing. (ism)

Beri Komentar
Belum Selesai, Pembangunan MRT Fase 2 Baru Dimulai