Demi Sekolah, Siswa Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Pakai Pipa

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 14 Januari 2020 10:00
Demi Sekolah, Siswa Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Pakai Pipa
Bertahan untuk meraih ilmu.

Dream - Perjalanan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan kerap menghadapi rintangan. Selain akses terhadap buku dan informasi, halangan lain yang muncul bisa berasal dari faktor eksternal seperti akses menuju ke sekolah.

Kondisi tersebut dialami sejumlah siswa di Kampung Muhang, Merudu, Sabah, Malaysia. Para siswa di kota tersebut perlu melakoni perjalanan berbahaya saat berangkat sekolah.

Para siswa melewati pipa besi yang di bawahnya dilewati sungai berarus deras. Informasi diunggah akun Twitter @RajaMohdShahrim.

Dilaporkan World of Buzz, para orang dewasa membantu anak-anak ini untuk melewati rintangan. Ada yang menggendong para siswa dan ada pula yang menjaga para siswa agar tak jatuh.

Dari foto yang diunggah, para siswa berumur masih belia. Para siswa terlihat pakaian olahraga atau rumah, membawa tas plastik, yang mungkin berisi seragam karena mereka khawatir akan kotor karena rute yang harus mereka ambil.

Setelah semua itu, mereka masih harus bertahan di sungai karena mereka harus turun pipa ke dalam air untuk menyeberang.

Foto itu diunggah juga untuk menyindir para wakil rakyat yang tinggal jauh dari konstituen mereka.

“ Ini adalah 'jembatan' yang digunakan siswa untuk pergi ke sekolah. Lokasi, Kampung Muhang, Kota Merudu. Siapa wakil rakyat untuk Merudu, bagaimana kalian tahu penderitaan rakyat, jika kalian tinggal di KL (Kuala Lumpur)," tulis si pemilik akun.

1 dari 5 halaman

Akan Segera Dibangun Jembatan

Dilaporkan Berita Harian, Departemen Pekerjaan Umum (JKR) dari Zona Utara Distrik Kudat berencana untuk membangun jembatan beton untuk menghubungkan satu-satunya rute di Kampung Muhang, di sini.

Insinyur dari Divisi Kawasan Utara JKR Distrik Kudat, Muji Ampau, mengatakan bahwa kabupaten tersebut akan memperbaiki dan meningkatkan jembatan tingkat bawah.

Dia mengatakan dua solusi tersebut untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi warga.

“ Setelah melihat foto-foto sekelompok warga dan siswa sekolah dasar yang menyebrangi Sungai Jambutan, saya segera mengirim pejabat JKR ke lokasi tersebut Jumat lalu. JKR akan mengusulkan proposal ini kepada otoritas yang lebih tinggi sesegera mungkin untuk mendapatkan persetujuan proyek, termasuk mengajukan proposal untuk dimasukkan dalam daftar Rencana 12 Malaysia (12MP)," kata Muji.

2 dari 5 halaman

Perjalanan Terakhir Siswi SD Pelintas Jembatan Gantung Menuju Sekolah

Dream - Anak-anak yang tinggal di pelosok biasanya mengalami masalah transportasi saat berangkat dan pulang sekolah.

Terkadang, mereka harus menempuh perjalanan yang menyusahkan dan memberatkan. Ada yang harus naik perahu, jalan melewati hutan, hingga menyeberang jembatan gantung.

Perjalanan demi menuntut ilmu tersebut terkadang tidak sebanding dengan keselamatan yang mengancam jiwa mereka.

Seperti insiden memilukan yang menimpa seorang murid SD berusia enam tahun asal Malaysia ini.

New Straits Times melaporkan, Angelliena Juilan mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari sekolahnya.

Gadis malang itu meninggal dunia setelah jatuh saat menyeberang jembatan gantung di Kampung Porotawoi di Tongod, Sabah.

3 dari 5 halaman

Hanyut 7 Meter dari Lokasi Jembatan

Pada tanggal 23 Juli 2019 siang waktu setempat, Angelliena menyeberang jembatan gantung saat pulang dari sekolah bersama teman-temannya.

Namun nahas. Ia terjatuh ketika terperosok lubang yang menganga di jembatan tua tersebut.

 Dia terperosok lubang di jembatan tua itu.© China Press

Tubuh kecilnya langsung menghujam deras ke dalam sungai di bawah jembatan gantung itu.

Warga kampung akhirnya bisa menemukan tubuh Angelliena setelah 45 menit berusaha mencarinya.

Gadis kecil itu ditemukan masih dengan tas sekolah di punggungya. Tubuh Angelliena hanyut setelah ditemukan mengapung 7 meter dari lokasi jembatan.

4 dari 5 halaman

Angelliena Jatuh Disaksikan Teman-temannya

Sementara itu, ayah korban, Juilan Razali, sedang bekerja saat istrinya memberitahu kejadian mengenaskan yang menimpa putri mereka.

Juilan mengatakan teman-teman putrinya menyaksikan bagaimana Angelliena terperosok lubang di jembatan hingga jatuh ke dalam sungai.

" Saya pun bergegas lari ke jembatan dan berusaha mencarinya. Tapi saya tidak menemukannya," kata pria 31 tahun itu.

Meski kehilangan Angelliena, Juilan dan keluarganya menerima dengan lapang dada. Mereka tidak mau menyalahkan siapa-siapa atas kejadian memilukan itu.

5 dari 5 halaman

Jadi Satu-satunya Akses ke Sekolah

Menurut Juilan, Angelliena dan teman-temannya sering menggunakan jembatan tersebut untuk pulang ke rumah dari sekolah.

Ibu Angelliena, Rosdianti Titi, mengatakan dirinya langsung lari ke arah sungai begitu mendengar apa yang sedang terjadi.

" Saat tiba di lokasi, Angelliena sudah tiada. Mereka menaruh jasadnya di atas perahu. Tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali pasrah. Membawanya ke klinik juga percuma," kata wanita 28 tahun itu.

Juilan dan Rosdianti memiliki dua anak lain. Salah satunya berusia sembilan tahun sedangkan yang lebih muda berusia delapan bulan.

(Sah, Sumber: World of Buzz)

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna