Beredar Video Mengerikan Kantong-kantong Jenazah Diduga Korban Corona

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 7 Februari 2020 12:01
Beredar Video Mengerikan Kantong-kantong Jenazah Diduga Korban Corona
Beberapa direkam secara diam-diam.

Dream - Video mengenai penanganan pasien dan kondisi rumah sakit di China terus beredar di media sosial. Bahkan sejumlah akun media sosial dari Indonesia turut menyebar video kondisi rumah sakit.

Salah satu akun yang turut menyebar video kondisi rumah sakit, yang diklaim di China, yaitu @makassar_iinfo.

Akun itu menampilkan keterangan, " Suasana mencekam sebuah rumah sakit di wuhan terekam kamera, mayat korban virus Corona tergeletak di lantai rumah sakit."

 video© Istimewa

Dalam video tersebut, tampak dua kantong mayat yang tergeletak di lantai rumah sakit. Sementara itu, di sudut ruangan lain, tampak dua mayat yang tergeletak di kursi ruang tunggu.

Bungkusan yang diduga mayat-mayat itu belum dievakuasi ke tempat yang layak.

Berdasarkan unggahan penulis blog, Jennifer Zeng, video itu dibuat direkam secara langsung di sebuah rumah sakit di Wuhan pada 4 Februari 2020.

" Disyuting langsung di sebuah rumah sakit di Wuhan pada 4 Februari 2020," tulis Jennifer di Twitter-nya. Kendati begitu, lanjut Jennifer, video itu masih perlu diklarifikasi detailnya.

1 dari 5 halaman

Video Lain Korban Meninggal Corona

Rekaman mengenai kondisi mayat di rumah sakit memicu reaksi dari otoritas China.

Seorang warganet yang diduga bernama Fang Bin dilaporkan melihat kondisi serupa dalam video rekaman tersebut. Dia juga melihat beberapa jenazah ditumpuk dan dibawa menggunakan mobil.

Bin bahkan merekam kejadian di rumah sakit. Termasuk para penderita virus Corona Wuhan terbaring di bangsal sebuah rumah sakit.

Dilaporkan Mirror, Bin merekam sejumlah petugas pakaian pelindung memasukkan kantong mayat ke dalam bus.

Usai aksinya merekam video, Bing dilaporkan dibawa petugas kembali ke flatnya. Bin kemudian diperiksa karena dikhawatirkan terinfeksi virus Corona.

Dilaporkan, beredarnya video semacam ini menambah beban pemerintah China untuk membuka informasi mengenai kondisi pasien yang terjangkit virus Corona Wuhan.

2 dari 5 halaman

Berikut video yang beredar:

      View this post on Instagram

Suasana Mencekam Sebuah Rumah Sakit di Wuhan Terekam Kamera, Mayat Korban Virus Corona Tergeletak di lantai rumah sakit.

A post shared by OFFICIAL MAKASSAR INFO (@makassar_iinfo) on

3 dari 5 halaman

China dan AS Berebut Paten Antivirus Corona

Dream - China sedang mengajukan permohonan untuk mematenkan kandidat obat dari virus Corona Wuhan, yang sedang dikembangkan oleh Gilead Science, perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat (AS).

Menurut South China Morning Post, Pengajuan hak paten itu dilakukan Institute of Virology, yang disokong pemerintah China. Langkah tersebut mendapat kritik karena menimbulkan kekhawatiran kekayaan intelektual dan hak pemasaran.

 Ilustrasi wabah virus corona© Ilustrasi wabah virus corona (Foto: Shutterstock)

Paten yang diajukan Institute of Virology yaitu penggunaan remdesivir untuk melawan virus Corona Wuhan. Jika disetujui, obat itu akan digunakan untuk memfasilitasi penggunaannya di pasar global.

Saat ini, remdesivir belum disetujui di manapun. Kepala Petugas Medis Gilead Science, Merdad Parsey, mengatakan, formula ini belum terbukti aman atau efektif untuk penggunaan apa pun.

" Perusahaan bekerja sama dengan otoritas kesehatan China untuk melakukan uji klinis pada pasien dengan gejala pneumonia untuk menguji keamanan dan kemanjurannya, katanya. Data klinis masa lalu pada virus Corona, memberinya " harapan," ujar Gilead.

Seorang juru bicara di Foster City, California, mengatakan telah menemukan remdesivir, dan telah mengajukan aplikasi paten untuk senyawa dan penggunaannya terhadap virus corona secara global, termasuk di Cina, pada 2016. Aplikasi di China masih tertunda.

" Kami mengetahui laporan aplikasi paten Institut Wuhan untuk Virologi," kata Sonia Choi, Wakil Presiden Hubungan Publik Gilead Science.

“ Fokus kami saat ini adalah menentukan dengan cepat potensi remdesivir sebagai pengobatan untuk [coronavirus baru] dan mempercepat pembuatan untuk mengantisipasi potensi kebutuhan pasokan di masa depan,” ucap dia.

Institut Wuhan dan Institut Farmakologi dan Toksikologi Beijing yang diterbitkan dalam Cell Research Journal, penelitian terhadap obat itu telah dilakukan obyek di luar tubuh manusia. Ditemukan bahwa senyawa remilei Gilead dan obat malaria chloroquine sangat efektif dalam mengendalikan infeksi virus Corona Wuhan.

“ Karena senyawa ini (secara terpisah) telah digunakan pada pasien manusia dengan rekam jejak keselamatan dan terbukti efektif melawan berbagai penyakit, kami menyarankan agar mereka dinilai pada pasien manusia yang menderita penyakit coronavirus yang baru,” tulis para peneliti.

4 dari 5 halaman

10 Orang Positif Virus Corona, 3.700 Penumpang Kapal Pesiar Dikarantina

Dream - Virus Corona Wuhan menyerang kapal pesiar Jepang, Diamond Princess. Sebanyak 10 penumpang di atas kapal dinyatakan positif virus 2019-nCoV.

 Ilustrasi wabah virus corona© Ilustrasi wabah virus corona (Foto: Shutterstock)

Tak ingin virus tersebut menyebar, pemerintah Jepang memutuskan kapal bersama 3.700 penumpangnya dikarantina. Otoritas terkait mengarantina para penumpang kapal pesiar tersebut di pelabuhan dekat Yokohama.

Para 3.700 penumpang dikarantina di kapal sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Dilaporkan World of Buzz, kapal sudah dalam proses dikarantina di pelabuhan ketika kasus pertama ditemukan. Seorang pria berusia 80 tahun yang telah meninggalkan kapal ditemukan didiagnosis menderita virus Corona Wuhan.

Setelah meminta penumpang untuk tetap di kapal, tim medis menggali lebih jauh dan menemukan sembilan orang lagi yang terkonfirmasi terpapar virus tersebut.

5 dari 5 halaman

Daftar Penumpang Positif Corona

Para penumpang kapal pesiar saat ini dikurung di kamar mereka, membuat kapal yang biasanya ramai menjadi sepi.

Di antara sepuluh orang yang terinfeksi adalah dua penumpang Australia, tiga penumpang asal Jepang, tiga penumpang asal Hong Kong, satu penumpang asal Amerika Serikat (AS) dan satu awak kapal dari Filipina.

Pria berusia 80 tahun itu saat ini dilaporkan dalam kondisi stabil dan anggota keluarganya tampak bersih dari virus.