Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Cegukan biasanya muncul saat kita makan-makanan pedas, tersedak atau kaget saat makan atau minum. Rupanya cegukan bukan hanya karena hal tersebut saja, bisa juga ditimbulkan karena virus Covid-19.
Sebuah kasus yang dipublikasikan dalam American Journal of Emergency Medicine beberapa waktu lalu menguak gejala baru Covid-19. Kasus ini menimpa pada seorang pria 62 tahun mengalami cegukan yang tak kunjung berhenti selama empat hari.
Berat badannnya juga turun 12 kg dalam empat bulan terakhir. Setelah mendatangi IGD ternyata dia terinfeksi COVID-19. Laporan kasus yang ditulis oleh Garrett Prince dan Michelle Sergel juga menyampaikan bahwa pria ini tidak menunjukkan gejala COVID-19 lain.
Dia tidak demam tinggi, nyeri dada, sesak napas maupun gejala yang disebut-sebut khas COVID-19 lainnya. Memang pada saat itu suhu tubuhnya 37,3 derajat Celsius. Prince dan Sergel juga menyebut bahwa pria ini memiliki penyakit diabetes, arteri koroner, dan hipertensi seperti mengutip Forbes.
Cegukan yang dialami pria ini menjadi sorotan tim medis. Dia sampai tidak bisa tidur, bernapas dan makan dengan baik gara-gara cegukan intensif berhari-hari.
Dokter pun melakukan pemeriksaan X-ray di dada untuk mengetahui adakah sesuatu yang menyebabkan kondisi abnormal itu. Selain itu dilakukan CT scan di dada. Hasilnya, terdapat peradangan di area tersebut yang bisa menyebabkan pria itu alami cegukan. Hasil tes darah menunjukkan sel darah putih dan tingkat sodium rendah.
Saat di rumah sakit, suhu tubuhnya naik menjadi 38,4 derajat Celsius. Detak jantung juga meningkat.Dokter kemudian melakukan pemeriksaan COVID-19 dan hasilnya terkonfirmasi positif.
Selama dirawat di rumah sakit kakek tersebut mendapatkan obat cetriaxone, azithromucin, dan hidroklorokuin. Setelah tiga hari dirawat dan hasil COVID-19 negatif, dia diperbolehkan pulang. Tak disebutkan apa hal yang menyebabkan pria ini alami penurunan berat badan drastis.
Sumber: Liputan6.com
Dream - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengungkapkan kebutuhan relawan untuk menguji klinis vaksin Covis-19 saat ini belum bisa memenuhi target. Dari target 1.600-an orang, jumlah relawan pengujian klinis tahap 3 vaksin Covid-19 hingga saat ini baru terpenuhi separuhnya.
" Kami cari relawan sebanyak 1.600-an orang, yang baru terdaftar 800 ya," ujar Ridwan, dikutip dari Merdeka.com.
Ridwan mengatakan proses untuk mendapatkan vaksin masih panjang. Uji klinis sendiri, kata dia, butuh waktu enam bulan hinga Desember nanti.
Jika uji klinis tersebut berjalan lancar, proses produksi baru bisa dimulai pada Januari 2021. Sementara untuk produksi ratusan juta dosis sendiri membutuhkan waktu hampir 1 tahun.
" Belum prosesnya ngasih vaksin (kepada masyarakat). Menurut saya sampai 2022 tuh kelihatannya durasinya untuk betul-betul terkondisikan semua," kata Ridwan.
Ridwan yakin Covid-19 bisa terkendali total pada 2022 dengan catatan vaksin sudah ditemukan. Sembari menunggu proses produksi, Ridwan mengimbau masyarakat untuk berperan menekan angka penularan Covid-19.
Dia juga mengemukakan ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19. Langkah tersebut seperti lockdown dan memakai masker secara disiplin.
" Tapi lockdown ada dampak ekonomi sosial. Nah, kalau pakai masker tidak jadi gitu," kata Ridwan.
Dari dua pilihan tersebut, Ridwan menekankan agar masyarakat lebih disiplin lagi memakai masker. Sehingga, dampak pandemi dapat dikurangi dan tidak merembet ke sektor lain.
" Jadi kalau ada dua pilihan, punya dampak baik dari sisi kesehatan tapi yang satu tidak banyak risiko berdampak ke dimensi lain, maka kami meyakini hari ini cuma satu aja, kampanye pakai masker," ucap dia.
Selanjutnya, Ridwan mengakui proses mengedukasi masyarakat memang tidak mudah. Sebagai contoh, kedisiplinan masyarakat rendah ketika memakai masker hanya sebatas imbauan.
Melihat fakta tersebut, Ridwan lantas mengeluarkan kebijakan penerapan denda bagi masyarakat yang kedapatan tidak memakai masker. Kebijakan tersebut telah dikonsultasikan kepada pemerintah pusat sebelum diterapkan.
" Hasil konsultasinya, Peraturan Kepala Daerah boleh selama tidak ada pidana dan kurungan. Jadi hanya hukuman sosial dan ditambah dengan Inpres yang sudah keluar, saya kira menguatkan," terang Ridwan.
Hasilnya, tingkat kedisiplinan masyarakat meningkat paska-pemberlakuan sanksi denda. Meski Ridwan mengakui denda menjadi sanksi terakhir yang diterapkan.
" Sebelum ramai sanksi), tingkat kepatuhan rendah. Sekarang, dari beberapa daerah saya lihat sekarang sudah 70 persen lah (tingkat) kepatuhannya. Instrumen denda itu terakhir," ucap Ridwan.
Sumber: Merdeka.com/Aksara Bebey
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya