Dompet Dhuafa Serukan Atasi Kerawanan Pangan dan Stunting

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 28 Februari 2020 17:59
Dompet Dhuafa Serukan Atasi Kerawanan Pangan dan Stunting
Kasus stunting di Indonesia masih terbilang tinggi.

Dream - Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan cadangan pangan melimpah. Sayangnya, kasus rawan pangan dan stunting masih banyak ditemukan.

Data Kementerian Pertanian, 88 kabupaten/kota masuk kategori rentan rawan pangan didasarkan pada aspek pasokan, akses, serta pemanfaatan. Hal ini berdampak pada bertambahnya kasus kurang gizi.

Peneliti IDEAS, Fajri Azhari, mengatakan berdasarkan riset yang digelar, didapat temuan sulitnya kelompok miskin mengakses bahan pangan. Salah satu sebabnya, harga pangan yang tinggi.

" Strategi yang ditempuh keluarga miskin yaitu beralih untuk mengkonsumsi pangan yang murah dan bisa diawetkan," kata Fajri, Jumat 28 Februari 2020.

Kelompok 1 persen termiskin rata-rata mengkonsumsi 74,4 kg beras per kapita per tahun. Lebih banyak dari kelompok 1 persen terkaya yang hanya 60,89 kg beras per kapita per tahun.

Tingkat konsumsi yang rendah dapat memicu penyakit kronis dan kematian dini. Penyakit kronis menimbulkan beban berat dari biaya pengobatan.

Selain itu, penyakit kronis juga menghilangkan waktu produktif. Akibatnya, kelompok miskin terjerumus lebih dalam ke jurang kemiskinan.

 

1 dari 5 halaman

Butuh Peran Banyak Pihak

Untuk mencegah meluasnya dampak rawan pangan, Lembaga Donasi Sosial Dompet Dhuafa menjalankan sejumlah program pertanian terpadu. Di antaranya JKIA (Jaringan Kesehatan Ibu dan Anak) dan SNGI (Saving Next Generation Institute), STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang mendorong perilaku bersih dan sehat di lingkungan sekitar dengan sumberdaya yang ada.

" Program tersebut dilakukan bersama dengan komponen masyarakat, pemerintah daerah, dinas terkait dan mitra lain yang bekerjasama secara terintegrasi di lapangan," kata Direktur Utama Dompet Dhuafa, drg. Imam Rulyawan, MARS.

Sementara, Kasi Mutu Gizi Kementrian Kesehatan, dr. Hera Nurlita, S.SiT,M.Kes, mengatakan stunting merupakan masalah multidimensional. Sehingga dibutuhkan peran aktif dari banyak pihak.

" Pemerintah sudah berkomitmen dan menetapkan arah perbaikan gizi nasional untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat," kata Hera.

2 dari 5 halaman

Angka Stunting Indonesia Masih di Atas Rata-Rata Toleransi WHO

Dream - Banyak tokoh menyebut Indonesia sebentar lagi akan menikmati bonus demografi dengan meningkatnya proporsi penduduk usia kerja. Diprediksi pada 2045, 70 persen dari total penduduk Indonesia masuk kategori produktif dalam rentang usia 15-64 tahun.

Meski demikian, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah. Anak-anak dan remaja Indonesia berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan yang bisa mengganggu tingkat produktivitasnya.

Data World Health Organization (WHO) menyebutkan angka kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia meningkat menjadi 75 persen. Beberapa sebabnya yaitu stunting dan gizi buruk.

" Tentunya kita akan bicara fokus Kemenkes, misi Presiden 2020-2024 adalah penyelesaian stunting," ucap anggota Komisi IX DPR RI, Intan Fitriana Fauzi, dalam seminar Hari Gizi Nasional di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu 26 Februari 2020.

Data World Bank 2017 mencatatkan Indonesia menjadi negara ke-4 di dunia dengan jumlah kasus bayi stunting tertinggi. Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019 juga mengungkapkan 27,67 persen atau 6,3 juta dari 23 juta populasi balita di Indonesia mengidap masalah stunting.

" Dari data tersebut, hal ini harus disikapi karena jauh dari standar maksimalnya, karena ujung-ujungnya stunting ini akan mengancam produktivitas dan juga daya saing SDM," ujar Intan.

3 dari 5 halaman

Tren Balita Gizi Buruk Menurun, Tapi...

Dari data tren status gizi balita 2013-2018, kasus stunting memang mengalami penurunan. Pada 2013, tercatat ada sekitar 37,2 persen kasus stunting dan turun menjadi 30,8 persen pada 2018.

" Walau mengalami penurunan, angka-angka ini masih di atas angka toleransi WHO, untuk stunting itu toleransinya 20 persen, kita masih 30,8 persen, lalu survei terakhir tahun 2019 juga masih 27 persen," kata Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari.

Kirana mengungkapkan stunting dan gizi buruk bukan semata masalah kurang makan saja. Tetapi masalah multi-dimensional dengan akar permasalahan yaitu pendidikan yang tidak merata dan kemiskinan.

Penyebabnya sendiri ada yang secara langsung memberikan dampak, ada pula yang tidak. Penyebab langsung yang dominan yaitu diare balita, imunisasi kurang lengkap, serta makanan balita yang tidak beragam.

Sedangkan penyebab tidak langsung yaitu pertumbuhan balita tidak terpantau secara rutin serta sanitasi yang kurang layak.

Laporan: Raissa Anjanique Nathania

4 dari 5 halaman

Riset Harvard Sebut Virus Corona Telah Masuk Indonesia, Ini Kata Kemenkes

Dream - Kepala Badan Litbang Kesehatan Kemenkes Siswanto, mengaku sudah membaca hasil penelitian ilmuwan Universitas Harvard yang menduha virus Corona telah masuk ke Indonesia, namun tidak terdeteksi.

" Saya sudah baca penelitiannya," kata siswanto, dikutip dari Merdeka.com, Senin 10 Februari 2020.

Menurut dia, penelitian tersebut menggunakan model matematik melalui volume penerbangan antara Wuhan dan 26 negara lainnya.

Model itu dipakai untuk memprediksi dinamika penyebaran virus novel Corona berdasarkan seberapa besar orang lalu lalang. Sehingga, kata Siswanto, kalkulasi tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.

Apabila mengikuti model penelitian Harvard itu, tambah Siswanto, seharusnya sudah ada enam hingga tujuh kasus virus corona di Indonesia.

Meski demikian, kabar itu belum terbukti kebenarannya. " Kami sudah teliti dengan benar. Itu prediksi saja," ucap Siswanto.

5 dari 5 halaman

Cuaca Berpengaruh

Harvard University menganalisis jumlah penumpang yang terbang dari Wuhan ke destinasi-destinasi di seluruh dunia. Studi tersebut menemukan bahwa jumlah kasus virus Corona yang teridentifikasi di Indonesia maupun di Kamboja angkanya di bawah perkiraan.

Kecepatan persebaran virus corona juga diduga memiliki keterkaitan dengan kondisi iklim suatu negara. Ada anggapan bahwa pola seasonal virus novel Corona bisa jadi serupa dengan infeksi influensa dan SARS. Kedua kasus tersebut turun drastis pada Mei ketika suhu cuaca di China menghangat.

Pada negara-negara dengan suhu serupa China dan AS, musim flu biasanya mulai Desember dan mencapai puncaknya pada Januari atau Februari dan menurun setelahnya. SARS berakhir pada 2003 ketika musim panas utara muncul.

Sumber: 

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'