Drama Menegangkan, Jet Tempur NATO Kuntit Pesawat Menhan Rusia

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 15 Agustus 2019 07:00
Drama Menegangkan, Jet Tempur NATO Kuntit Pesawat Menhan Rusia
Pesawat NATO dikejar pesawat Su-27 Rusia.

Dream - Sebuah drama menegangkan terjadi di langit Laut Baltik. Jet tempur NATO menguntit pesawat Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, Rabu, 13 Agustus 2019.

Menurut laman The Sun, adegan dramatis itu berlangsung ketika satu patroli udara NATO ditingkatkan untuk menanggapi penguatan militer Rusia. Saat dikuntit jet tempur NATO, Sergei sedang dalam perjalanan kerja ke eksklave, atau provinsi, Kaliningrad.

Dua jet tempur Su-27 Rusia akhirnya mengejar pesawat F-18 milik NATO tersebut di Laut Baltik, laporan kantor berita TASS. Peristiwa itu disebut berada di atas perairan netral.

Rekaman diambil dari dalam pesawat menteri pertahanan Rusia menunjukkan Angkatan Udara Spanyol F-18 terbang di samping pesawat yang ditumpangi Sergei .

Kemudian pesawat F-18 itu membuat manuver di kiri bawah pesawat Sergei. F-18 kemudian terlihat naik tajam, diikuti dua pesawat.

1 dari 7 halaman

Nomor Ekor Pesawat Terlihat

Di dalam pesawat Sergei, seseorang terdengar membicarakan nomor ekor pesawat.

" Aku punya nomor ekor pesawat!"

Yang lain mengatakan, " Ini sedang terjadi, lihat apa yang dilakukannya, wow!"

Sergei merupakan jenderal militer dan salah satu teman politik terdekat Vladimir Putin. Pasangan ini sering berlibur bersama di daerah Tuva, tempat asli menteri pertahanan di Siberia.

Dalam tujuh tahun sebagai menteri pertahanan, dia telah mengawasi modernisasi besar-besaran angkatan bersenjata Rusia. Tetapi akhir-akhir ini, kabar modernisasi itu dihantam kecelakaan kapal selam dan kegagalan uji coba rudal yang keduanya menyebabkan korban jiwa.

NATO telah meningkatkan patroli udara di wilayah Baltik sebagai tanggapan terhadap persepsi militer yang diperkuat Rusia.

2 dari 7 halaman

Ini Videonya

3 dari 7 halaman

Rusia Berambisi Punya Bayi yang Lahir di Luar Angkasa

Dream - Rusia ingin mendobrak ilmu pengetahuan. Kepala Laboratorium Biofisika Sel dari Institute of Medical and Biological Problems of Russian Academy of Science, Irina Ogneva membeberkan tujuan dari rencana `aneh` tersebut.

" Kami selalu menjadi yang pertama di luar angkasa, dan ingin manusia pertama yang lahir di luar angkasa menjadi warga negara Rusia," kata Irina dikutip dari Daily Star, Kamis, 20 Juni 2019.

Tetapi, dia mengakui, sejauh ini kosmonot Rusia telah menolak untuk menyumbangkan sperma yang diperoleh di ruang untuk studi ilmiah. Dia menyebut, upaya penelitian bukan hanya sebatas keinginan patriotik semata.

“ Yang paling penting bukanlah fakta (bagi bayi) untuk dilahirkan, tetapi (bayi yang) dilahirkan sehat," ucap dia.

Irina menyebut, tujuan melahirkan anak di luar angkasa masih terlampau prematur. Tapi, dia mengatakan, kelahiran mamalia di ruang angkasa masih memungkinkan terjadi.

“ Tapi, dari sudut pandang moral dan etika, ini adalah percobaan, dan percobaan dengan embrio manusia," ujar dia.

Karena kurangnya sampel sperma dari luar angkasa, Irina mengakui angkasawan Rusia di Stasiun Luar Angkasa Internasional telah menolak untuk bekerja sama.

“ Kami terus mengalami hambatan moral, psikologis, dan etika," kata dia.

4 dari 7 halaman

Fenomena Bulan Makin Menyusut Kejutkan Dunia Sains

Dream - Sebuah fenomena langit yang cukup mengkhawatirkan terkait dengan Bulan menjadi perbincangan hangat para ilmuwan dalam beberapa waktu belakangan ini.

Menurut sebuah studi penelitian baru, Bulan kemungkinan akan terus menyusut akibat sering mengalami apa yang disebut dengan moonquake atau gempa Bulan.

Bulan disebut telah mengalami gempa sebanyak 28 kali sejak tahun 1969 hingga 1977. Dan para ilmuwan telah menganalisis gempa Bulan tersebut.

Hasil analisis ilmuwan tentang gempa Bulan tersebut ternyata sangat mengejutkan. Karena ada kemungkinan terdapat aktivitas tektonik di Bulan.

5 dari 7 halaman

Ada Pergeseran Lempeng di Bulan

Menurut profesor geologi UniversityofMaryland, Nicholas Schmerr, dari 28 gempa Bulan, delapan di antaranya berasal dari 'aktivitas tektonik asli'. Artinya, ada pergeseran lempeng kerak di Bulan.

Jadi, gempa di Bulan terjadi bukan karena adanya benturan dengan asteroid atau runtuhan di bagian dalam satelit Bumi tersebut.

 Fenomena Bulan

Profesor Nicholas mengungkapkan bahwa sejumlah gempa yang terekam dalam data Apollo terjadi mirip dengan sesar yang terlihat dalam misi LRO (Lunar ReconnaissanceOrbiter) NASA.

" Sangat mungkin bahwa sesar itu masih aktif hingga hari ini. Anda mungkin tidak pernah mendengar aktivitas tektonik di mana pun kecuali di Bumi. Jadi, sangat menarik bahwa sesar itu masih menghasilkan gempa Bulan," kata Profesor Nicholas.

6 dari 7 halaman

Setara Gempa Bumi Pada 5 Skala Magnitudo Momen

Gempa Bulan direkam oleh lima seismometer yang ditempatkan di permukaan Bulan selama misi Apollo 11, 12, 14, 15 dan 16. Jika di Bumi, gempa Bulan yang tercatat berada dalam kisaran antara 2 dan 5 pada skala Magnitudo Momen.

Thomas Watters, kepala penelitian, mengatakan kemungkinan delapan gempa ini dihasilkan oleh pergeseran sesar. Karena adanya tekanan yang meningkat ketika kerak Bulan dikompresi oleh kontraksi global dan kekuatan pasang surut.

 Bulan

" Ini menunjukkan Bulan mengalami penyusutan, dan seismometer Apollo memperlihatkan Bulan masih aktif secara tektonik," kata Thomas.

NASA pertama kali menemukan Bulan menyusut pada tahun 2010 ketika menganalisis citra dari LRO. Mereka menemukan bahwa Bulan 'layu seperti kismis ketika bagian dalamnya mendingin, menghasilkan ribuan tebing yang disebut thrustfaults (dorongan sesar pada permukaan Bulan)'.

Kemudian ketika dibandingkan dengan data dari tahun 60-an dan 70-an dengan data tahun 2010, tercipta algoritma baru untuk lebih memahami dari mana datangnya gempa Bulan tersebut.

7 dari 7 halaman

Bulan Aktif Secara Tektonik Selama 4,5 Miliar Tahun

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah NatureGeoscience itu, Bulan dianggap aktif secara tektonik sekitar 4,5 miliar tahun.

" Kami menyimpulkan bahwa hubungan dekat gempa bulan dengan thrustfaults muda, bersama dengan bukti gangguan regolith dan gerakan batu besar di dalam dan di dekat tebing sesar menunjukkan Bulan aktif secara tektonik," bunyi abstrak penelitian tersebut.

 Bulan

Profesor Nicholas menambahkan temuan yang menarik ini menjadi dasar bagi manusia untuk menginjakkan kaki sekali lagi di Bulan.
" Kami belajar banyak dari misi Apollo, tetapi kami hanya mengenal permukaannya saja," pungkasnya.

(Sah, Sumber: FoxNews.com)

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara