Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Fenomena Bulan (Foto: Shutterstock)
Dream - Sebuah fenomena langit yang cukup mengkhawatirkan terkait dengan Bulan menjadi perbincangan hangat para ilmuwan dalam beberapa waktu belakangan ini.
Menurut sebuah studi penelitian baru, Bulan kemungkinan akan terus menyusut akibat sering mengalami apa yang disebut dengan moonquake atau gempa Bulan.
Bulan disebut telah mengalami gempa sebanyak 28 kali sejak tahun 1969 hingga 1977. Dan para ilmuwan telah menganalisis gempa Bulan tersebut.
Hasil analisis ilmuwan tentang gempa Bulan tersebut ternyata sangat mengejutkan. Karena ada kemungkinan terdapat aktivitas tektonik di Bulan.
Menurut profesor geologi UniversityofMaryland, Nicholas Schmerr, dari 28 gempa Bulan, delapan di antaranya berasal dari 'aktivitas tektonik asli'. Artinya, ada pergeseran lempeng kerak di Bulan.
Jadi, gempa di Bulan terjadi bukan karena adanya benturan dengan asteroid atau runtuhan di bagian dalam satelit Bumi tersebut.

Profesor Nicholas mengungkapkan bahwa sejumlah gempa yang terekam dalam data Apollo terjadi mirip dengan sesar yang terlihat dalam misi LRO (Lunar ReconnaissanceOrbiter) NASA.
" Sangat mungkin bahwa sesar itu masih aktif hingga hari ini. Anda mungkin tidak pernah mendengar aktivitas tektonik di mana pun kecuali di Bumi. Jadi, sangat menarik bahwa sesar itu masih menghasilkan gempa Bulan," kata Profesor Nicholas.
Gempa Bulan direkam oleh lima seismometer yang ditempatkan di permukaan Bulan selama misi Apollo 11, 12, 14, 15 dan 16. Jika di Bumi, gempa Bulan yang tercatat berada dalam kisaran antara 2 dan 5 pada skala Magnitudo Momen.
Thomas Watters, kepala penelitian, mengatakan kemungkinan delapan gempa ini dihasilkan oleh pergeseran sesar. Karena adanya tekanan yang meningkat ketika kerak Bulan dikompresi oleh kontraksi global dan kekuatan pasang surut.

" Ini menunjukkan Bulan mengalami penyusutan, dan seismometer Apollo memperlihatkan Bulan masih aktif secara tektonik," kata Thomas.
NASA pertama kali menemukan Bulan menyusut pada tahun 2010 ketika menganalisis citra dari LRO. Mereka menemukan bahwa Bulan 'layu seperti kismis ketika bagian dalamnya mendingin, menghasilkan ribuan tebing yang disebut thrustfaults (dorongan sesar pada permukaan Bulan)'.
Kemudian ketika dibandingkan dengan data dari tahun 60-an dan 70-an dengan data tahun 2010, tercipta algoritma baru untuk lebih memahami dari mana datangnya gempa Bulan tersebut.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah NatureGeoscience itu, Bulan dianggap aktif secara tektonik sekitar 4,5 miliar tahun.
" Kami menyimpulkan bahwa hubungan dekat gempa bulan dengan thrustfaults muda, bersama dengan bukti gangguan regolith dan gerakan batu besar di dalam dan di dekat tebing sesar menunjukkan Bulan aktif secara tektonik," bunyi abstrak penelitian tersebut.

Profesor Nicholas menambahkan temuan yang menarik ini menjadi dasar bagi manusia untuk menginjakkan kaki sekali lagi di Bulan.
" Kami belajar banyak dari misi Apollo, tetapi kami hanya mengenal permukaannya saja," pungkasnya.
(Sah, Sumber: FoxNews.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya