Cerita Pandemi WNI di India: Kasta dan Prokes

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Sabtu, 24 April 2021 06:00
Cerita Pandemi WNI di India: Kasta dan Prokes
Pandemi Covid-19 di India membuat tiga mahasiswa Indonesia Arief, Agoes, dan Ayu khawatir.

Dream - Pada Kamis, 22 April 2021 kasus positif Corona bertambah hampir 315.000, menjadi angka harian tertinggi sepanjang pandemi. Hal ini jelas membuat warga khawatir, termasuk para warga negara Indonesia (WNI) di India.

Arif Sorayaman Hulu, seorang mahasiswa Indonesia di Rajkot, Gujarat, India Barat menagatakan, hal yang membuat dirinya khawatir ialah bagaimana warga acuh terhadap penerapan protokol kesehatan. Padahal menurutnya, itu merupakan esensi penting dalam menekan pandemi.

" Aktivitas warga berjalan normal, padahal pemerintah sedang menerapkan lockdown (karantina wilayah," terang Arif, dikutip dari kanal bbc.com, Jumat 23 April 2021.

Tak hanya abai pada protokol kesehatan, menurut pengakuan Arif, banyak warga di pusat kota tidak mengenakan masker. Suatu ketika Arif pernah berada di rumah sakit di wilayah Rajkot yang menangani pasien Covid-19.

" Saya berdiri di depan rumah sakit itu dan saya melihat ambulans berlalu-lalang.. belum selesai satu pasien ditangani, sudah datang lagi pasien baru... saya melihat ada pasien yang sangat parah, keluarganya menangis sejadi-jadinya, namun penangannya saya lihat lamban, lamban sekali," tutur Arif dalam pengakuannya.

 

1 dari 4 halaman

Sistem Sosial Jadi Kunci Emas

Tak berhenti disitu, Arif juga melihat adanya " fenomena unik" lain di mana kelompok masyarakat dari kasta atas, kelompok kaya dan elite, menurutnya, boleh melakukan pelanggaran protokol kesehatan.

" Mereka merasa sudah hebat, berasal dari kelompok sosial yang tinggi. Mereka merasa bisa melakukan apa saja," jelas Arif seorang mahasiswa jurusan hukum.

Dengan kondisi yang terbilang buruk ini, Arif dan beberapa mahasiswa Indonesia di Rajkot selalu berhati-hati dan tetap menaati protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah. Namun sayang, apa yang dipikirkan Arif tidak sejalan dengan lingkupnya.

" Saya melihat mahasiswa lain kurang serius menanggapi hal ini," katanya.

Selain dua isu yang tengah ia hadapi, persoalan Arif ternyata tidak berhenti disitu. Ternyata ia tinggal di asrama dekat dengan gedung untuk menampung pasien yang tengah menjalani isolasi mandiri. Parahnya, para pasien menganggap Covid-19 bukanlah perkara serius.

" Dua teman satu kamar saya terkena Covid-19 dan harus isolasi. Mereka dibolehkan berlalu-lalang," jelas Arief.

2 dari 4 halaman

Kepatuhan Warga Melonggar

Situasi berbeda dirasakan seorang mahasiswa Indonesia lain di Delhi, Mohd Agoes Aufiya. Ia mengatakan, saat ini wilayah tempat tinggalnya tengah menerapkan karantina wilayah dan sejumlah pembatasan yang tengah dilakukan sejak Minggu, 18 April 2021 lalu.

Menurut pengakuannya, warga di Delhi tetap tinggal di rumah dan tidak berpergian kecuali bagi mereka yang memang harus keluar rumah. Begitupun toko di sekitar tempat tinggalnya.

" Toko yan menyediakan kebutuhan bahan pokok buka, tetapi yang menjual bahan atau produk nonesesial tutup... toko sepatu atau toko ponsel, itu tutup," jelas Agoes.

Agoes menjelaskan, secara umum masyarakat Delhi menaati protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah seperti mengenakan masker. Namun ia masih saja bisa menemui warga yang tetap acuh.

Ia pun mengatakan, warga Delhi lebih longgar akan protokol kesehatan pada saat pandemi gelombang kedua. Berbeda saat pertama kali.

" Ketika itu (gelombang pertama) orang-orang memakai masker, sarung tangan, face shield, dan tetap menajaga jarak. Namun seiring berjalan waktu, mungkin karena sudah merasa menang melawan pandemi Covid-19, dan angka kasus sempat turun di bulan November, Desember, Januari, Februari, membuat kekhawatiran warga tidak sebesar dulu," jelasnya.

Perasaan seperti ini yang ia perkirakan menjadi penyebab masyarakat Delhi tak lagi patuh dan sadar akan pentingnya protokol kesehatan.

Di tengah tingginya kasus Covid-19 di India, Agoes dan para mahasiswa Indonesia di India aktif berkomunikasi via WhatsApp untuk selalu waspada.

" Kami berbagi informasi, mengingatkan bahwa keadaan semakin sulit dan kita semua harus waspada, terutama di wilayah-wilayah episentrum, seperti di New Delhi, Kerala, Karnataka, Tamil Nadu dan Uttar Pradesh ... mereka yang ada di kawasan-kawasan itu diminta untuk hati-hati," katanya.

Informasi yang sama ia bagikan ke warga Indonesia lain. Seperti jika ada warga yang menghadapi kesulitan atau terkena Covid-19, untuk segera memberikan informasi ke pihak KBRI agar segera diberi bantuan.

 

3 dari 4 halaman

Rumah Sakit Kewalahan

Pembatasan wilayah oleh pemerintah negara bagian Uttara Pradesh juga dilakukan. Hal ini diungkapkan Ayu Andriyaningsih, mahasiswa Indonesia di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh.

Dalam pengakuannya, ia diwajibkan untuk tetap berada di rumah. Saat lockdown diberlakukan, lingkungan tempat tinggalnya menjadi lebih sepi dan ia bersyukur warga setempat tetap taat protokol kesehatan.

" Masyarakat tidak keluar rumah, kecuali untuk urusan penting.. jadi kalau lockdown terasa sekali sepinya," imbuh Ayu. " Tak ada orang di jalan, kebetulan asrama saya di dekat jalan raya," katanya.

Uttar Pradesh sendiri memiliki populasi 240 juta jiwa dan berdampak besar akan pandemi. Sejak awal, tercatat lebih dari 851.000 kasus di negara bagian dengan angka kematian setidaknya 9.800 orang.

Melonjaknya angka tersebut, membuat rumah sakit sekitar sering kali menolak pasien lantaran keteririsan tempat tidur dan kremasi jenazah yang terus membludak.

Ayu pun mengaku sempat stres apalagi di tengah kondisi puasa saat ini. Ia mengaku khawatir saat harus mencari bahan makanan lantaran kondisi yang semakin buruk.

" Sekarang ini susah mencari sayur segar. Kadang ada vendor (pedagang) yang datang ke asrama, tapi kan tidak semuanya 100% segar," katanya.

Dengan kasus yang terus meningkat tiap harinya, membuat Ayu dan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya khawatir. Namun ia tetap berhati-hati dan waspada dan selalu menaaati protokol kesehatan anjuran pemerintah.

4 dari 4 halaman

Spekulasi

Meroketnya angka persebaran kasus Corona di India, diyakini dipicu oleh festival-festival agama dan kampanye pemilu di beberapa negara bagian. Seperti yang diketahui, dua momen tersebut dihadiri oleh banyak orang dan pihak penyelenggara dianggap gagal dalam menerapkan protokol kesehatan.

Pemerintah negara bagian dan federal mengklaim situasi saat ini masih dapat dikendalikan.

Bagi beberapa pihak, klaim pemerintah tidaklah valid. Banyak yang menyebut pemerintah gagal mengantisipasi gelombang kedua ketika situasi di India sempat melandai antara Oktober 2021 hingga Februari 2021.

Sumber: bbc.com

 

Beri Komentar