Dua Kasus Pertama Positif Corona di Gaza

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 23 Maret 2020 15:02
Dua Kasus Pertama Positif Corona di Gaza
Kasus terkonfirmasi dari dua pria Palestina yang baru pulang dari Pakistan lewat Mesir.

Dream - Otoritas Palestina untuk Jalur Gaza melaporkan adanya dua kasus pertama infeksi virus corona pada Minggu, 22 Maret 2020 waktu setempat. Gaza langsung memberlakukan karantina pada dua kasus itu.

Dua kasus itu merupakan warga Palestina usia 79 tahun dan 63 tahun yang baru pulang dari Pakistan lewat Mesir.

Keduanya dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 saat menjalani pemeriksaan di perbatasan Gaza-Mesir di Rafah dan langsung dikarantina.

" Alhamdulillah, lingkaran kontaknya tidak besar," ujar kepala kantor media Pemerintah Gaza, dikutip dari Arab News.

Seluruh orang yang pernah memiliki kontak langsung dengan dua kasus itu juga sudah dikarantina. Gaza juga telah menerapkan penutupan sekolah, pasar, hingga aula pertemuan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Otoritas keagamaan di Gaza mendesak masyarakat untuk sholat dan ibadah di rumah dibandingkan ke masjid. Juga meminta ditiadakan takziah ketika ada keluarga yang meninggal untuk sementara waktu.

 

1 dari 5 halaman

Ancaman Fatal untuk Gaza

Covid-19 menjadi ancaman fatal bagi penduduk Gaza. Ini mengingat Jalur Gaza adalah kawasan padat penduduk dengan tingkat kemiskinan tinggi dan fasilitas kesehatan sangat kurang ,akibat blokade yang dijalankan Israel.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, ada 59 kasus infeksi Covid-19 terkonfirmasi di Tepi Barat. Sementara Israel menyatakan ada 945 kasus terkonfirmasi dengan kematian dilaporkan satu kasus.

Jalur Gaza seluas 375 kilometer persegi dihuni sekitar 2 juta warga Palestina. Pakar kesehatan menyebut, infeksi dapat menyebar lebih cepat mengingat warga Gaza tinggal saling berdekatan ditambah kelangkaan peralatan medis dan obat-obatan.

Blokade yang dijalankan Israel didukung Mesir telah membatasi pergerakan warga Palestina di Jalur Gaza selama bertahun-tahun. Pemicunya adalah kekhawatiran setelah gerakan milisi Hamas menguasai Gaza pada 2007.

 

2 dari 5 halaman

Tepi Barat Sepi

Di Tepi Barat, Pemerintah Palestina menginstruksikan masyarakat untuk tetap di dalam rumah selama dua pekan untuk mencegah penyebaran virus. Tenaga medis, apoteker, pemilik toko dan pembuat roti diizinkan tetap aktivitas.

Seorang pejabat Palestina mengatakan masyarakat dibolehkan pergi ke toko untuk belanja makanan.

Pada Sabtu, otoritas Israel menutup perbatasan dengan Gaza dan Tepi Barat untuk lalu lintas komersial. Meski demikian, beberapa pasien dan relawan kemanusiaan dibolehkan melintas.

Orang-orang masuk Gaza lewat Rafah atau jalur perlintasan Erez di Israel mulai 15 Maret 2020 dikarantina di fasilitas yang telah disiapkan.

WHO menyatakan ada 1.287 orang diisolasi di fasilitas terebut, sedangkan 2.017 mengkarantina diri di rumah masing-masing.

3 dari 5 halaman

Cegah Corona, Penerbangan Domestik, Bus, Taksi, dan Kereta di Arab Saudi Disetop

Dream - Aksi karantina mandiri untuk menghadapi virus corona terus bergulir. Hari ini, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan penangguhkan penerbangan domestik, bus, taksi, dan kereta api.

Dilaporkan Saudi Gazette, Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi menyatakan, penangguhan 14 hari itu akan dimulai pada Sabtu, 21 Maret 2020.

" Hanya penerbangan yang terkait dengan kasus-kasus kemanusiaan, pesawat evakuasi medis dan penerbangan pribadi yang akan diberikan izin yang diperlukan yang dikeluarkan oleh Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA)," kata sumber itu.

Menurut laporan itu, bus milik lembaga pemerintah atau fasilitas kesehatan publik atau swasta, dan perusahaan komersial yang mengangkut karyawan mereka, atau bus yang digunakan untuk tujuan kesehatan, kemanusiaan atau keamanan dikecualikan dari larangan tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Arab Saudi telah melarang pelaksanaan sholat berjemaah dan sholat Jumat untuk menghindari penyebaran wabah corona. Kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, masjid-masjid di pelosok Arab Saudi diminta untuk menggiring jemaah sholat secara mandiri.

4 dari 5 halaman

Arab Saudi Ubah Azan untuk Cegah Wabah Virus Corona

Dream - Kerajaan Arab Saudi memutuskan mengganti panggilan azan.  Arab Saudi telah mengamandemen untuk panggilan `datanglah untuk sholat` dalam bahasa Arab, diganti dengan `berdoalah di rumah`.

Dilansir Arab News, panggilan azan itu juga dapat diterjemahkan sebagai `berdoalah di mana kamu berada`. Pernyataan itu mengatakan bahwa sholat Jumat dapat dilakukan umat Islam di rumah.

Dilaporkan Saudi Press Agency, Dua Masjid Suci di Mekah dan Madinah dibebaskan dari keputusan itu.

" Pintu masjid akan ditutup sementara, tetapi mereka akan diizinkan untuk melafalkan panggilan untuk sholat," kata dia.

Menteri Urusan Islam Arab Saudi, Abdulatif Al-Sheikh mengatakan, fasilitas untuk mencuci orang mati di masjid akan tetap dibuka, namun akan dibatasi untuk beberapa orang. Berdoa atas orang mati hanya akan diizinkan di kuburan pemakaman.

Keputusan ini diumumkan Selasa, 17 Maret 2020. Arab Saudi ingin mendorong umat Islam untuk sholat di rumah untuk menghindari penyebaran virus corona.

5 dari 5 halaman

Masjid Istiqlal Tetap Gelar Sholat Jumat

Dream - Masjid Istiqlal tetap menggelar sholat Jumat pekan ini. Agenda tersebut sesuai dengan jadwal rutin yang selama ini dilaksanakan.

" Untuk besok, minggu ini, sampai detik ini belum ada perubahan, kami tetap melaksanakan sholat Jumat," ujar Kepala Bagian Humas Masjid Istiqlal, Abu Hurairah, dikutip dari Merdeka.com.

Abu Hurairah mengatakan pihaknya menyediakan alat pemindai suhu tubuh dan hand sanitizer. Ini sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona.

Nantinya, jemaah yang datang akan diperiksa suhu tubuhnya sebelum masuk masjid. Selain itu, ada lima botol hand sanitizer disediakan di dua pintu masuk utama.

" Saat ini hanya dua dari tujuk pintu yang aktif disebabkan sedang renovasi masjid," kata dia.

Beri Komentar