5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Ilustrasi : Shutterstock
Dream - Virus corona dengan karkateristik mirip SARS tengah menjadi perhatian masyarakat Internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan kasus virus yang berkembang menjadi 2019-NCoV ini dalam status darurat internasional.
Hingga saat ini setidaknya sudah ada 22 negara yang mengkonfirmasi kemunculan kasus pengidap tersebut.
Tak menutup kemungkinan juga bisa bertambah lebih banyak lagi.
Merujuk dari hal itu, sebuah penelitian coba untuk melihat negara mana saja yang masih terbilang aman jika semisal ada serangan virus atau bencana yang mampu melenyapkan peradaban manusia.
Seperti dilansir dari The Sun, penelitian berjudul 'The Prioritization of Island Nations as Refuges from Extreme Pandemics' itu mengungkap jika ada 20 negara teraman yang bisa ditinggali jika terjadi wabah mematikan.
Negara-negara ini dinilai berdasarkan karakteristik seperti, tempat tinggal, lokasi yang baik, sumber daya alam dan juga keharmonisan politik.
Dua orang ilmuan, Matt Boyd dan Nick Wilson mengatakan," negara-negara dengan PDB (Produk Domestik Bruto) yang tinggi, memadai untuk produksi pangan dan energi, jauh lebih baik."
Lantas negara mana sajakah itu?
Australia dan Selandia Baru menjadi negara paling aman yang bisa ditinggali. Disusul Islandia, Malta dan Jepang.

Foto: The Sun
Para peneliti mengatakan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan metodologi mereka.
Meski begitu mereka berharap jika negara yang tidak masuk dalam daftar bisa merubah situasi dengan meningkatkan produksi pangan dan energi juga menyelesaikan ketidakstabilan politik.
Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) resmi menetapkan wabah virus corona di Wuhan, China dalam status darurat global. Keputusan ini diambil, menyusul adanya peningkatan jumlah kasus kematian akibat terjangkiti virus corona terus bertambah.
WHO mendefinisikan darurat internasional sebagai kejadian luar biasa yang berisiko bagi negara lain dan memerlukan respon dunia yang terkoordinir.
Ketika keputusan ini diumumkan pada Kamis sore waktu setempat, jumlah kematian akibat terjangkiti virus corona mencapai 213 jiwa. Sedangkan hari ini, Jumat, 31 Januari 2020, Komisi Kesehatan China melaporkan jumlah kasus pasien terinfeksi telah mencapai angka 9.692.
Dilaporkan Aljazeera, sebanyak 102 ribu orang saat ini tengah diobservasi medis untuk mengetahui kemungkitan terjangkiti virus ini.
Kasus virus corona pertama kali dilaporkan China ke WHO akhir Desember lalu. Sejak itu, 18 negara lain melaporkan kasus yang sama, sementara para ilmuwan berupaya mengkaji bagaimana virus itu menyebar dan seberapa parahnya.
" Alasan utama deklarasi ini bukan karena apa yang terjadi di China namun apa yang terjadi di negara lain," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Ghebreyesus melanjutkan hal yang menjadi kekhawatiran terbesar WHO adalah semakin meluasnya sebaran virus ini. Terutama jika sampai menyebar ke negara-negara dengan sistem kesehatan lebih lemah yang tidak siap untuk menghadapinya.
" Deklarasi ini bukan merupakan mosi tidak percaya kepada China. Sebaliknya, WHO selalu percaya China memiliki kapasitas mengendalikan wabah," kata Ghebreyesus.
Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, mengatakan Beijing sangat mampu memenangkan pertarungan. Dia juga menjelaskan China akan terus bekerja dengan WHO dan negara-negara lain untuk mengelola keamanan akan kesehatan masyarakat global maupun regional.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?