Jusuf Kalla: Hari Minggu, Hari Bebas

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 17 Oktober 2019 18:02
Jusuf Kalla: Hari Minggu, Hari Bebas
Ini harapan kita semua.

Dream - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla akan melepas jabatannya sebagai pendamping Presiden Joko Widodo. Ini menjadi kali kedua JK purna tugas sebagai wakil presiden.

JK ingin menunggu sampai 20 Oktober 2019. Sebab di hari itu, jabatan wapres akan resmi diserahkan ke KH Ma`ruf Amin.

" Insya Allah hari Minggu itu hari bebaslah," kata JK, kepada , Kamis, 17 Oktober 2019.

Lalu, apa yang bakal dilakukan Pak JK saat purna-tugas nanti?

 " Bebas artinya waktu banyak beribadah banyak waktu untuk fastabiqul khairat. Jadi syarat turut serta fastabiqul khairat ini kan harapan kita semua," ucap dia.

Di kesempatan meresmikan Masjid At-Tanwir, JK mengucap terima kasih kepada Muhammadiyah yang telah bekerja sama dengan baik.

Dia berharap Muhammadiyah bisa membangun masjid kembali. " Muhammadiyah fastabiqul khairat ya lomba-lombalah untuk menyelesaikan mesjid ini," ucap dia.

(ism, Sumber: Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin)

1 dari 5 halaman

Pesan Wapres JK: Bijak Gunakan Pengeras Suara Masjid

Dream - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat bijak menggunakan pengeras suara masjid. Dia berharap suara azan tidak terlalu keras, sehingga bersahut-sahutan dengan masjid lain yang justru membuat seruan sholat menjadi tidak jelas.

" Kiata akan punya aturan bahwa sound system itu jangan saling melampaui masjid yang satu. Karena nanti tidak jelas azannya, azan semua kita bingung, daerah-daerah yang banyak masyarakat yang padat," kata JK, dilaporkan Liputan6.com, Kamis 17 Oktober 2019.

JK berharap, seluruh sound system di masjid tak dipasang sembarangan tempat. Sehingga, jemaah bisa mendengar informasi dan ceramah dengan baik.

" Saya selalu bilang kalau masjid seperti itu maka lebih berpahala sopir angkot dibanding khotibnya. Kalau sopir angkot cepat, semua penumpangnya astagfirullah," ujar dia.

" Tapi, kalau sound system masjid jelek orang ketiduran. Itu harus diperhatikan," ucap pria yang karib disapa JK ini.

Pesan JK tersebut disampaikan saat meresmikan Masjid At-Tanwir, Komplek Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat. Masjid ini dibangun dengan beberapa inovasi teknologi ramah lingkungan.

Selain kenyamanan, bangunan masjid bersifat go green. Bangunan menggunakan teknologi sel surya dan sistem daur ulang air wudlu untuk menyiram tanaman dan closet.

Selain itu, masjid ini juga menggunakan konsep taman kota di lantai satu. Lantai 2 dan tiga untuk sholat jemaah laki-laki dan lantai 4 untuk jemaah perempuan.

Sementara itu, lantai 5 dan 6 digunakan untuk Perpustakaan Muhammadiyah. Masjid dan bangunan ini dibangun dengan biaya Rp31 milyar yang terkumpul dari infaq anggota Muhammadiyah.

2 dari 5 halaman

Aceh Besar Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid Kemenag

Dream - Ketentuan mengenai pengaturan volume pengeras suara atau speaker di masjid yang diedarkan Kementerian Agama menuai polemik. Ada beberapa pemerintah daerah yang menyatakan penolakan atas aturan tersebut.

Salah satunya di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Wakil Bupati Aceh Besar, Husaini A Wahab, meminta seluruh warganya mengabaikan aturan tersebut.

" Di Aceh Besar tak berlaku itu, kita minta kepada seluruh Gampong (desa) untuk mengabaikan itu. Malahan, kalau ada yang melarang harus lebih besar lagi volumenya," ujar Husaini, dikutip dari planet.merdeka.com, Kamis 13 September 2018.

Husaini menyarankan Kemenag tidak berhak mengeluarkan aturan mengenai pengeras suara masjid. Apalagi, yang disampaikan adalah kalimat tauhid yang harus didengar oleh orang.

Jika ada yang terganggu dengan suara azan, Husaini mempersilakan yang bersangkutan untuk tidak tinggal di Aceh Besar. " Jangan tinggal di sini. Jadi, bukan kita yang harus tunduk pada mereka," kata dia.

3 dari 5 halaman

Dianggap Menyalahi Syariat Islam

Dream - Selanjutnya, Husaini meminta para pengurus masjid dan warga di seluruh Aceh Besar menjalankan aktivitas ibadah seperti biasa. Dia juga siap bertanggung jawab atas perintah tersebut.

" Kita tinggal di Aceh yang melaksanakan syariat Islam. Saya rasa, ini sudah menyalahi syariat Islam, maka jangan ikuti," kata dia.

Aturan mengenai pengeras suara terdapat dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakaat Islam Nomor B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08.2018.

Dalam surat itu, penggunaan pengeras suara luar di masjid maupun mushola 15 menit sebelum waktu sholat Subuh dan Jumat, serta 5 menit sebelum waktu Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.

Untuk khutbah maupun pengajian hanya dibolehkan menggunakan pengeras suara dalam.

(ism, Sumber: planet,merdeka.com)

4 dari 5 halaman

Menag: Peraturan Pengeras Suara Masjid Sudah Ada Sejak 1978

Dream - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, volume azan di tempat ibadah sebenarnya sudah diatur. Ini agar azan yang dikumandangkan tidak mengganggu masyarakat.

" Sebenarnya dari 1978 Direktorat Jenderal Bimas Islam sudah mengeluarkan edaran yang intinya adalah diatur secara rinci penggunaan pengeras suara di setiap masjid, musala, dan langgar-langgar," ujar Lukman di Madinah, Senin 27 Agustus 2018.

Lukman mengatakan instruksi itu mengatur rinci penggunaan pengeras suara di tempat ibadah. Dia berharap masyarakat dapat mengimplementasikan instruksi itu secara baik.

" Agar kehidupan bersama dapat berjalan dengan baik," kata Lukman.

Sebelumnya, Direktur Bimas Islam Kemenag, Muhammadiyah Amin, mengeluarkan Surat Edaran terkait Instruksi Nomor Kep/D/101/1978 mengenai penggunaan pengeras suara ke pengurus kantor wilayah. Surat edaran tersebut berisi enam butir instruksi

5 dari 5 halaman

6 Butir SE Ditjen Bimas Islam

Dream - Pertama, SE tersebut menginstruksikan Kantor Wilayah Kemenag untuk menyosialisasikan kembali instruksi tersebut ke seluruh pengurus masjid atau musala, pimpinan ormas Islam, majelis taklim. Salah satunya dengan menyerahkan salinan instruksi tersebut,

Butir kedua, Kemenag meminta pengurus Kanwil menjelaskan maksud dari instruksi yang dibuat.

Ketiga, instruksi tersebut dijadikan sebagai bahan penyuluhan. Keempat, Kemenag meminta intruksi itu disebarkan melalui media sosial dan grup WhatsApp secara santun dan bijak.

Surat edaran yang dibuat itu tertandangani pada 24 Agustus 2018 sebagai jawaban atas keresahan masyarakat mengenai penggunaan pengeras suara.

Beri Komentar
Detik-detik Bom Bunuh Diri Meledak di Polrestabes Medan