Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Presiden Joko Widodo
Dream - Presiden Joko Widodo menyinggung fakta pengambilan paksa jasad pasien positif Covid-19 oleh pihak keluarga di sejumlah kota di Indonesia. Presiden menginstruksikan agar kasus serupa takkan lagi terulang.
" Jangan sampai terjadi lagi merebut jenazah yang jelas-jelas Covid-19 oleh keluarga, saya kita itu sebuah hal yang harus kita jaga jangan terjadi lagi," ujar Jokowi, dikutip dari Liputan6.com.
Jokowi menilai perlu digalakkan lagi sosialisasi kepada masyarakat, terutama mengenai pemulasaraan jenazah positif terinfeksi Covid-19. Dia meminta agar para tokoh agama dan budayawan dilibatkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
" Pelibatan tokoh-tokoh agama, masyarakat, budayawan, sosiolog, antropolog, dalam komunikasi publik harus secara besar-besaran kita libatkan," kata dia.
Pengambilan paksa jenazah Covid-19 kembali terjadi beberapa waktu lalu. Kebanyakan alasan yang dipakai pihak keluarga adalah belum positif terjangkit atau masih Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
Padahal, banyak jenazah yang dijemput paksa tersebut ternyata dinyatakan positif Covid-19. Sedangkan pihak keluarga tidak memakamkan jenazah tersebut sesuai protokol pencegahan virus corona.
Insiden ini terjadi di beberapa daerah seperti di Makassar, Bekasi, Surabaya, Bone Bolango, dan Manado.
Polisi turun tangan langsung menangani insiden ini. Sudah ada sejumlah pelaku yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka penjemputan paksa jenazah Covid-19.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono, mengatakan pihaknya telah menetapkan 12 tersangka jemput paksa pasien Covid-19. Kasus tersebut terjadi di sejumlah daerah.
Sumber: Liputan6.com/Lizsa Egeham.
Dream - Presiden Joko Widodo mengeluarkan teguran keras kepada para anggota kabinetnya yang dianggap menjalankan rutinitas di masa pandemik Covid-19 tanpa gerbakan dan terobosan baru. Saking jengkelnya, presiden sampai mengeluarkan ancaman membubarkan lembaga yang dianggap tak memenuhi harapannya.
Tak sampai di situ, saja, Joko Widodo juga menyampaikan bisa menggunakan haknya untuk melakukan pergantian anggota kabinet (reshuffle) jika dianggap perlu.
Pernyataan keras Joko Widodo itu disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada 18 Juni 2020 lalu. Awalnya sifat bersifat internal dan tidak dipublikasikan untuk kebutuhan publik.
Namun, pihak istana memutuskan untuk mempublikasikan amanat keras presiden tersebut dengan banyak pertimbangan.
Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekertariat Presiden RI, Bey Triadi Machmudin saat dikonfirmasi, Minggu 28 Juni 2020 lalu, mengatakan Sidang Kabinet Paripurna tersebut awalnya memang bersifat internal.
" Namun setelah kami pelajari pernyataan Presiden, banyak hal yang baik, dan bagus untuk diketahui publik, sehingga kami meminta izin kepada Bapak Presiden untuk mempublikasikannya. Makanya baru dipublish hari ini," kata Bey.
Bey mengatakan pihaknya telah mengkaji secara mendalam sebelum merilis video arahan Presiden tersebt ke pubulik.
" Kami pelajarinya agak lama juga, pelajari berulang-ulang," kata Bey.
Dalam video yang berdurasi 10 menit itu, Presiden Jokowi memberikan arahan keras kepada para menterinya. Ia bahkan sempat menyatakan kejengkelanya karena hingga kini belum ada progres yang signifikan dari jajarannya dalam kurun tiga bulan terakhir.
Presiden juga sempat menyingung tentang pengambilan langkah " extraordinary" karena saat ini Indonesia tengah berada dalam kriris.
Langkah " extraordinary" yang disebutkan Presiden tersebut untuk para menterinya dtunjukan demi menyelamatakan 267 juta rakyat Indonesia.
Selain ucapan tegasnya dalam video tersebut, Presiden juga sempat menyinggung akan melakukan reshuffle kabinet.
" Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat perppu yang lebih penting lagi. Kalau memang diperlukan," kata Jokowi pula.
(Sah, Sumber: Merdeka.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang