Kemenkes: 156 Pasien Masuk Pengawasan Covid-19

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 6 Maret 2020 07:00
Kemenkes: 156 Pasien Masuk Pengawasan Covid-19
Pasien tersebut tersebar di 23 provinsi.

Dream - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengawasi kondisi 156 orang yang masuk kategori pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona, atau Covid-19. 156 pasien tersebut berasal dari 35 rumah sakit di 23 provinsi.

" Ada sembilan yang kita tunggu crosscheck hasil pemeriksaannya. Karena metode pemeriksaan menentukan kasus tidak hanya menggunakan satu macam PCR (polymerease chain reaction)" kata juru bicara untuk wabah Covid-19 Indonesia, Achmad Yurianto, Kamis, 4 Maret 2020.

Dilaporkan Liputan6.com, metode pemeriksaan spesimen dengan menggunakan PCR tergolong cepat. Hasil pemeriksaan bisa didapat kurang 24 jam.

Meski demikian, Yurianto mengatakan, pemerintah ingin hasil tes tersebut betul-betul valid. Sehingga, Kemenkes menggunakan juga metode genome sequencing untuk mendeteksi Covid-19.

Untuk mengecek ulang genome sequencing butuh waktu tiga hari untuk memastikan.

 

1 dari 4 halaman

Penanganan PDP dan ODP

Yurianto menyebut, kategori PDP ini dibuat karena banyaknya laporan pasien positif corona dengan gejala yang tak terlalu berat. Seorang yang PDP akan langsung dilakukan pemeriksaan.

" Pasien dalam pengawasan ini yang harus betul-betul kita perlakukan dengan baik karena sudah jadi pasien. Pertama dieksplor adalah apakah ada riwayat kontak dengan yang positif Covid-19 kalau ada dan kuat kita tempatkan dia sebagai suspect Covid-19," ucap dia.

Yulianto menyebut, penanganan PDP berbeda dengan orang dalam pemantauan (ODP). Di mana, mereka tidak dimaknai sakit namun dipantau apabila menunjukkan gejala-gejala virus corona.

" Bila ODP ini mengalami sakit gejala influenza, batuk, panas, sesak, maka kita akan masukkan pasien dalam pengawasan namanya PDP," ujar dia.

Sumber: Liputan6.com/Lizsa Egeham

2 dari 4 halaman

Dewan Pers: Berita Corona Jangan Berlebihan dan Bikin Panik

Dream - Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh mengimbau media massa mengenai virus corona, Covid-19, memegang kaidah kode etik jurnalistik. Dia meminta media massa tidak memberitakan virus corona secara berlebihan.

" Media massa harus memperhatikan kepentingan publik yang luas sebelum memuat berita atau laporan mengenai kasus virus corona ini," ucap Nuh, dalam keterangan resminya, Kamis, 5 Maret 2020.

Nuh juga meminta ruang redaksi media massa tidak membuat berita yang menimbulkan kepanikan di masyarakat. Media massa, kata dia, harus bisa menjaga ketertiban masyarakat dalam laporan pemberitaan.

Nuh mengingatkan, media massa tidak memuat identitas pasien baik yang dinyatakan positif terkena virus corona dan yang masih dalam pengawasan otoritas kesehatan baik nama, foto, atau alamat tinggalnya.

" Karena pasien adalah korban yang harus dihargai hak privasinya," ujar dia.

" Media massa bersama otoritas kesehatan menyampaikan informasi yang memberikan kepastian dalam masyarakat dan tidak membuat laporan atau berita yang hanya mencari sensasi dan meresahkan masyarakat," kata dia.

Nuh berharap industri media juga mampu menjaga keselamatan reporter dan awak liputan di lapangan. Sehingga, tidak menimbulkan masalah baru semisal, terjangkit virus corona saat bertugas di lapangan.

3 dari 4 halaman

Kenapa Jokowi yang Umumkan Pasien Corona? Ini Kata Dirut RSPI

Dream - Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof Dr Sulianti Saroso, Mohammad Syahril angkat bicara terkait pengakuan pasien 01 dan 02 yang positif terinfeksi virus corona, Covid-19. Dia mengatakan, ada aturan tersendiri dalam penyampaiannya.

" Jadi betul. Jadi ini kan wabah ya. Kalau pengumuman wabah ada aturan siapa yang harus berbicara pertama kali," kata Syahril, Rabu, 4 Maret 2020.

Syahril mengatakan, posisinya selaku Direktur Utama RSPI Sulianti Saroro tak punya kapasitas untuk menyampaikan wabah ini.

Sehingga, pihak rumah sakit tak serta merta mengumumkan langsung pada dua pasien soal positif virus corona.

" Saya pun sebagai Dirut tidak boleh bicara. Itu sudah aturannya. Luar biasa kemarin Presiden yang mengumumkan dan itu sudah ada UU nya. Kami pun tidak memberi tahu ke pasien sebelum presiden mengumumkan," ucap dia

Untuk diketahui, beredar pengakuan di media sosial dari pasien kasus 1 dan 2 positif Covid-19. Keduanya mengaku baru mengetahui positif terinfeksi virus corona melalui pemberitaan. Tidak diinfokan langsung oleh pihak rumah sakit.

Sumber: 

4 dari 4 halaman

Usai Rawat Pasien Corona, Dokter Ini Sukarela Isolasi Diri

Dream - Seorang dokter Malaysia mengisolasi dirinya sendiri dari rekan dan keluarganya setelah menangani seorang pasien virus corona, COVID-19.

Menurut laman FMT, Dr Sanjiv Joshi secara sukarela menjauhkan diri dari rumah sakit, klinik dan keluarganya selama 2 minggu setelah merawat pasien corona.

Tindakan sadar dan cerdas dokter spesialis kardiologi di Rumah Sakit Pantai Kuala Lumpur ini menerima pujian dari Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Dr Noor Hisham Abdullah.

Menurut Hisham, Dr Sanjiv merawat seorang pasien wanita yang positif virus COVID-19 setelah tertular pasien Jepang. Setelah itu Dr Sanjiv mengisolasi dirinya selama 14 hari.

" Saya berharap mereka yang pernah kontak langsung atau berada dalam jarak dekat dengan dia melakukan hal yang sama," katanya.

Namun, di Facebook, Hisham menyatakan Dr Sanjiv dinyatakan negatif virus korona. Meski begitu, dia memutuskan untuk mengisolasi dirinya sebagai tindakan pencegahan.

Sementara itu, Rumah Sakit Pantai menyatakan bahwa semua staf dan pasien yang telah melakukan kontak dengan seorang pasien Jepang sejak 26 Februari telah menjalani tes. Hasilnya, seorang perawat magang dan pasien dinyatakan positif virus corona.

Semua pasien dan staf yang melakukan kontak dengan perawat magang itu dikarantina. Meskipun dinyatakan negatif, mereka tetapi diawasi dengan ketat.

" Rumah sakit telah melakukan beberapa langkah pencegahan, termasuk membatasi pintu masuk ke rumah sakit dengan memeriksa suhu dan gejala semua orang yang datang ke rumah sakit," kata Rumah Sakit Pantai.

Sumber: World of Buzz

Beri Komentar