Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Ahmed tengah mengendarai taksinya berkeliling London pada dini hari. Sembari memegang kendali, dia menyalakan radio, untuk kemudian mematikannya.
" Tidak ada lagi berita buat saya," kata Ahmed.
Ahmed adalah seorang muslim London keturunan Pakistan. Dia tinggal di Ibu Kota Inggris itu bersama istri dan anaknya yang kini berusia 10 tahun.
Dia merasa kehidupan di Inggris tidak lagi mudah baginya dan komunitas muslim. Usai teror Perancis, Ahmed dan anggota komunitas muslim merasa terus disudutkan atas apa yang tidak pernah mereka lakukan.
" Apa yang akan saya katakan kepada anak saya? Dia hanya anak berusia 10 tahun. Setiap saya nyalakan berita, orang-orang berbicara tentang Islam, tentang muslim, tentang agama yang saya arahkan anak saya untuk mencintainya," ungkap Ahmed.
Setelah serangan yang dilakukan 'muslim' lain, Ahmed merasa agamanya tengah diserang. Teman-temannya dan keluarganya merasa sangat malu dan terdorong untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.
Mereka yakin tidak semua muslim seperti itu. Selayaknya mengingatkan semua orang tidak semua pemeluk Islam diperintahkan untuk membunuh atas nama Allah. Ini merupakan persoalan mentalitas.
Kini, agamanya seperti menjelma sebagai kesamaan atas kejahatan.
Ahmed ingin menjelaskan, setiap serangan terjadi, hal itu berarti mempersulit untuk memperoleh rasa aman di jalan-jalan di London. " Saya sudah tidak lagi merasa ada di sini lagi," ungkap Ahmed.
Setiap, Ahmed ingin pergi meninggalkan apa yang dia alami. Dia jengah atas apa yang dideritanya. " Tapi, ke mana saya akan pergi?" kata dia. Keluarganya, rumahnya, pekerjaannya, semua ada di London dan dia tidak mungkin pergi ke Pakistan.
" Saya terlalu terbaratkan. Ditambah, saya adalah seorang Inggris, dan saya tidak ingin pergi ke manapun," kata dia.
Teror Paris membawa dampak begitu buruk terhadap para muslim. Banyak dari mereka dipersalahkan hanya lantaran memeluk agama Islam.
Kisah serupa dialami oleh seorang sopir taksi muslim di New York, Amerika Serikat. Dia sampai menangis lantaran dituduh menjadi bagian dari ISIS.
Padahal, dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Alhasil, tidak ada satupun orang yang mau menaiki taksinya dan dia terpaksa kehilangan nafkah.
(Ism, Sumber: independent.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya