Putri Tukang Becak Lulus S2 ITB, Gelar Master Diraih Cuma 10 Bulan

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 25 Juli 2019 16:01
Putri Tukang Becak Lulus S2 ITB, Gelar Master Diraih Cuma 10 Bulan
Hera akan mengabdi sebagai dosen di Banten.

Dream - Tahun lalu, Herayati Sawitri, menyedot perhatian publik. Putri tukang becak asal Kota Cilegon, Banten ini menorehkan prestasi membanggakan. Dia meraih gelar sarjana (S1) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat Cum Laude.

Kali ini, Herayati kembali menorehkan prestasi. Hera lulus dari jenjang S2 di almamaternya pada 20 Juli 2019 lalu.

Sama seperti saat kuliah tingkat Sarjana, kali ini Herayati mengukir prestasi dengan menghabiskan pendidikan master hanya dakan waktu 10 bulan.

" Saya ambil S2 Kimia. Masa studi kurang lebih 10 bulan. Hera lulus sidang Magister 15 Mei lalu," kata Hera, dikutip dari BantenNews.co.id.

Setelah lulus S1 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,77, Hera mendapat kesempatan menempuh studi S2 melalui program beasiswa Fast Track ITB. Dia mengambil Program Pascasarjana Kimia.

1 dari 7 halaman

Mengabdi Sebagai Dosen di Banten

Usai meraih gelar Magister, Hera punya keinginan mengabdi di Banten sebagai dosen. Dia sudah diminta menjadi pengajar oleh pihak rektorat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).

" Setelah wisuda saya ingin mengabdi di Banten," kata Hera.

Selain menjadi dosen, Hera masih punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Tetapi, mimpi itu akan dia wujudkan beberapa tahun lagi setelah dia resmi mengajar di Untirta.

" Pengennya nanti setelah resmi jadi dosen, mungkin 2021 akan ambil studi S3," kata Hera.

Sumber: Bantennews.co.id

2 dari 7 halaman

Putri Pengayuh Becak Lulus ITB dengan Predikat Cum Laude

Dream - Gadis kelahiran Cilegon, Banten, Herayati, membuktikan kekurangan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Gadis putri seorang tukang becak ini lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat Cumlaude.

Herayati menamatkan pendidikan sarjana di Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna yaitu 3,77. Bahkan sat menjalani kuliah semester V, IPK Herayati masuk kategori sempurna, 4,00.

Selama kuliah, Herayati tidak mengandalkan uang dari orangtua. Mahasiswi berprestasi ini mendapatkan beasiswa Bidik Misi.

Herayati mengaku sudah lama ingin kuliah di ITB dengan beasiswa. Dia terinspirasi oleh salah satu alumni di sekolahnya yang bisa kuliah di kampus yang sama tanpa uang pribadi sepeserpen, sepenuhnya dari beasiswa.

" Saya juga ingin berkuliah tanpa membebankan biaya ke orang tua," kata Herayati dikutip dari itb.ac.id, Kamis 26 Juli 2018.

Meski begitu, dia tidak sepenuhnya menggantungkan pembiayaan dari beasiswa. Herayati juga mencari yang tambahan dengan menjadi guru les privat untuk mahasiswa tingkat pertama ITB.

Meski sibuk dengan tugas kuliah dan mengajar, nyatanya Herayati tetap bisa berprestasi. Awal tahun 2017, gadis ini mendapatkan penghargaan dari Dosen FMIPA karena IP yang selalu sempurna sejak semester I sampai semester V.

Tak hanya itu, Herayati juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam Asia Pasific Future Leader Conference 2017 di Kuala Lumpur. Dia merasa sangat bangga menjadi wakil Indonesia.

" Ini salah satu momen yang tak terlupakan selama menjadi mahasiswa karena bertemu dengan orang-orang dari negara lain," ucap Herayati.

Prestasi tersebut membuat Herayati mendapat banyak dana bantuan pendidikan. Beberapa di antaranya seperti dari Pemerintah Kota Cilegon, Kepala Staf Presiden Moeldoko, dan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan.

Saat ini, Herayati tercatat sebagai mahasiswi program fast track yang dicanangkan ITB. Program ini memungkinkan seorang mahasiswa menempuh pendidikan S1 sekaligus S2 selama lima tahun.

(Sah)

[crosslink_1]

3 dari 7 halaman

Putri Tukang Becak Lulus ITB dengan IPK Sempurna

Dream - Jumat pekan lalu menjadi hari bahagia sekaligus bersejarah bagi Herayati. Mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut TeknologiBandung (ITB) itu mendapat penghargaan langsung dekan.

Butuh perjuangan untuk bisa mendapat penghargaan tersebut. Hera layak mendapatkan penghargaan itu karena berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, 4,0.

Hera pun mendapat kesempatan mengikuti program fast track, yaitu menempuh jenjang S1 sekaligus S2 hanya dalam waktu 5 tahun.

"  Alhamdulillah dapat IP4. Berkat IP itu saya mendapat penghargaan dari dekan FMIPA ITB," ujar Hera, dikutip dari bantennews.com, Senin 13 Februari 2017.

Mendapat penghargaan itu membuat semangat belajarnya meninggi. Dia pun harus lebih keras dalam belajar.

" Saya sekarang lagi ngejalanin program honours yakni program bagi mahasiswa dengan kemampuan akademik yang baik," kata dia.

" Insya Allah akan lanjut ke program fast track yaitu program S1 dan S2 hanya 5 tahun. Belum tahu ada beasiswa atau tidak untuk S2 ini, namun saya akan berusaha bisa mencapai program ini," ucap Hera.

4 dari 7 halaman

Anak Tukang Becak

Mahasiswi asal Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Banten, ini bukan berasal dari keluarga mampu. Dia hanyalah anak dari seorang ayah berprofesi sebagai tukang becak dan ibu yang merupakan ibu rumah tangga biasa.

Mungkin banyak dari mereka kurang bersemangat dalam belajar lantaran kondisi keuangan yang serba kurang. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Hera, yang diterima kuliah di ITB dengan beasiswa penuh.

Ayah Hera, Sawiri kerap menarik becak di Kecamatan Grogol dengan penghasilan hanya sebesar Rp15.000 perhari. Tentu uang itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Meski penghasilan orangtuanya sangat kurang, Hera pantang menyerah. Dia sangat yakin, Allah Maha Kaya.

Semangat itu justru mengantarkan Hera meraih prestasi begitu tinggi. Semua berkat kerja keras yang dia jalani selama ini.

Meski begitu, Hera sempat merasakan kepahitan. Dia pernah tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) hanya karena panitia meragukan nilai rapornya.

" Waktu itu SNMPTN ITB, panitianya tidak percaya kalau nilai saya di rapor besar-besar. Akhirnya, saya ikut tes tertulis dan akhirnya saya diterima," ucap Hera.

Dia menambahkan, semangatnya belajar terinspirasi dari perjuangan pantang menyerah kedua orangtuanya dalam menjalani hidup. Dia ingin orangtuanya bisa hidup lebih baik.

" Saya ingin mengubah hidup orangtua saya dan ingin membangun daerah kelahiran saya," tutur Hera.

Capaian yang ditorehkan Hera membuat sang ayah, Sawiri, bangga. Dia sampai menitikkan airmata saat Hera dinyatakan lulus dari ITB dengan predikat Cumlaude.

" Saya tidak bisa berbuat banyak selain berdoa kepada Allah untuk kesuksesan Hera," kata Sawiri.

5 dari 7 halaman

Bikin Skripsi #2019GantiPresiden, Regita Lulus Cum Laude

Dream - Tagar #2019GantiPresiden belakangan sedang ramai dibincangkan di media sosial. Tagar ini pula yang mengantarkan Regita Anggia lulus dari Program Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung dengan IPK 4,0.

Regita menjalani wisuda dan meraih gelar Wisudawati Cum Laude di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad pada 6 Februari lalu.

Dia membuat skripsi dengan judul 'Pengaruh Sikap pada #2019GantiPresiden sebagai Gerakan Populis Terhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula Universitas Padjdjaran Melalui Penggunaan #2019GantiPresiden di Media Sosial" ,

Dikutip dari unpad.ac.id, Regita mengaku ingin meraih IPK 4,00 sejak awal kuliah. Motivasinya muncul berkat kisah seniornya yang lulus dengan catatan IPK tersebut.

Regita mengatakan sebenarnya dia bukanlah tipikal mahasiswa kutu buku. Meski begitu, dia selalu berusaha melakukan yang terbaik di setiap perkuliahan.

" Kalau di kelas, saya tidak bisa tidak menulis, apapun itu, yang di papan tulis, presentasi dosen, atau yang diucapkan dosen," ujar Regita.

 

6 dari 7 halaman

Tujuan Pasti Tercapai Jika Ditekuni

Gadis itu bercerita sempat merasa berat harus membaca banyak buku di awal-awal kuliah. Dia mengakui belum terbiasa memahami banyak teori dalam waktu relatif cepat.

Untuk mengatasinya, cara terbaik yang dilakukan Regita adalah membuat catatan kuliah. Dengan begitu, dia bisa memahami materi kuliah yang diterimanya.

" Setiap minggu juga mengusahakan selalu ada catatan ulang mata kuliah apapun yang dirasa ada bagian yang tidak dimengerti," kata Regita.

Selanjutnya, Regita berprinsip sebuah tujuan akan tercapai jika benar-benar ditekuni. Selain itu, tidak mudah terpengaruh omongan orang.

" Saya yakin setiap orang punya lampauan batas diri sendiri, apapun itu, kita pasti bisa lakuin asal memang ada tujuannya," kata dia.

 

7 dari 7 halaman

Torehkan Prestasi

Selama menjadi mahasiswi Unpad, Regita telah menorehkan banyak prestasi. Beberapa di antaranya seperti Juara III Kompetisi Penulisan Esai 2017 yang digelar Telkom University dan Juara III Penelitian Kawula Muda 2018 yang diadakan Universitas Gadjah Mada.

Usai lulus, Regita berencana melanjutkan studi mengambil konsentrasi komunikasi politik sekaligus menjadi peneliti. Riset adalah dunia yang sangat digemari Regita.

" Ke depannya saya ingin meneliti, karena amat sangat senang penelitian, lalu ingin lebih baik juga, dan ingin melampaui batas," ucap dia.

(ism, Sumber: Unpad.ac.id)

Beri Komentar
Bukan Pertama Kali, Ini Deretan Kebrutalan Anjing Milik Bima Aryo