Membelot ke AS, Ilmuan China Bongkar Rahasia Besar Covid-19

Reporter : Reni Novita Sari
Rabu, 15 Juli 2020 16:00
Membelot ke AS, Ilmuan China Bongkar Rahasia Besar Covid-19
Pemerintah China sengaja menutupi hal ini pada Dunia

Dream- Ahli virologi dari Hong Kong, Li-Meng Yan, yang melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa China sebenarnya sejak awal tahu bahaya Covid-19 bisa menular ke seluruh dunia.

Sebagai laboratorium rujukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berspesialisasi dalam virus dan pandemi influenza, Li-Meng Yan juga percaya bahwa ia dan rekan-rekannya memiliki kewajiban untuk memberi tahu dunia tentang penelitiannya, namun enggan melakukannya.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, dia juga mengatakan bahwa supervisornya mengabaikan penelitian yang dilakukannya sejak awal wabah, yang akhirnya menyebabkan pandemi global Covid-19.

Ia mengklaim seandainya dunia tahu lebih awal tentang informasi penting ini, tentu akan menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Yan mengatakan dia adalah salah satu ilmuwan pertama yang mempelajari virus corona yang kemudian dikenal sebagai Covid-19, dan mengklaim pada akhir Desember 2019 dia diminta oleh supervisornya di universitas, Dr. Leo Poon, untuk melihat keanehan sekelompok kasus mirip SARS di daratan China.

" Pemerintah China menolak untuk membiarkan para ahli luar negeri, termasuk yang ada di Hong Kong, melakukan penelitian di China," katanya kepada Fox News.

Li-Meng Yan, mulai meninggalkan China pada 28 April 2020, saat Covid-19 mencapai puncak penyebaran di Negeri Tirai bambu. Ia juga meninggalkan semua orang yang dicintainya.

Yan paham betul tentang risikonya membelot dari China. Karena ia bisa sewaktu-waktu dijebloskan ke penjara, dihilangkan, atau bahkan dibunuh. Namun ia tetap bersikukuh membongkar kebenaran yang disembunyikan Xi Jinping dan anak buahnya.

1 dari 4 halaman

Menyampaikan Kebenaran Tentang COVID-19

Setibanya di AS diduga FBI sempat mewawancarainya berjam-jam dan menyelidiki Yan.

" Alasan saya datang ke AS adalah karena saya menyampaikan pesan kebenaran Covid-19," ujarnya.

 covid-19© Ilustrasi foto : shutterstock

Seorang teman yang dia hubungi adalah ilmuwan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di China yang katanya memiliki pengetahuan langsung tentang kasus-kasus yang keluar dari Wuhan.

Temannya memberi tahu Yan pada 31 Desember tentang penularan dari manusia ke manusia, beberapa waktu sebelum China atau WHO mengakui bahwa penyakit itu mungkin adalah Covid-19. Pada hari yang sama 27 kasus pneumonia dilaporkan di Wuhan, lokasi yang diyakini menjadi tempat virus itu berasal.

2 dari 4 halaman

Menduga Pihak China Menutupi Kebenaran

Ketika dia memberi tahu atasannya apa yang dilaporkan temannya 'dia hanya mengangguk', kenang Yan, dan menyuruhnya terus melanjutkan penelitiannya.

Pada 9 Januari, WHO mengeluarkan pernyataan yang mengatakan:

" Menurut pihak berwenang China, virus yang dimaksud dapat menyebabkan penyakit parah pada beberapa pasien dan tidak mudah menular antar-orang.”

" Ada informasi terbatas untuk menentukan risiko keseluruhan klaster yang dilaporkan ini,” imbuh Yan.

 covid-19© Ilustrasi foto : shutterstock

Setelah itu, dia mengatakan bahwa temannya yang berbicara terbuka menjadi tutup mulut, terutama di Wuhan, sementara yang lain memperingatkan Yan untuk tidak bertanya tentang detailnya.

Namun, beberapa sumber mengatakan kepadanya bahwa jumlah penularan dari manusia ke manusia meningkat secara eksponensial. Tetapi ketika dia melaporkan temuan lebih lanjut kepada atasannya, dia diberitahu " untuk tetap diam, dan berhati-hati" .

3 dari 4 halaman

Yan Merasa Terancam

Yan juga mengklaim bahwa Profesor Malik Peiris, co-direktur laboratorium yang berafiliasi dengan WHO, mengetahui tentang penyebaran penyakit tetapi tidak bertindak. Sementara Yan mengatakan dia frustrasi, dia tidak terkejut.

" Saya sudah tahu itu akan terjadi karena saya tahu korupsi di antara organisasi internasional seperti WHO kepada pemerintah China, dan Partai Komunis China," katanya.

 covid-19© Ilustrasi foto : shutterstock

Baik Cina dan WHO membantah dengan keras soal klaim yang ditutu-tutupi ini. WHO yang membantah pernah bekerja dengan Yan, atasannya Poon atau Profesor Peiris, mengklaim dalam sebuah pernyataan bahwa sementara Peiris adalah seorang ahli yang telah melakukan misi dan ahli kelompok, dia bukan anggota staf dan tidak mewakili WHO.

Yan sekarang bersembunyi dan mengklaim bahwa pemerintah China berusaha untuk menodai reputasinya, menuduh " preman pemerintah" melakukan serangan siber terhadapnya untuk membuatnya tetap diam. 

4 dari 4 halaman

AS secara konsisten menuduh China menutupi permulaan dan penyebaran pandemi, dengan Presiden Donald Trump mengatakan Beijing harus bertanggung jawab penuh atas " kerahasiaan, penipuan, dan penutupan" yang memungkinkannya menyebarkan virus corona di seluruh dunia. .

Trump telah menyatakan kekecewaannya atas penanganan Cina terhadap pandemi COVID-19 di masa lalu. Pada bulan Mei, ia mengklaim bahwa " ketidakmampuan" Beijing yang menyebabkan pembunuhan massal di seluruh dunia.

China membantah klaim " menutupi" tingkat penyebaran koronavirus dan menuduh AS berusaha mengalihkan perhatian publik dengan menyindir bahwa virus itu berasal dari laboratorium virologi di Wuhan.

 Sumber : Daily Star

Beri Komentar