Akikah Buah Hati, Tersimpan 4 Hikmah yang Luar Biasa

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 6 Agustus 2020 14:04
Akikah Buah Hati, Tersimpan 4 Hikmah yang Luar Biasa
Setelah anak lahir, Islam menganjurkan orangtua untuk melaksanakan akikah.

Dream - Membangun sebuah keluarga berlandaskan niat karena Allah SWT, bakal mendatangkan keberkahan dunia akhirat. Kehadiran buah hati di tengah keluarga, wajib disambut penuh dengan rasa syukur dan kesiapan untuk mendidiknya agar menjadi seorang muslim/ muslimah yang baik.

Setelah anak lahir, Islam menganjurkan orangtua untuk melaksanakan akikah. Memotong seekor kambing jika yang lahir anak perempuan dan dua ekor kambing jika dikaruniai anak lelaki.

Syariat ini disunnahkan. Jika orangtua mampu, akikah akan membawa banyak hikmah. Apa saja? Berikut penjelasannya dikutip dari Bincang Muslimah.

Bersyukur
Mengakikahkan anak merupakan bagian dari bersyukur. Bergembira atas nikmat Allah SWT yang telah memudahkan proses persalinan, memberikan rezeki kepada kedua orangtua berupa seorang anak, dan anak yang mencintai kepada orangtuanya. Seperti diperingatkan Allah dalam surah AzZumar dan Ibrahim.

“ …Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu itu …” (Q.S. Az-Zumar/7) “ …Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan (nikmat) kepadamu…” (Q.S. Ibrahim/7).

 

1 dari 6 halaman

Umumkan Nasab dan Kedermawanan

Mengabarkan kelahiran anak
Akikah di Indonesia biasanya digelar dengan mengaji bersama lalu menyatap hidangan kambing. Hal ini untuk menyiarkan dan menyebarkan nasab anak yang merupakan suatu keharusan.

Menumbuhkan kedermawanan
Akikah juga menumbuhkan rasa murah hati dan kedermawanan kepada manusia dan menentang penyeruan sifat kikir yang dapat menyerang hati. Allah SWT berfirman, “ …dan manusia itu menurut tabiatnya kikir…” (Q.S. An-Nisa’/128), “ …Dan siapa yang dijaga dirinya dari dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Hasyr/9)

 

2 dari 6 halaman

Menyenangkan banyak orang

Berkumpul bersama sambil makan hidanga istimewa dan menyambut bayi, tentu menyenangkan hati keluarga, kerabat, teman-teman, dan orang-orang fakir. Makan dan bertemu dengan mereka dapat menumbuhkan rasa sayang, cinta, dan kelembutan. Islam adalah agama yang selalu mengajarkan kelembutan, cinta, dan silahturahmi.

Selengkapnya baca di sini

3 dari 6 halaman

Islam Ajarkan Orangtua Penuhi 4 Kebutuhan Psikologis Buah Hatinya

Dream - Orangtua akan rela bekerja keras melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhan materi anak. Sekolah yang bagus, makanan bergizi, fasilitas bermain dan belajar yang memadai dan masih banyak lagi.

Selain materi, ada juga yang sangat dibutuhkan anak, yaitu perhatian, komunikasi dan lingkungan sosial yang sehat. Hal ini merupakan kebutuhan psikologis yang juga harus dipenuhi oleh orangtua.

Dikutip dari BincangMuslimah.com, Dr. Faizah Ali Syibromalisi dalam salah satu makalahnya yang berjudul “ Pengasuhan Anak Usia Dini dalam Sorotan Agama” menjelaskan bahwa ada kebutuhan psikologis anak yang harus dipenuhi orantua dalam sorotan Islam. Apa saja?

1. Pelukan dan ciuman

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi pernah melihat Nabi Muhammad SAW sedang mencium Hasan bin Ali (cucunya), lalu ia berkata, “ Sungguh, aku memiliki sepuluh anak, namun aku tidak pernah mencium satupun dari mereka.” Nabi Muhammad bersabda, “ Siapa yang tidak menyayangi, maka ia pun tidak akan disayangi.” (H.R. Ibnu Hibban)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi anak-anak kecil, terlebih bila anak itu berasal dari darah dagingnya sendiri, yakni cucu beliau. Bahkan di dalam hadis lainnya, beliau bersabda, “ Bukan termasuk dari golongan dari kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang tua (orang dewasa) kami.” (H.R. At-Tirmidzi). Dan memberikan pelukan dan ciuman kepada anak-anak adalah salah satu bentuk sentuhan psikologis yang sangat dibutuhkan mereka.

 

4 dari 6 halaman

2. Menghormati dan mengelus anak

Dari Anas r.a., bahwa Rasulullah pernah mengunjungi sahabat-sahabat Anshar (di Madinah), beliau memberi salam kepada anak-anak kecil mereka dan mengelus kepala mereka. (H.R. Ibnu Hibban).

Mengelus kepala anak merupakan bentuk ekspresi kasih sayang kepada anak. Pada hadis tersebut Rasulullah telah memberikan teladan yang baik sebagai seorang dewasa, beliau tidak hanya menghormati dan menyayangi sahabat-sahabatnya saja, tetapi juga kepada anak-anak mereka.

Teladan beliau ini pun diikuti oleh sahabat Anas bin Malik r.a. sebagaimana dikisahkan di dalam kitab Shahih Al-Bukhari. Setiap ia melewati anak-anak kecil di jalan, pasti ia akan memberi salam kepada mereka seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

5 dari 6 halaman

3. Mengajak bermain dan bercanda

Abu Hurairah mengatakan bahwa ia melihat Rasulullah dengan mata kepalanya sedang bermain dengan kedua cucunya. Keduanya bergantian menaiki punggung Nabi Muhammad SAW sampai puas.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “ Pada suatu siang saya keluar bersama Rasulullah. Beliau tidak berbicara kepada saya dan saya pun tidak berbicara kepada beliau hingga beliau mendatangi pasar Bani Qainuqa. Kemudian, beliau pulang dan mendatangi tenda Fatimah seraya bertanya, “ Apakah ada Luka’? Apakah ada Luka’? (Yang dimaksud dengan Luka’ adalah Hasan) Kami menduga bahwasannya Hasan sedang dibawa oleh ibunya untuk dimandikan dan dipakaikan seutas kalung tanpa permata. Tak lama kemudian, Hasan muncul dan akhirnya keduanya (Rasulullah dan Hasan) saling berpelukan. Lalu, Rasulullah saw. berdoa, Ya Allah sungguh, saya mencintainya. Oleh karena itu, cintailah ia dan cintailah orang yang mencintainya.” (H.R. Muslim)

 

6 dari 6 halaman

4. Komunikasi

Komunikasi sangat penting antara orangtua atau pengasuh dengan anak. Melalui komunikasi, terjadi kedekatan dan saling pengertian. Anak dengan mudah diajak kerjasama. Sebaliknya, kurangnya komunikasi antara orang tua atau pengasuh dengan anak menyebabkan anak sulit diajak kerjasama. Bahkan, anak akan berpikiran negatif dengan aturan-aturan yang ada.

Salah satu contoh komunikasi yang baik antara orangtua dan anak digambarkan oleh Al-Qur’an tentang Nabi Ibrahim a.s. dan putranya; Ismail a.s. yang akan disembelihnya.

Dan dia (Ibrahim) berkata, “ Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shaleh.” Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “ Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “ Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. (Q.S. As-Shaffat: 99-102).

Penjelasan selengkapnya baca di sini

Beri Komentar