Maut (1): Mereka Selamat dari Maut

Reporter : Eko Huda S
Senin, 1 Juni 2015 18:49
Maut (1): Mereka Selamat dari Maut
Terkubur lumpur tapi masih hidup. Tujuh kali selamat dari maut. Baca kisah mereka.

Dream - Deden belum terpejam. Meski berbaring, matanya masih berjaga.  Tiba-tiba semua berubah gelap. Longsoran tanah bergulung bak air bah. Belum lagi menyadari apa yang terjadi, tubuh terhempas. Dibenam kenggerian itu, dia hanya bisa berpekik lirih: Allahu Akbar... Allahu Akbar...

Segalanya terjadi begitu cepat. Segegas kedipan mata. Belum sempat nafas terhela, badan Deden sudah tertimbun tanah. Tertelungkup. Tanah menghimpit dari berbagai penjuru. Atas-bawah. Kiri-kanan. Nyaris tak bisa gerak. Mata tak bisa dibuka. Ini maut. Hanya itulah yang berputar di kepala. Hidup sudah habis.

Dikubur longsoran lumpur itu, Deden menemukan kehidupan dari tangisan seorang bayi. Suara tangisan itu jelas terdengar. Dan itu yang membangunkan kesadaran bahwa dia belum mati. Lalu berusaha menghimpun semua kesadaran.

Astaga! Suara tangisan itu datang dari putri semata wayangnya, Ratnasari Dewi. Sang anak rupanya ikut tertimbun. Dan masih dalam pelukannya. Naluri sebagai ayah pun menyala. Anak itu harus selamat. Dengan sisa tenaga, tangan yang sudah lemah itu menopang tubuh. Sehingga tak menindih bayi 7,5 bulan itu.

Lima belas menit dikubur lumpur sebanyak itu, tentu saja mengerus tenaga. Tapi Deden sudah bertekad. Berusaha bangkit. Tangan kiri memeluk bayi. Tangan kanan terus menggali. Menyingkirkan tanah yang menimpa.

Upaya itu berhasil. Tanah yang menekan terus menipis. Tubuh tertelungkup itu perlahan bergerak. Menengadah. Itulah pertama kali matanya terbuka. Lamat-lamat dia melihat rembulan di angkasa. Dalam kelelahan dia memanggil nama istrinya, Suryati.

Sedepa dari tubuh Deden, Suryati tergeletak. Beruntung kondisinya tak parah. Hanya separuh terpendam. Sehingga, teriakan Deden jelas terdengar. Dengan sempoyongan, perempuan berlumur lumpur itu bangkit. Menghampiri suara yang sudah karib itu.

Benar saja, Suryati mendapati tubuh Deden berlumur lumpur. Dia juga melihat putri tercinta di tangan kiri suaminya. Bayi itu segera diambil. Kemudian Suryati membantu Deden bangkit berdiri.

Di atas longsoran itu, keduanya terdiam sejenak. Nafas masih ngos-ngosan. Masih bingung. Tempat itu sangat asing. Mata hanya bisa memandang hamparan tanah basah. Deden dan keluarganya berada tujuh meter dari rumah mereka, yang sudah rata pula dengan tanah.

Saat nafas tak lagi tersengal, keduanya saling merangkul. Sambil memeluk si buah hati yang belum berhenti menangis, mereka bersimpuh di tanah becek itu. Di bawah rintik hujan itu, mereka bercucuran air mata. Inilah tangis haru keluarga yang baru saja selamat dari maut.

Segeralah Deden sadar. Tempat itu belum aman. Longsor sewaktu-waktu bisa kembali terjadi. Apalagi hujan yang mengguyur semenjak sore, belum juga tamat. Diajaklah sang istri menjauh. Mereka merangkak ke arah pohon pete. Di dekat pemakaman. Di sanalah mereka bersandar. Menghimpun semua sisa tenaga.

Tak berapa lama, orang-orang ramai tiba di tempat itu. Mereka mendapati pemukiman di Kampung Cimerak, Tegal Panjang, Kecamatan Cireunghas, Sukabumi, Jawa Barat, itu sudah tersapu. Rata dengan tanah. Deden dan keluarga pun segera dievakuasi.

***

Dua bulan sudah, malapetaka itu berlalu. Namun bayang kelam masih menggelayut pada ingatan Deden dan Suryati. Musibah Sabtu malam, 28 Maret 2015, itu benar-benar meninggalkan kenggerian. Lebih dari sekedar trauma.

Berusaha melupakan, tapi masih terbayang-bayang. “ Istri saya kasihan. Dia sedih. Selalu menangis kalau ingat kejadian itu,” tutur Deden saat berbincang dengan Dream.co.id.

Sesudah berkisah soal malam kelam itu, Deden berhenti sejenak. Mata menerawang jauh. Menebar tatapan kosong. Dengan suara terbata, dia berkali-kali berusaha melanjutkan cerita. Tapi selalu gagal. Kalimat yang sudah terajut di angan, akhirnya buyar, tak terucap. Wajahnya berubah murung. Mata berkaca-kaca.

Gurat kesedihan juga terlihat jelas di wajah Suryati. Matanya terus berkaca-kaca. Tangan yang sibuk menggendong bayi sesekali menyeka air mata. Ibu muda ini juga beberapa kali menundukkan kepala.

Suasana di emper rumah kontrakan itu sejenak sepi. Deden dan Suryati larut dalam kesedihan mendalam. Untuk beberapa lama, lalu Deden memecah keheningan. Dia menghela nafas panjang. Dengan suara bergetar, Deden melanjutkan kisah ini. “ Saya sempat lihat jam dinding. Waktu itu jam 11.30 malam, sebelum kejadian ketimpa rumah,” lanjutnya.  

Deden ingat betul. Saat itu dia baru pulang dari bengkel. Tempatnya mencangkul hidup. Hujan yang mengguyur sejak sore memaksa dia pulang malam. Sehingga, selarut itu dia masih terjaga.

Setelah salat Isya, dia baru beranjak ke peraduan. Berbaring di atas dipan. Bersama sang istri, dia apit si buah hati yang sudah terlelap. Mereka sempat berbincang hangat. Menyusun rencana. Soal rencana perbaikan rumah.

Percakapan Deden dan Suryati sebenarnya belum tuntas. Namun longsor keburu menyapu. Menerjang segala-galanya. Menerjang rumah warisan itu. Menerjang mimpi keluarga kecil ini, merenovasi rumah. “ Tiba-tiba langsung gelap. Punggung saya kedorong dinding. Langsung telungkup, menindih anak saya yang lagi tidur,” ujar pria yang bekerja sebagai tukang las itu.

Sejak itulah perjuangan hidup mati dimulai. Berjibaku di bawah lumpur. Menyelamatkan jiwa dan si buah hati. “ Perasaan sudah meninggal. Semua gelap. Saya cuma istigfar. Saya sudah pasrah, ini mungkin sudah di kubur,” timpal Suryati.

Keduanya seolah tak percaya bisa selamat dari sang maut. Di dalam lumpur itu, selain kematian, tak ada lagi isi benak yang lain.  Sehingga, mereka merasa inilah kesempatan kedua untuk hidup. “ Ini kesempatan buat saya dan istri untuk lebih beriman lagi. Perbanyak ibadah. Kami tak mau membuang kesempatan yang sudah diberikan Allah,” tutur Deden.

Kini, Deden dan Suryati tinggal di rumah kontrakan. Berjarak 20 kilometer dari rumah mereka yang terkubur itu. Pada rumah yang beralamat di Kampung Babakan Ranji, Bojong Galing, itulah keluarga ini berusaha mengubur trauma. Membangun hidup baru.

Sebagai suami, Deden ingin keluarganya kembali normal. Terutama sang istri yang trauma mendalam atas tragedi itu. Dia belum berani meninggalkan istri lama-lama. “ Kasihan dia, masih trauma. Suka nangis sendiri. Saya masih berusaha agar traumanya cepet ilang,” kata dia.

Suryati memang sangat terpukul. Ibu dan kakaknya berada di antara 12 korban tewas yang ditemukan. “ Kami sangat berduka. Apalagi korban adalah ibu dan kakak. Kami tak bisa apa-apa, kecuali pasrah,” ujar Deden.

***

Hidup dan mati memang rahasia Tuhan. Misteri. Tak bisa diduga. Manusia tak ada yang tahu kapan malaikat maut datang menjemput. Dan kisah-kisah selamat dari kematian semacam itu tak hanya terjadi pada keluarga Deden. Cerita serupa juga terjadi di banyak tempat. Dalam berbagai peristiwa. Dengan jenis kenggerian yang berbeda.

Simak saja kisah Maarten de Jonge. Pembalap sepeda asal Belanda ini “ nyaris” menjadi korban kecelakaan yang menimpa dua penerbangan pesawat Malaysia Airlines, yaitu MH370 dan MH17.

Pada 8 Maret tahun lalu, de Jonge mestinya mengikuti penerbangan MH370 dari Kuala Lumpur, Malaysia yang melangit ke Beijing, China. Lantaran ada urusan yang tertinggal, dia membatalkan penerbangan itu pada menit-menit terakhir.

Pesawat yang mengangkut 239 orang itu ternyata tak pernah sampai ke Beijing. Boeing 737 itu dinyatakan raib. Hingga kini belum ditemukan. Meski belum jelas, pemerintah Malaysia kemudian menyatakan pesawat itu mengalami kecelakaan. Dan tak ada yang selamat.

Pada Juli 2014, de Jong juga berencana terbang bersama MH17 dari Amsterdam ke Kuala Lumpur. Karena masih ada urusan, dia mengubah rencana. Menunda keberangkatan. Dan benar saja. Pada Kamis 17 Juli itu, MH 17 jatuh akibat dirudal di perbatasan Ukraina dan Rusia. Tak ada manusia di pesawat yang selamat. “ Saya telah telah beruntung dua kali, dan berharap mendapatkan yang ketiga kalinya,” ujar de Jonge.

Kisah selamat dari maut yang paling fenomenal datang dari Frano Selak. Pria Kroasia ini bahkan 7 kali selamat dari kematian. Pengalaman pertama terjadi pada tahun 1962, saat Selak naik kereta dari Sarajevo ke Dubrovnik. Saat itu kereta yang dia tumpangi tergelincir. Keluar dari rel. Jalur licin lantaran dilapisi salju.

Kereta itu nyemplung ke danau bersama sejumlah  penumpang, termasuk Selak. Setelah insiden tersebut, 17 orang ditemukan tewas mengapung di danau. Namun Selak yang juga ditemukan mengapung di danau, selamat. Hanya mengalami sejumlah cedera dan hypotermia.

Setahun berselang, Selak kembali celaka. Kali ini saat menumpang pesawat dari Zagreb ke Rijeka. Baru pertama menumpang pesawat, Selak langsung celaka. Pesawat itu jatuh dan 19 orang dinyatakan tewas.

Tapi keberuntungan menghampiri Selak. Dia selamat. Saat pesawat dalam keadaan bahaya, tiba-tiba saja pintu darurat terbuka. Selak lantas melompat dari pesawat. Meski melompat dari ketinggian, Selak selamat setelah mendarat di tumpukan jerami.

Selak kembali mengalami kecelakaan saat menumpang bus pada 1966. Bus itu terjun ke sungai. Empat orang tewas, namun lagi-lagi Selak selamat. Empat tahun kemudian, mobil Selak mengalami kecelakaan hingga terbakar. Hebatnya, Selak tak terluka sedikit pun.

Pada 1973, mobil Selak meledak saat mengisi bahan bakar di pom bensin. Selak kembali selamat. Hanya sedikit rambutnya yang terbakar. Pada 1996, dia kembali mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak truk di jalanan. Meski mobilnya ringsek, Selak tetap selamat.

Dan setahun berselang, lagi-lagi selak terlibat kecelakaan. Mobilnya jatuh ke jurang sedalam 91 meter. Banyak orang berpikir, tak ada orang yang bisa selamat dari kecelakaan seperti itu. Seolah punya nyawa berangkap-rangkap, lagi-lagi Selak selamat.

Pada detik-detik akhir sebelum mobil itu terperosok ke jurang, Selak berhasil melompat keluar. Selak menyasikan mobilnya meluncur ke bawah. Dan kemudian meledak di dasar jurang. Pria kelahiran 1929 ini mengaku tak tahu mengapa dia bisa beruntung dalam tujuh kecelakaan itu.

Keluarga Deden, de Jong, dan Selak, adalah orang-orang yang selamat dari bencana. Sejumlah peristiwa itu memberi kita pelajaran, bahwa mati memang ada di tangan Tuhan. Selamat, meski maut sudah mengunci. Bahkan berkali-kali.

Laporan: Paka Arya Dwipa (Sukabumi)

Beri Komentar