Tak Pakai Baju di Swalayan, Alasan Bapak Ini Bikin Haru

Reporter : Ratih Wulan
Sabtu, 13 Agustus 2016 13:13
Tak Pakai Baju di Swalayan, Alasan Bapak Ini Bikin Haru
Bapak di Semarang ini sempat dianggap dianggap orang gila karena bertelanjang dada jalan-jalan ke mall ternyata alasannya bikin terharu.

Dream - Berbagai kejadian unik dan tak terduga kerap terjadi di keramaian umum. Seperti kejadian yang belum lama terjadi di salah satu pusat perbelanjaan di Semarang Jawa Tengah.

Dalam beberapa foto yang diunggah akun Facebook atas nama Mas Lis, terlihat beberapa foto seorang laki-laki yang mengajak anaknya berbelanja. Foto ini menyedot perhatian netizen lantaran sang bapak yang sedang melenggang santai memilih baju untuk putri kecilnya terlihat tidak mengenakan baju.

Mas Lis sempat menanyakan kejadian yang sesungguhnya pada bapak tersebut. " Betul sekali saudaraku, sampai2 seluruh karyawan memandang ke arah saya semua & sambil menggerutu dg ucapan " hehhh itu org gilaa kok bs masuk sih" , tulis Mas Lis.

Sebelumnya, para karyawan sempat berniat untuk melaporkannya ke pihak keamanan swalayan. Namun karena dorongan rasa penasaran akhirnya Mas Lis menanyakan alasan kenapa ia tidak memakai pakaian.

Ternyata, si bapak pernah berjanji untuk mengajak anaknya membeli pakaian di tempat mewah.

" Alhamdulillah cita2 sy terkabul pak, bahwa kalau ada rejeki sy akan belikan satu pakaian saja di tempat mewah ber-ac seperti ini pak,"  kata Mas Lis di postingan Facebook.

Bapak tersebut juga menjelaskan alasannya sampai melepaskan baju yang ia kenakan. Ternyata, saat datang ke swalayan si anak hanya memakai kaus dalam sehingga ia kedinginan.

Hingga saat ini, cerita mengenai bapak di Semarang ini menjadi viral dan dibagikan lebih dari 3000 kali. Para pengguna media sosial mengaku terharu atas perjuangan bapak tersebut dalam membahagiakan anaknya.

 

1 dari 3 halaman

Mahar Nikah Segelas Air Putih, Pasangan di Aceh Bikin Haru

Dream - Kemarin, terdapat kabar menghebohkan seputar pernikahan. Sepasang pengantin di Malaysia menikah hanya setengah jam lalu bercerai lantaran uang seserahan dari mempelai pria dianggap kurang.

Kali ini, kabar mengejutkan sekaligus mengharukan datang dari Kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di Kampung Pea Jambu, Kecamatan Singkohor, Aceh. Sebuah pernikahan sederhana berlangsung pada tanggal 24 Maret lalu.

Sepintas, pernikahan tersebut tampak biasa saja. Sepasang pengantin duduk di sebuah masjid, dengan mempelai wanita tengah meminum segelas air.

Ternyata, air minum itu bukan air minum biasa. Segelas air minum itu merupakan mahar yang diberikan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita.

Momen ini diabadikan oleh pengguna Facebook Purwanto. Dia mengabadikan momen itu dalam sebuah foto yang diunggah di akun miliknya.

" Prnikhan hari & rohani dngn mahar segelas air minum. Langsung dminum mharnya... Semoga mnjdi kluarga yg bhgia,"  tulis Purwanto.

Dalam kolom komentar, Purwanto menyebut pengantin pria merupakan penyuluh agama honorer di Kantor Urusan Agama (KUA) Singkohol.

" Ia. Yg nikah mrupkn pnyuluh agama honorer. Prnikhan dilaksanakn dimasjid alfalah kmpung pea jambu hari kamis tnggal 24 maret 2016,"  tulis Purwanto.

Banyak pengguna Facebook yang kaget dengan unggahan tersebut. Mereka seperti tidak percaya pernikahan bisa terjadi hanya dengan mahar segelas air putih.

" betul itu pak? Mharnya..,"  tulis pemilik akun Rodli El Jundy. (Ism)

 

 

© Dream
2 dari 3 halaman

Cium Tangan Dhuafa, Polisi Ini Bikin Haru Jutaan Netizen

Dream - Sebuah video baru-baru ini menjadi viral dan ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam video tersebut terlihat beberapa polisi tengah memberikan sembako kepada kaum dhuafa lantas mereka mencium tangannya.

Tak pelak video tersebut mengundang keharuan para netizen. Mereka terkesan dengan aksi mulia para polisi itu. Dan rupanya para polisi yang ada dalam video tersebut diketahui sebagai petugas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki sebuah gerakan bernama 'Empati Seribu Rupiah Polda NTB'.

Melalui gerakan ini, para polisi tersebut mengumpulkan uang Rp1.000 secara sukarela untuk kemudian disumbangkan kepada kaum dhuafa secara rutin saat pelaksanaan patroli dialogis.

Yang membuat para netizen terharu menonton video ini bukanlah gerakan donasi yang mereka buat, melainkan kesediaan para polisi tersebut berinteraksi langsung, menyapa bahkan mencium tangan kaum dhuafa yang ditemui di jalan. Tanpa rasa sungkan atau gengsi.

Seperti diungkapkan seorang pemilik akun Facebook Jakhairi, " Bukan seribu rupiah yang bikin saya terharu, tapi ketika para polisi itu mencium tangan kaum dhuafa yang sangat berkesan," tulis Jakhairi.

Selengkapnya baca di sini.

3 dari 3 halaman

Jual Bawang Sambil Mengaji, Nenek Ini Bikin Haru Netizen

Dream - Belajar dan beribadah tidak mengenal usia. Kalimat itu yang tampaknya ingin ditunjukkan oleh Rokhani, nenek 90 tahun asal Ganten Lama, Magelang, Jawa Tengah.

Nenek Rokhani setiap hari berjualan bawang putih tunggal atau kerap disebut bawang lanang di emperan toko. Dia mulai berjualan mulai pukul 09.00 WIB hingga 15.30 WIB.

Mungkin, Rokhani tidak berbeda dengan pedagang kebanyakan. Tetapi, ada satu kebiasaan unik yang kerap dia lakukan di sela menunggu dagangannya. Membaca kitab fikih berbahasa Arab.

Seorang pengguna Facebook, Mameth Hidayat sempat mengabadikan aktivitas Rokhani saat berjualan. Dia lalu mengunggah foto Rokhani di akun miliknya.

" Dulu beliau berjualan di Pasar Rejowinangun. Akan tetapi setelah Pasar Rejowinangun kebakaran beliau berjualan di emperan toko oleh-oleh Endang Jaya Magelang,"  tulis Mameth.

Mameth mengatakan membaca kitab sembari menunggu pembeli sudah menjadi kebiasaan Rokhani. Jika mendengar azan, Rokhani bergegas sholat di masjid terdekat dari lokasinya berjualan.

Rokhani memang dikenal sebagai sosok yang rajin ibadah. Pagi hari sebelum berjualan, Rokhani mengaji Alquran. Ketika di tempat jualan, dia baru membaca kitab fikih.

" Beliau tinggal di Ganten sendirian, pernah diajak anaknya untuk tinggal bersamanya, akan tetapi beliau tidak mau,"  tulis Mameth.

Rokhani tinggal di sebuah rumah kecil tidak jauh dari Masjid. Rumah itu hanya memiliki satu lampu yang digunakan untuk kebutuhan membaca Alquran.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Rokhani merasa cukup mengandalkan hasil dagangannya. Setiap hari dia menghabiskan uang untuk membeli sayuran.

Sempat dia mengelus sakit punggung. Ini mungkin disebabkan beban dagangan yang harus dia gendong. Meski begitu, Rokhani memilih untuk tidak menyerah dan mengabdikan diri beribadah sepenuhnya kepada Allah SWT. (Ism) 

© Dream
Beri Komentar