Jalani Profesi Sambilan, Semangat Tiga Polisi Ini Patut Diteladani

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 13 Agustus 2019 14:02
Jalani Profesi Sambilan, Semangat Tiga Polisi Ini Patut Diteladani
Pekerjaan sampingan yang mereka pilih tidak lazim bagi sebagian masyarakat.

Dream - Hampir semua lembaga negara ada beberapa oknumnya yang melakukan pelanggaran hukum, salah satunya korupsi. Termasuk ada juga oknum kepolisian yang melakukan perbuatan tercela itu.

Namun, pelanggaran itu tidak bisa memukul rata juga dilakukan dalam satu lembaga. Masih banyak anggota polisi yang bisa menjadi teladan untuk tidak korupsi. Bahkan mereka lebih memilih pekerjaan sampingan yang tidak berhubungan dengan tugasnya sebagai polisi.

Dikutip dari laman Liputan6.com, ada tiga polisi yang bisa menjadi teladan. Empat polisi itu melakukan pekerjaan sampingannya setelah selesai menjalankan kewajibannya di Korps Bhayangkara.

1. Jadi Pemulung

Bagi sebagian masyarakat, menjadi pemulung bukanlah pilihan menjadi pemulung sebagai sampingan pekerjaan, apalagi pekerjaan utama.

Tapi, inilah yang dilakukan anggota Polresta Malang, Jawa Timur, Bripka Seladi. Ia memungut sampah itu sejak 2006 lalu.

" Ini rezeki, kenapa harus dibuang-buang. Sampingan saja, satu jam atau dua jam waktu luang saya manfaatkan untuk kegiatan ini," kata Seladi.

 

1 dari 3 halaman

Tukang Tambal Ban

2. Tukang Tambal Ban

Profesi sampingan tak biasa yang dilakukan polisi lainnya yakni menjadi tukang tambal ban. Meski tak lazim, tapi itu yang dilakukan anggota Polsek Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, Aiptu Mustamin.

Mustamin biasa menambal ban ketika sudah selesai bekerja menjalankan tugasnya sebagai abdi negara.

" Saya kerja jadi tukang tambal kalau lepas tugas, dan benar-benar tidak ada tugas dari kantor atau perintah dari komandan. Sehingga kedua profesi ini tidak saling mengganggu," kata Mustamin.

2 dari 3 halaman

Tukang Sampah

3. Tukang Sampah

Aiptu Trisih Setyono, sudah menjadi tukang angkut sampah sejak 2016 lalu. Ia biasa mengambil sampah di Desa Ngarendeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA) Pagerwojo.

" Mengambil sampah ini biasanya saya lakukan tiga hari sekali selepas jam dinas," ucap dia.

Biasanya, ia mendapat bayaran Rp20 ribu perbulan untuk setiap rumah dan Rp50 ribu untuk warung.

(Sumber: Liputan6.com)

 

3 dari 3 halaman

Polisi Teladan, Tolak Imbalan Usai Temukan Ponsel Rp 1 M

Dream - Sebuah telepon seluler custom seharga 680.000 yuan atau 1 miliar lebih dengan bingkai emas dan bertahtakan 800 berlian dikembalikan ke pemiliknya setelah hilang di bandara di Wenzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, Sabtu, 29 November 2014.

Pemilik bernama Lin mengatakan dia kehilangan ponsel mewah merek Vertu saat menjadwal ulang tiket penerbangannya menggunakan ponsel lain.

Lin segera melapor poisi yang langsung memeriksa kamera CCTV. Polisi melihat ponsel tersebut diambil oleh seorang wanita. Lin dan polisi kemudian melacak perempuan tersebut di desa terdekat.

Polisi minta wanita itu menyerahkan ponsel yang bukan miliknya. Setelah ponsel berpindah tangan ke Lin, dia pun senang bukan kepalang.

Sebagai tanda terima kasih, Lin menawarkan uang senilai 10 ribu yuan kepada petugas. Tapi mereka menolaknya.

(Ism, Sumber: shanghaiist.com)

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian