6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream – Perubahan fisik dan hormonal tidak terjadi pada saat seseorang sudah dewasa melainkan sudah dimulai sejak masih anak-anak. Pada umumnya, ketika masih anak-anak, mereka belum siap untuk menerima perubahan tersebut.
Anak cenderung ingin mengetahui alasan dibalik perubahan yang terjadi pada mereka. Pada zaman yang serba canggih, anak terutama yang berusia remaja bisa dengan mudah mencari informasi di internet.
Mencari informasi melalui internet memang tidak salah, namun akan lebih baik jika masalah seputar pendidikan seks didapatkan anak dengan pendampingan orangtua. Jangan sampai anak mencari tahu sendiri dan malah terpapar pornografi.
Berbicara mengenai kesehatan dan pendidikan seksual pada anak, bukanlah hal tabu. Justru orangtua harusnya jadi sumber informasi utama.
Penting bagi kita untuk membekali diri bagaimana cara mengajarkan pendidikan seksual yang tepat pada buah hati. Bagaimana caranya?
Informasi berikut, bisa jadi panduan bagi Sahabat Dream.
© pixabay.com
Menurut Dawn Ravine, koordinator program pendidikan seksualitas di Divisi Kedokteran Remaja Lurie Childrens, para orangtua yang memiliki anak pada usia ini, pemodelan dan demonstrasi akan bekerja lebih baik daripada berbicara.
Salah satu contoh yang dilakukan adalah dengan menggunakan buku cerita. Hal ini merupakan cara terbaik untuk membahas perubahan dalam tubuh serta jenis kelamin.
Beritahu anak nama kelaminnya, tak perlu diubah dengan kata lain. Untuk anak perempuan memiliki vagina, sementara anak lelaki memiliki penis.
© pixabay.com
Pada tahap ini, para orangtua sudah harus mulai melakukan percakapan langsung secara jujur dengan anak mengenai sex education. Para orang tua bisa memberikan arahan mengenai batasan fisik yang bisa disentuh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain, keamanan si kecil hingga suatu hubungan yang terjalin.
Pasalnya, pada usia ini, anak sudah mulai bisa menyukai seseorang. Tidak hanya itu saja, pada tahap ini para orang tua juga sudah mulai menerima dan mempersiapkan diri jika sang anak mengajukan pertanyaan mengenai kesehatan seksual.
Pastikan memberikan jawaban yang sesuai dan benar, jangan sampai anak mendapat informasi salah mengenai isu ini. Menurut Ravine, anak bisa secara terbuka membicarakan orientasi seksualnya itu tergantung dengan pembelajaran sex education dari para orangtua sejak dini.
© pixabay.com
Pada usia ini, anak cenderung sudah mengenal dan mengerti mengenai media sosial. Bahkan, pada usia ini anak juga sudah mulai sering membicarakan mengenai seksualitas terhadap teman sekolah mereka.
Jika para orangtua tidak memberi edukasi, sangat mungkin anak mudah mendapat pengaruh negatif seputar seks dan pornografi dari teman-temannya.
Pada tahap ini, para orangtua bisa melakukan diskusi kecil dengan sang anak mengenai pendidikan seks yang sedikit lebih dalam.
Saat berdiskusi, penting bagi orangtua untuk bisa berpikir lebih terbuka dan berperilaku sebagai pendengar yang baik. Meskipun demikian, para orangtua juga harus menjaga percakapannya aga tetap positif dan menciptakan suasana diskusi yang kritis dan menyenangkan untuk si anak.
Hal tersebut bertujuan agar si anak nantinya tidak merasa malu untuk bertanya pada orangtua sehingga bisa mengurangi kesalahan persepsi mengenai seks.
© pixabay.com
Pada usia ini, para orangtua harus memastikan mengenai pengetahuan sex education pada anak. Anak perempuan pada usia ini sudah harus mengetahui mengenai kebersihan organ vital, reproduksi hingga kondisi lain seputar kesehatan organ intimnya.
Begitu juga untuk anak laki-laki. Ceritakan pada mereka, kalau pada saatnya nanti akan mengalami 'mimpi basah' dan merupakan hal normal. Itu pertanda kalau anak sudah beranjak dewasa dan harus berhati-hati dalam pergaulan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya