Negatif Covid-19, Jokowi: Terima Kasih Dokter dan Perawat

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 20 Maret 2020 09:02
Negatif Covid-19, Jokowi: Terima Kasih Dokter dan Perawat
Jokowi doakan para tenaga medis yang sudah bekerja keras.

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara, Iriana Jokowi mengumumkan hasil tes deteksi Covid-19 Kamis di Istana Bogor, 19 Maret 2020. Dari hasil yang diterima, Jokowi dan  dinyatakan negatif Covid-19.

“ Saya dan Ibu Iriana sudah melaksanakan tes deteksi Covid-19 empat hari yang lalu, dan sudah keluar hasil tesnya. Alhamdulillah dinyatakan negatif,” ucap Jokowi.

Jokowi juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada tenaga medis yang sedang bekerja dan merawat para pasien yang terinfeksi Covid-19.

“ Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para dokter, para perawat dan seluruh jajaran rumah sakit, yang sedang bekerja keras penuh dedikasi dalam melayani dan merawat para pasien yang terinfeksi Covid-19,” kata Jokowi.

Jokowi juga kembali mengimbau masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di rumah.

“ Semoga kita semua diberikan kesehatan yang prima,” kata dia.

1 dari 5 halaman

Wabah Corona, Gubernur Ganjar: Kesempatan Bangsa Ini Mandiri

Dream - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ingin menjadikan wabah virus corona, Covid-19, bisa membangun kemandirian bangsa.

Salah satunya, produksi hand sanitizer dari beberapa perguruan tinggi dan SMK menggunakan bahan non-alkohol.

" Ini kesempatan bangsa ini mandiri. Ini kesempatan bangsa ini berdikari," kata Ganjar, Rabu, 18 Maret 2020.

Ganjar mengambil contoh Korea Selatan dalam menangani wabah virus corona. Di Negeri Gingseng itu, dalam sehari produksi masker bisa meningkat menjadi 14 juta.

" Kita mesti tiru ini," ucap dia.

Ganjar juga memantau langkah kuratif yaitu, kegiatan pengobatan untuk penyembuhan penyakit, hingga pengurangan penderitaan akibat penyakit, dan pengendalian penyakit.

Seperti terus memantau perkembangan kuratif berupa mendata persoalan penyediaan alat kuratif yang saat ini kurang.

" Sekarang kita meminta untuk dicari PIC (person in charge) siapa, contact person-nya siapa, terus kita meminta kapasitas yang ada di sana berapa. Intinya satu, kita akan sedikit memaksa agar peralatan-peralatan untuk kuratif ini, terutama alat pelindung diri (APD) ini, ada," beber dia.

2 dari 5 halaman

Peralatan yang Memadai

Termasuk juga masker, baju hazmat, hingga Virus Media Transfer (VTM). Dia mengatakan, Jateng butuh banyak VTM. Karena itu, pihaknya juga terus mencari siapa yang bisa memproduksi banyak VTM.

" Kita akan paksa untuk produksi lebih banyak," kata dia.

Bahkan bila nanti keputusan otoritasnya di kementerian, Ganjar akan bicara langsung dengan kementerian.

" Intinya, hari ini masker, APD yang baju, VTM harus diproduksi banyak. Negara harus memproduksi banyak. Tekan seminim mungkin harga sehingga bisa dilakukan efisiensi," ujar dia.

Pemerintah daerah juga sudah siap dengan perubahan anggaran atau mendahului anggaran kaitannya penanganan dari antisipasi mewabahnya Corona. Hal itu juga telah diperintahkan mendagri.

Adapun langkah preventif yang juga dilakukan yaitu akan libatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, relawan cerdas dan pintar. Tentu mereka harus paham tentang Covid-19 agar mereka bisa melakukan sosialisasi.

Sumber: Merdeka.com/Rizlia Khairun Nisa

3 dari 5 halaman

Ketua Tim Riset Corona Sarankan Lockdown Kepulauan, Seperti Apa?

Dream - Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom, menyarankan langkah lain yang bisa ditempuh pemerintah untuk mengurangi sebaran virus corona. Dia menyarankan agar pemerintah membuat lockdown yang bersifat kepulauan.

" Lockdown bisa dilakukan, tetapi tidak berdasar pada wilayah administrasi karena dimungkinkan timbul dampak-dampak yang tidak kecil. Sebaiknya dilakukan lockdown kepulauan mengingat Indonesia negara kepulauan, maka air laut sebagai isolator terbaik," kata Nidom, Selasa. 17 Maret 2020.

Nidom menyadari proses ini bukan pekerjaan mudah. Tetapi bisa tuntas.

" Misal di Pulau Jawa, dengan asumsi 1% penduduk yang terisiko infeksi, maka dibutuhkan fasilitas untuk 1 juta pasien. Untuk itu bisa dilakukan hal-hal ini," kata dia.

Pertama Pulau Jawa menjadi satu kesatuan penanganan. " Semua gubernur dan bupati/wali kota menjadi satu kesatuan dan tidak mengambil kebijakan sendiri-sendiri," kata dia.

4 dari 5 halaman

Buat Disinfektan Masal

Nidom menghitung kapasitas rumah sakit di seluruh Pulau Jawa. Bila dirasa jumlahnya kurang, bisa menggunakan tenda-tenda milik militer dan Polri.

" Jika masih belum terpenuhi, bisa gunakan masjid-masjid dan rumah ibadah sebagai RS darurat," kata dia.

Selain itu, Nidom juga menyarankan agar, 

- Sekolah dan kantor-kantor tidak diliburkan.

- Kerahkan semua mahasiswa bidang kesehatan (kedokteran, perawat, dll) dengan bimbingan dosen masing-masing untuk bantu perawatan.

- Kerahkan semua laboratorium (pemerintah dan swasta) dan mahasiswa bidang biologi dan kimia untuk ikut uji diagnostik.

- Siswa-siswa SMA bisa dikerahkan untuk buat disinfektan di sekolah masing-masing dengan disupervisi oleh mahasiswa Teknik Kimia dan Mipa

- Siswa SMP dikerahkan untuk bantu kebersihan dan penyemprotan lingkungan. Jadi yang diliburkan hanya siswa SD/PAUD saja.

- Ibu-ibu RT menyiapkan konsumsi dan empon-empon

- Para pemuka agama menggaungkan/memimpin munajat untuk keselamatan.

" Semoga wabah Corona menjadi gerakan Solidaritas Nasional melawan Corona dengan semangat Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila," ucap dia.

Sumber: Merdeka.com

5 dari 5 halaman

Masa Tanggap Darurat Virus Corona hingga 29 Mei 2020

Dream - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan masa tanggap darurat terkait wabah virus corona, Covid-19, sejak 28 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020.

" Perpanjangan status keadaan tertentu sebagaimana diktuk kesatu berlaku selama 91 hari," kata Kepala BNPB, Doni Monardo, diakses Selasa, 17 Maret 2020.

Keputusan perpajangan masa tanggap darurat itu tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 13.A Tahun 2020. Sebelumnya,  Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 9.A Tahun 2020 dianggap telah selesai.

Masa tanggap darurat© Istimewa

Masa tanggap darurat

Dengan aturan perpanjangan ini, segala biaya yang dikeluarkan akibat Surat Keputusan ini dibebankan pada Dana Siap Pakai yang ada di BNPB.

Seperti diketahui, berdasarkan hitungan matematis Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut puncak penyebaran virus corona terjadi 60 hingga 80 hari sejak pengumuman kasus positif pertama pada 2 Maret 2020.

Dengan perhitungan itu, diperkirakan puncak penyebaran terjadi saat masa Ramadan. BIN mengantisipasi terjadinya pasien yang dapat menyebarkan wabah ke khalayak.

Beri Komentar