Jokowi Pidato Perdana di Sidang Umum PBB, Gunakan Bahasa Indonesia

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Rabu, 23 September 2020 09:30
Jokowi Pidato Perdana di Sidang Umum PBB, Gunakan Bahasa Indonesia
Jokowi berbicara dampak dunia akibat wabah virus Corona.

Dream - Presiden Joko Widodo memberikan pidato perdana di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Tak hanya itu, Jokowi juga berbicara dampak dunia akibat wabah virus corona.

" Kita semua prihatin melihat situasi ini, keprihatinan kita menjadi besar di saat pandemi Covid-19, di saat seharusnya kita semua bersatu padu bekerja sama melawan pandemi, yang justru kita lalu menggunakan pendekatan win win pada hubungan antar negara yang saling menguntungkan," jelas Jokowi dalam siaran akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu 23 September 2020.

Jokowi mengungkapkan, dampak pandemi sangat luar biasa bagi negara di seluruh dunia. Baik dari aspek kesehatan dan sosial ekonomi.

1 dari 5 halaman

Meski menggunakan Bahasa Indonesiam Jokowi masih menyelipkan bahasa Inggris di sela-sela pidatonya.

" Kita tahu dampak pandemi sangat luar biasa baik dari sisi kesehatan maupun sosial ekonomi, kita juga paham virus ini tidak mengenal batas negara, no one is safe until everyone is," ucapnya.

Jokowi mengingatkan seluruh negara perlu menjaga persatuan di tengah pandemi. Menurutnya, apabila perpecahan terjadi, kekhawatiran akan perdamaian akan goyah dan sulit diwujudkan.

" Jika perpecahan dan revalitas terus terjadi, maka saya khawatir pijakan bagi stabilitas dan perdamaian yang lestari akan goyah bahkan karena sirna, dunia yang damai stabil dan sejahtera semakin sulit diwujudkan," ungkapnya.

2 dari 5 halaman

Video Pidato Sidang PBB Presiden Joko Widodo

3 dari 5 halaman

Gagasan NU Soal Hak Asasi Manusia Dibawa ke Majelis Umum PBB

Dream - Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf, dijadwalkan berpidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu, 23 September 2020 pukul 09.00 waktu New York atau 20.00 WIB. Dalam forum tersebut, ulama yang akrab disapa Gus Yahya ini akan menyampaikan gagasan dan pandangan NU mengenai hak asasi manusia.

" Saya akan memaparkan pandangan-pandangan dan wacana terkait Hak Asasi Manusia yang telah berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama. Mulai dari teologi Ukhuwah Basyariyah yang dicetuskan oleh KH Achmad Siddiq pada 1984, Deklarasi Nahdlatul Ulama ISOMIL 2016, Deklarasi Islam Untuk Kemanusiaan 2017, Manifesto Nusantara 2018, dan Hasil Bahtsul Masail Musyawarah Nasional Alim-Ulama Nahdlatul Ulama di Kota Banjar 2019 yang lalu," ujar Gus Yahya, melalui keterangan tertulis.

Gus Yahya akan berbicara dalam panel tentang HAM yang diprakarsai Amerika Serikat. Panelis lainnya adalah Mary Ann Glendon, seorang profesor emeritus bidang hukum dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, dan Hu Ping, seorang aktivis demokrasi asal China.

4 dari 5 halaman

Bersama Tokoh Dunia

Untuk diketahui, pada 8 Juli 2019 lalu, Menteri Luar Negeri AS, Michael R. Pompeo, berisiatif membentuk Commission on Unalienable Rights (Komisi untuk Hak-hak Manusia Yang Tak Dapat Dibatalkan). Komisi ini beranggotakan 11 orang dari kalangan intelektual, filsuf dan agamawan Amerika.

Di antara mereka adalah Hamzah Yusuf Hanson, tokoh muslim pemilik Zaituna Foundation di Berkeley, David Tse-Chien Pan dari Universitas California, Rabbi Meir Soloveichik, seorang pemimpin Yahudi Ortodoks, dan lain-lain.

5 dari 5 halaman

Dialog Pandangan

Komisi yang diketuai Mary Ann Glendon itu ditugasi memberikan pertimbangan kepada Pemerintah AS dalam membuat kebijakan terkait HAM didasarkan atas prinsip-prinsip dasar Amerika dan Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) 1948. Pada 26 Agustus 2020, Komisi itu meluncurkan hasil kerja mereka dan telah diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa.

Panel di Majelis Umum PBB nanti bertujuan mendialogkan pandangan-pandangan Komisi tersebut dengan tradisi-tradisi yang berbeda. Dalam hal ini dengan Islam (Nahdlatul Ulama) dan Konfusianisme. Nantinya, panel dibuka oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Kelly Craft, dan pidato kunci oleh Mike Pompeo sendiri.

Panel yang dilangsungkan secara daring itu akan dipandu oleh Robert A. Destro, Asisten Sekretaris Biro Demokrasi, HAM dan Tenaga Kerja, Departemen Luar Negeri AS.

Beri Komentar