Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pelajar MTsN 1 Kota Mataram Tidak Bisa Belajar Karena Sekolah Mereka Rusak Parah (kemenag.go.id)
Dream - Tiga pekan sudah para siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, meninggalkan sekolah. Bangunan sekolah mereka rusak akibat akibat gempa dahsyat yang melanda Lombok awal Agustus lalu.
Sebagian besar siswa itu sangat ingin kembali belajar. Sayangnya, keinginan mereka tidak terpenuhi.
Hasil audit forensik yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menemukan 80 persen bangunan berbahaya jika digunakan lagi sebagai ruang belajar mengajar.

" Kami hanya ingin sekolah dan tidak tahu sampai kapan akan seperti ini," ujar salah satu siswa MTsN 1 Kota Mataram, Ihsan, dikutip dari kemenag.go.id.
Sesekali pandangan Ihsan mengarah pada bangunan sekolahnya. Tatapannya kosong, tanpa makna.
Bangunan yang tampak kokoh itu rusak di bagian tengah. Genteng berjatuhan, plafon banyak yang jebol, bahkan rangka atapnya sampai patah.
Polisi terpaksa memasang garis kuning pada radius empat meter. Pertanda tidak ada yang boleh melintas di dekat gedung itu. Sebagian besar fondasi bangunan itu retak. Bisa ambruk kapan saja.
Dari 26 ruang kelas yang tersedia, hanya ada enam bisa dipakai. Sementara 20 lainnya dinyatakan rapuh. Retaknya sangat besar dan menganga.
" Untuk tetap melanjutkan aktivitas belajar, para siswa terpaksa bergantian belajar di mushola. Ini tidak efektif sebab siswa kami berjumlah 900 siswa," kata Kepala MTsN 1 Kota Mataram, Rusniah.

Menurut dia, para siswa butuh ruang belajar dengan segera. Meskipun berupa tenda. Ini agar aktivitas belajar mereka bisa pulih.
" Kami sangat membutukan tenda sebagai ruang belajar sementara menjelang dilakukannya recovery terhadap bangunan madrasah. Berdasarkan hitungan konsultan sedikitnya dibutuhkan biaya Rp1,9 miliar untuk perbaikan bangunan madrasah," kata Rusniah.
Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Syafrizal, mengatakan pihaknya memberikan 11 tenda untuk digunakan sebagai ruang belajar mengajar sementara.
Pengadaan tenda tersebut menggunakan dana sumbangan yang telah dikumpulkan dari para PNS di lingkungan Kementerian Agama Pusat.

" Mudah-mudahan bantuan ini dapat melecut kembali semangat belajar para siswa," ucap Syafrizal.
Nantinya, tenda berukuran 8x16 meter sebanyak 11 unit dipasang di halaman madrasah. Para siswa dapat belajar di tenda itu untuk sementara waktu.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya