Skandal Elizabeth Holmes dan Theranos: Mega Aib Silicon Valley

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 24 Januari 2022 17:04
Skandal Elizabeth Holmes dan Theranos: Mega Aib Silicon Valley
Kisah bintang Silicon Valley yang jatuh terpuruk.

Dream - Memakai rok, jas abu-abu, dan memakai masker, wanita bermata biru itu bergegas sembari menundukan kepala. Rambut pirangnya tergerai. Tangan kanan memegang erat seorang pria dan tangan kiri erat memegang seorang wanita. Dia seperti memerlukan tumpuan kiri kanan, agar tidak lunglai berjalan. Petang dua pekan lalu itu, ketika langit California mulai gelap, di bawah sorot lampu kamera televisi, wanita ini buru-buru nyelonong masuk ke dalam mobil.

Dia seperti menghindari dunia yang selama ini amat disukainya: sorot kamera dan reriungan para wartawan yang tak henti bertanya. Dunianya seperti berganti. Termasuk kebiasaan berpakaian. Dia tak lagi memakai busana kebesarannya: sweater berkerah tinggi atau turtleneck berwarna hitam, dipadu dengan celana hitam, yang mengingatkan kita akan ikon Silicon Valley, mendiang Steve Jobs.

Wanita berwajah permai ini memang penggemar berat sang pendiri Apple itu. Dia bahkan meniru juga cara berpakaiannya, juga aneka tetek bengek penampilan di muka umum.  Mendiang Steve Jobs adalah orang yang mempopulerkan sweater turtleneck warna hitam dalam penampilan publik.

Dalam film dokumenter HBO tahun 2019 berjudul “ The Inventor: Out Blood in Silicon Valley,” wanita itu mengaku hanya memiliki puluhan sweater turtleneck hitam dalam koleksi pakaian kerjanya sehari-hari. Ia bahkan tak memiliki jas meski dia bertahta di ketinggian, sebagai Chief Executive Officer (CEO) pada sebuah perusahaan rintisan yang sohor namanya ke seluruh dunia.  

Ya, kita sedang bercerita tentang Elizabeth Holmes, CEO Theranos, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Jika kita memilih Elizabeth untuk disajikan pada laporan khusus kali ini, itu karena dia mewakili kisah paling gelap dari Silicon Valley, kawasan yang dianggap sebagai ibukota digital dunia. Bahwa dunia yang dihuni orang-orang cemerlang dan kaya raya ini, begitu rentan disusupi kejahatan, dan kejahatan itu bisa datang dalam wujud Elizabeth: wangi, cerdas, meyakinkan sekaligus menjanjikan.

Setelah melewati sekian proses persidangan, wanita berusia 37 tahun ini dijatuhi hukuman bersalah oleh dewan juri Pengadilan Distrik California, Amerika Serikat. Ia dianggap terbukti menipu investor hingga U$ 700 juta atau sekitar Rp 10 triliun.

Menurut Business Insider, Elizabeth Holmes sendiri masih tetap bebas dengan membayar uang jaminan U$ 500.000 atau Rp 7,1 miliar sambil menunggu keputusan hakim setelah vonis para juri itu. Dia bakal menghadapi vonis hukuman maksimum 20 tahun penjara dan denda sebesar U$ 250.000 atau Rp 3,6 miliar. Vonis dijadwalkan akan dibacakan hakim pada 26 September 2022.

Ini tentu fakta yang ironis dan merupakan titik balik bagi Elizabeth Holmes. Sebab, delapan tahun lalu dia dielu-elukan sebagai bintang baru Silicon Valley. Perusahaannya, Theranos, bahkan dinilai sebagai perusahaan rintisan atau startup paling berharga di Slicon Valley. Jauh lebih berharga ketimbang Uber, Airbnb, atau Spotify.

Ia bahkan sempat ditahbiskan oleh majalah Forbes edisi 15 Juni 2014 sebagai miliarder wanita termuda dan terkaya di Amerika Serikat. Padahal umurnya saat itu baru 31 tahun.

Menurut Forbes, Elizabeth Holmes menempati peringkat satu wanita terkaya di Amerika Serikat untuk tahun 2014 dengan kekayaan U$ 4,5 miliar atau Rp 64 triliun karena memiliki separuh saham di perusahaannya. Sementara perusahaannya, Theranos, disebut memiliki valuasi sebesar U$ 9 miliar atau Rp 128 triliun. Holmes bahkan mengalahkan Oprah Winfrey, pembawa acara TV terkenal yang harus duduk di peringkat kelima. Kisah Elizabeth Holmes barangkali adalah cerita tentang ambisi dan keserakahan  perusahaan rintisan.

Semua dimulai saat Holmes berusia 19 tahun. Pada Maret 2004, dia memutuskan keluar atau drop-out dari Stanford's School of Engineering di tahun kedua. Ia kemudian menggunakan uang kuliahnya sebagai dana awal untuk mendirikan perusahaan teknologi kesehatan di Palo Alto, California.

Holmes menggambarkan ketakutannya akan jarum suntik saat melakukan tes darah sebagai motivasi utama mendirikan perusahaan teknologi kesehatan. Ia berusaha untuk menciptakan alat tes darah yang bisa mendeteksi ratusan penyakit, mulai dari diabetes sampai kanker payudara, hanya dengan menggunakan sedikit darah yang diambil dari ujung jari.

Menurut Vanity Fair, ketika Holmes mengajukan ide itu ke profesor kedokterannya Phyllis Gardner di Stanford University, Gardner menjawab, " Saya rasa ide Anda tidak akan berhasil." Beberapa profesor ahli medis lainnya mengatakan hal yang sama kepada Holmes. Namun, Holmes tidak menyerah. Dan dia berhasil mendapatkan dukungan dari Dekan di School of Engineering Stanford, Channing Robertson.

Holmes lalu mendirikan perusahaan rintisan atau startup Theranos, sebuah akronim yang diambil dari kata  " terapi" dan " diagnosis" . Channing Robertson lalu menjadi anggota dewan direksi pertama perusahaan dan memperkenalkan Holmes kepada pemodal ventura.

Investor besar pertama Holmes adalah Tim Draper, investor ventura Silicon Valley dan ayah dari teman masa kecil Holmes, Jesse Draper. Tim Draper memberi cek ke Holmes sebesar U$ 1 juta atau Rp 14,3 miliar setelah mendengar visi awalnya membangun Theranos.

Menurut majalah Fortune, pada Desember 2004 Holmes telah mengumpulkan U$ 6 juta atau Rp 86 miliar dari investor ventura untuk mendanai perusahaan Theranos. Pada akhir 2010, Theranos sudah memiliki modal ventura lebih dari U$ 92 juta atau Rp 1,3 triliun.

Kumpulan investor utama Theranos semakin bertambah banyak. Mulai dari taipan media Rupert Murdoch, keluarga Walton, keluarga DeVos termasuk Betsy DeVos, keluarga Cox dari Cox Enterprises dan konglomerat Mexico, Carlos Slim Hel. Mereka menginvetasikan puluhan juta hingga ratusan juta dolar. Contohnya Rupert Murdoch yang menginvestasikan dana U$ 125 juta atau Rp 1,7 triliun ke Theranos.

***

Pada Juli 2011, Holmes diperkenalkan dengan mantan Menteri Tenaga Kerja di era Presiden Nixon dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di era Presiden Reagan, George Shultz.

George Shultz© ABC News

(George Shultz/ABC News)

Setelah pertemuan dua jam, George Schultz setuju bergabung dalam dewan direksi Theranos. Dari sini mulailah masuk nama-nama tersohor macam Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri dan William Perry, mantan Menteri Pertahanan. Mereka duduk sebagai dewan direksi Theranos.

Holmes juga membawa kekasihnya ke Theranos. Ia adalah seorang pebisnis teknologi bernama  Ramesh " Sunny" Balwani. Balwani adalah seorang Hindu kelahiran Pakistan yang berimigrasi ke India dan kemudian ke Amerika. Dia bertemu dengan Holmes pada tahun 2002 saat Holmes berumur 18 tahun. Balwani 19 tahun lebih tua dari Holmes dan saat itu sudah menikah dengan wanita lain.

Balwani lalu menceraikan istrinya pada tahun 2002 dan terlibat hubungan asmara dengan Holmes pada tahun 2003 ketika Holmes memutuskan keluar dari universitas. Pasangan ini pindah dan tinggal bersama di sebuah kondominium di Paulo Alto pada tahun 2005. Balwani sudah menasihati Holmes di balik layar sejak awal pendirian Theranos. Balwani kemudian secara resmi bergabung dengan Theranos pada tahun 2009 sebagai Chief Operating Officer dan Presiden Theranos. Pasangan ini mendapat sebutan sebagai Elang 1 dan Elang 2 oleh petugas sekuriti Theranos.

Holmes awalnya mengoperasikan Theranos diam-diam dan tak banyak publikasi. Theranos berjalan tanpa siaran pers atau situs web perusahaan. Barulah, pada September 2013, Theranos tampil ke publik untuk pertama kali ketika perusahaan mengumumkan kemitraan dengan jaringan toko farmasi Walgreens untuk meluncurkan pusat pengumpulan sampel darah Theranos di jaringan toko Walgreens.

Dari situlah nama Elizabeth Holmes kemudian melesat tinggi ke langit. Perhatian media meningkat pada tahun 2014 dan mencapai puncaknya pada tahun 2015, ketika Holmes muncul di sampul majalah berpengaruh macam Fortune, Forbes, The New York Times Style Magazine, Inc. dan The New Yorker.

Majalah Forbes bahkan mengakui Holmes sebagai miliarder wanita termuda di dunia dan memberinya peringkat #110 di Forbes 400 pada tahun 2014.

Pada saat itu, Holmes telah mengumpulkan lebih dari U$ 400 juta atau Rp 5,7 triliun dana investor.

Sementara tahun 2015 boleh dibilang sebagai tahun puncak kejayaan Holmes. Tahun itu Holmes diangkat menjadi anggota Harvard Medical School Board of Fellows dan dinobatkan sebagai salah satu “ Time 100 Most Influential People" versi majalah Time.

Holmes juga menerima Under 30 Doers Award dari majalah Forbes dan menduduki peringkat 73 dalam daftar " wanita paling kuat di dunia" di tahun 2015. Dia juga dinobatkan sebagai Woman of the Year oleh majalah Glamour dan menerima Honorary Doctor of Humane Letters dari Pepperdine University. Dia sebelumnya juga dinobatkan sebagai Fortune's Businessperson of the Year oleh majalah Fortune.

***

Tapi, seperti juga dongeng yang indah, sebuah dongeng akan segera berakhir ketika seseorang terbangun dari tidurnya.

Adalah John Carreyrou, Kepala Biro Desk Kesehatan harian The Wall Street Journal mulai curiga ketika membaca profil Holmes di majalah The New Yorker.

Ia lalu memutuskan memulai liputan investigasi selama berbulan-bulan terhadap Theranos, setelah dia menerima petunjuk dari seorang ahli medis yang menganggap alat tes darah Edison tampak mencurigakan.

Carreyrou lalu berbicara dengan mantan karyawan Theranos macam Tyler Shultz, cucu mantan Menteri Luar Negeri George Shultz yang duduk sebagai dewan direksi.  

Tyler Shultz  dalam film dokumenter  HBO, “ The Inventor,” mengaku awalnya bergabung dengan Holmes karena kagum dengan visi Holmes saat mengunjungi kakeknya. Holmes saat itu bercerita dia ingin menciptakan mesin pendeteksi tes darah yang bisa mendeteksi ratusan jenis penyakit hanya dari sampel darah sedikit yang didapat dari ujung jari. Tyler lalu memutuskan bergabung ke Theranos.

Edison, mesin tes darah ciptaan Theranos© The New York Times

(Edison, alat tes darah ciptaan Theranos/NYT)


Tapi di sana Tyler langsung kecewa. Dia mendapati kekacauan besar. Edison, mesin pendeteksi tes darah Theranos yang berukuran seperti kotak ukuran sedang, sama sekali tak berjalan. Alias gagal total. Akhirnya yang terjadi adalah dusta dan kebohongan.

Untuk menutupi jejak, kata Tyler, alih-alih menggunakan Edison, Theranos malah menggunakan alat tes darah yang dijual di pasaran umum dan dibuat Siemens AG. Dan sampel darah bukan diambil dari ujung jari, melainkan diambil dari urat vena di lengan dan dalam jumlah besar.

Ketika Holmes mengetahui penyelidikan The Wall Street Journal  tersebut, dia mulai melakukan intimidasi melalui pengacaranya David Boies. Ia bermaksud untuk menghentikan liputan investigasi John Carreyrou. Ini termasuk ancaman gugatan hukum kepada pembocor rahasia perusahaan macam Tyler.

Holmes bahkan melobi Rupert Murdoch selaku investor Theranos dan pemilik The Wall Street Journal untuk tidak menerbitkan cerita yang ditulis John Carreyrou. Tapi Murdoch menolak melakukan intervensi ke redaksi.

Maka, pada tanggal 16 Oktober 2015, terlepas dari ancaman hukum dan intimidasi yang dilakukan kuasa hukum Holmes, David Boies, Jhon Carreyrou tetap menerbitkan artikel investigasi yang membongkar praktik dusta  Theranos dan Elizabeth Holmes di halaman satu harian The Wall Street Journal.

Artikel itu merinci bagaimana perangkat Edison memberikan hasil yang tidak akurat. Artikel itu  juga mengungkapkan bahwa Theranos telah menggunakan mesin yang tersedia secara komersial yang diproduksi oleh perusahaan lain untuk sebagian besar pengujian tes darahnya.

Saat berita itu muncul, menurut CNBC, Holmes berusaha membantah semua tuduhan itu mati-matian. Ia menyebut The Wall Street Journal sebagai " tabloid" dan berjanji perusahaannya akan mempublikasikan data tentang keakuratan pengujiannya. Holmes mengatakan: " Inilah yang terjadi ketika Anda bekerja untuk mengubah banyak hal. Pertama mereka mengira Anda gila, lalu mereka melawan Anda, dan kemudian tiba-tiba Anda mengubah dunia."

***

Walau dibantah Holmes, tak pelak artikel itu seolah menyentak semua orang untuk bangun tidur dari mimpi indah tentang Theranos dan Elizabeth Holmes selama ini. Maka, masalah ke Theranos pun mulai datang bertubi-tubi. Bak air bah. Satu persatu praktik culas Theranos dan Elizabeth Holmes terbongkar ke permukaan.

Pada Januari 2016, Centers for Medicare and Medicaid Services (CMS) mengirim surat peringatan ke Theranos setelah pemeriksaan laboratoriumnya di Newark, California, ditemukan ketidakberesan dalam ketidakcakapan staf, prosedur, dan peralatan. CMS mengancam akan menjatuhkan larangan dua tahun bagi Holmes untuk memiliki atau mengoperasikan laboratorium klinis bersertifikat setelah perusahaan tidak memperbaiki masalah di lab California pada Maret 2016.

Pada Juli 2016, CMS resmi melarang Holmes memiliki, mengoperasikan, atau melakukan layanan tes darah untuk jangka waktu dua tahun. Tak lama kemudian, Walgreens mengakhiri hubungan kerjanya dengan Theranos dan menutup pusat pengumpulan darah Theranos di jaringan tokonya. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga memerintahkan perusahaan untuk menghentikan penggunaan perangkat nanotainer, salah satu penemuan inti Theranos.

Pada tahun 2017, menurut Business Insider, Negara Bagian Arizona mengajukan gugatan terhadap Theranos, menuduh bahwa Theranos telah menjual 1,5 juta tes darah kepada warga Arizona sambil menyembunyikan fakta penting tentang tes darah tersebut. Pada bulan April 2017, Theranos menyelesaikan gugatan itu dengan menyetujui untuk mengembalikan biaya tes darah kepada konsumen, dan membayar U$ 225.000 atau Rp 3,2 miliar untuk denda perdata dan biaya pengacara. Total dana yang dikeluarkan Theranos mencapai U$ 4,65 juta atau Rp 66 miliar.

Pada Maret 2018, The U.S. Securities and Exchange Commission  (SEC) atau Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika, mendakwa Holmes dan mantan Presiden Theranos, Ramesh “ Sunny” Balwani, dengan penipuan karena telah mengambil lebih dari U$ 700 juta atau Rp 10 triliun dana investor saat mengiklankan produk palsu. Pada 14 Maret 2018, Holmes menyelesaikan gugatan SEC. Persyaratan penyelesaian Holmes termasuk menyerahkan kendali suara Theranos, mengembalikan 18,9 juta saham kepada perusahaan, larangan memegang posisi pejabat atau direktur di perusahaan publik selama 10 tahun, dan denda U$ 500.000 atau Rp 7,1 miliar.

Menurut The Wall Street Journal, pada masa puncaknya di tahun 2015, Theranos memiliki lebih dari 800 karyawan. Tapi Theranos memecat 340 orang pada Oktober 2016 dan tambahan 155 karyawan pada Januari 2017. Pada April 2018, Theranos kembali memberhentikan secara permanen 105 karyawan, sehingga karyawan yang tersisa hanya dua lusin. Sebagian besar karyawan yang tersisa kemudian diberhentikan total pada Agustus 2018.

Pada tanggal 5 September 2018, Theranos mengumumkan bahwa mereka telah memulai proses penutupan Theranos secara permanen. Sisa uang tunai dan aset akan dibagikan kepada pihak kreditur.

Tak berhenti di situ celaka bagi Holmes dan Theranos. Pada tanggal 15 Juni 2018, setelah penyelidikan panjang oleh Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Utara California di San Francisco yang berlangsung lebih dari dua tahun, jaksa federal mendakwa Holmes dan mantan Chief Operating Officer dan presiden Theranos, Ramesh " Sunny" Balwani untuk sembilan tuduhan penipuan investor dan dua tuduhan konspirasi penipuan elektronik. Keduanya mengaku tidak bersalah. Setelah surat dakwaan dikeluarkan, Holmes mengundurkan diri sebagai CEO Theranos tetapi tetap menjadi ketua dewan direksi.

Pengadilan pidana Holmes dalam kasus AS vs. Holmes dkk. diadakan di Pengadilan Distrik Utara Calfornia, Amerika Serikat. Sidang dimulai pada 31 Agustus 2021 setelah tertunda selama lebih dari setahun karena pandemi Covid-19 dan kehamilan Holmes. Pada 3 Januari 2022, Holmes dinyatakan bersalah atas empat tuduhan menipu investor ratusan juta dolar.

Apa yang bisa dipetik dari kasus Elizabeth Holmes dan skandal Theranos? Menurut The Washington Post, liputan media yang terlalu bersinar atau menglorifikasi tokoh adalah tipikal era di mana pengusaha teknologi secara rutin dianggap sebagai ahli inovasi yang mengubah dunia.  Menurut Noah Shachtman, mantan jurnalis sains dan teknologi di majalah Wired yang sekarang mengedit majalah Rolling Stone: “ Jika Anda melihat pelaporan bisnis dan teknologi, seperti kasus Theranos, itu adalah momen ketika industri media terlalu mudah percaya. Terlalu menjilat, dan terlalu menghormati kekuasaan,” kata Shachtman.

Barangkali itu sebabnya majalah Forbes akhirnya mengkoreksi pemberitaan bombastisnya pada Juni 2016, atau setahun setelah artikel John Carreyou muncul. Forbes merevisi perkiraan kekayaan bersih  Holmes dari U$ 4,5 miliar atau Rp 64 triliun menjadi $ 0.

Kasus Holmes barangkali juga membawa kesadaran pada kita untuk selalu kritis pada perusahaan rintisan atau startup di tengah demam startup seperti sekarang. Karena realitas yang terlalu indah, tak jarang dibungkus dusta dan keserakahan. Kasus Holmes dan Theranos sejatinya adalah mega aib Silicon Valley. (wens)

Sumber: HBO, Business Insider, Forbes, Vanity Fair, Fortune, The Wall Street Journal, CNBC, The Washington Post

Beri Komentar