Istana Minta Penjelasan Kapolri Soal Penangkapan Ananda Badudu & Dandhy Laksono

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 27 September 2019 17:30
Istana Minta Penjelasan Kapolri Soal Penangkapan Ananda Badudu & Dandhy Laksono
Jokowi menyerahkan jawaban ke Praktikno.

Dream - Penangkapan dua aktivis, Ananda Badudu dan Dandhy Laksono menyita perhatian publik. Meski dibebaskan, alasan penangkapan dua aktivis itu menjadi pertanyaan publik.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) enggan menanggapi penangkapan tersebut. Jokowi meminta Menteri Sekretaris Negara Praktikno memberi penjelasan lebih lanjut.

Praktikno mengatakan, pihak istana akan mengomunikasikan dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

" Saya akan komunikasikan dengan Kapolri ya, terima kasih," kata Pratikno, dilaporkan , Jumat, 27 September 2019.

Sebelumnya, aktivis Dandhy Laksono dan Ananda Badudu diamankan polisi. Dandhy diamankan di rumahnya di Bekasi, Kamis dini hari, 26 September 2019. Polisi menuduh Dandhy menyebar kebencian berbau suku, agama, ras, dan antargolongan.

 

1 dari 5 halaman

Dibebaskan

Dandhy Laksono dibebaskan setelah melakukan pemeriksaan selama sekitar 5 jam di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Meski begitu, Dandhy resmi ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian.

" Saya ditanyai terkait posting di twitter, motivasi, maksud, siapa yang menyuruh, ya standard proses verbal saya pikir," kata Dandhy.

Sementara itu, Ananda diamankan di kontrakannya, kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat subuh, 27 September 2019. Ananda ditangkap karena mentransfer sejumlah dana ke mahasiswa sebelum demonstrasi besar terjadi.

Ananda keluar dari gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya sekitar pukul 10.17 WIB. Dia ditemani Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid.

Sumber:

2 dari 5 halaman

Korban Demo Kendari Bertambah, 2 Mahasiswa Tewas

Dream - M Yusuf Kardawi, mahasiswa jurusan Teknik D-3 Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, dinyatakan meninggal dunia. Yusuf yang sempat kritis menjalani perawatan intensif di RSU Bahteramas, Kendari.

" Iya pasien Muh Yusuf Kardawi (19) menjalani perawatan intensif pascaoperasi di RSU Bahteramas Kendari, Sulawesi Tenggara meninggal dunia Jumat, 27 September 2019 sekitar pukul 04.00 WITA," kata Plt Direktur RSU Bahteramas, dr Sjarif Subijakto, dilaporkan Liputan6.com.

Antara melansir, Yusuf merupakan pasien rujukan dari RS Ismoyo Korem 143/Haluoleo yang menerima operasi karena cedera serius saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis, 26 September 2019.

Yusuf menjadi korban kedua yang tewas setelah aksi ini. Sebelumnya, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UHO, Randi meninggal saat bentrokan, Kamis, 26 September 2019.

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaidi yang dikorfirmasi tidak bersedia memberikan penjelasan.

" Silahkan konfirmasi ke Polda Sultra," kata Kapolres Jemi melalui saluran telepon.

3 dari 5 halaman

1 Mahasiwa Kendari Tewas Saat Demonstrasi, 1 Kritis

Dream - Satu orang mahasiswa Universitas Halu Oleo tewas saat berunjuk rasa. Randi, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2016, meninggal.

Randi diduga tewas akibat luka tembak di bagian dada sebelah kanan. Satu mahasiswa lainnya dilaporkan kritis. 

Muhammad Yusuf Kardwi, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2018. Dilaporkan Inikata Sultra, Yusuf kritis akibat luka di bagian kepala.

Kepala Penerangan Korem 143/HO, Mayor Arm Sumarsono. Dia meninggal pukul 18.15 Wita.

" Benar. Satu korban kritis yang sempat ditangani RS TNI dan dirujuk ke RSUD Bahteramas sudah meninggal dunia," ujar Sumarsono.

Sesaat sebelum insiden, terjadi kericuhan antara mahasiswa dan polisi di depan Kantor DPRD Povinsi Sulawesi Tenggara sekitar pukul 16.40 Wita.

Saat itu, massa demo mahasiswa berusaha masuk ke depan gedung sekretariat DPRD sejak aksi mulai digelar pukul 13.00 Wita.

Polisi kemudian melepaskan ratusan tembakan gas air mata dan peringatan.

4 dari 5 halaman

Wiranto: Demo Mahasiswa Dibajak Kelompok yang Ingin Gagalkan Pelantikan Presiden

Dream - Menteri koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, mengatakan, aksi demonstrasi mahasiswa pada Selasa 24 September 2019 telah diambil alih kelompok tak bertanggung jawab.

" Saya kira yang dihadapi atau dengan lain kelompok yang mengambil alih demonstrasi mahasiswa itu, bukan murni lagi untuk mengoreksi kebijakan pemerintah tapi telah cukup bukti bahwa mereka ingin menduduki DPR dan MPR agar DPR tidak dapat melaksanakan tugasnya, dalam arti DPR tidak dapat dilantik," kata Wiranto, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 26 September 2019.

Wiranto mengatakan, para perusuh melawan aparat polisi menggunakan batu, kembang api, dan panah. Para perusuh itu bergerak pada malam hari dan berusaha menimbulkan korban.

Dia menyebut, kelompok perusuh itu ingin menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2019.

5 dari 5 halaman

Ada Seorang Korban

Sementara itu, Kapolri, Jenderal Tito Karnavian mengatakan, tidak ada pendemo yang tewas akibat luka tembak. Dia membantah kabar yang beredar di media sosial bahwa ada mahasiswa tewas dan dirawat di RS Bhayangkara.

" Ada infonya (pendemo) pingsan dan kemudian dibawa ke RS Polri. Dan info sementara yang bersangkutan meninggal dunia bukan pelajar, bukan mahasiwa, tapi kelompok perusuh," ujar Tito.

Tito menyebut, kemungkinan massa yang tewas karena kekurangan oksigen. Sebab, dia memastikan, tidak ada anggota yang tidak dibekali dengan senjata.

" Sehingga diduga kemungkinan besar yang bersangkutan meninggal karena kekurangan oksigen. Karena di sana saat demo kan panas itu atau mungkin kondisi fisiknya sedang drop karena kita kan enggak tahu bagaimana kondisi fisik seseorang," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/Putu Merta Surya

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik