Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Nur Atiena Mohamed Asidi, 19 tahun, terancam hukuman penjara akibat melakukan penipuan. Dia telah menipu lima orang dengan nilai total 580 dolar Singapura, setara Rp6,4 juta, untuk masker yang tidak pernah dikirimkan.
Dikutip dari Channel News Asia, dalam sidang di pengadilan yang digelar melalui teleconference, Atiena mengaku uang tersebut dia gunakan untuk membeli keperluan bayinya, seperti susu bubuk, makanan bayi, dan popok. Saat ini, bayi Atiena berusia tujuh bulan.
Dia sempat menangis selama persidangan berlangsung. Dia mengaku keluarganya tidak menginginkan bayi itu lahir. Saat ini bayinya sedang dirawat oleh temannya.
Pengadilan menyatakan Atiena telah menipu lima orang melalui e-commerce Carousell, tempat dia menawarkan masker bedah pada Februari. Penipuan dilakukan Atiena selama dua hari, yaitu pada 18-19 Februari 2020.
Ibu tunggal ini menipu korban dengan menjual masker seharga 50-250 dolar Singapura, setara Rp550 ribu-Rp 2,75 juta. Harga tersebut untuk 15 hingga 400 kotak masker bedah.
Korban penipuan dengan nilai transaksi terbanyak mengaku melihat iklan Atiena di Carousell pada 18 Februari 2020. Dia tertarik membeli 10 karton, masing-masing berisi 400 kotak masker bedah dengan harta total 6 ribu dolar Singapura, setara Rp66 juta.
Atiena menyanggupi pesanan korban. Dia berjanji mengirimkan masker pesanan sebelum 21 Februari.
Kemudian Atiena meminta korban mengirimkan deposit di muka sebesar 250 dolar Singapura ke rekening bank POSB. Padahal, Atiena sebenarnya tidak memiliki stok masker sebanyak itu.
Dia juga bukan pemasok barang. Sedari awal pun, Atiena memang tidak bermaksud mengirimkan masker ke siapapun.
Korban melakukan transfer sebesar 250 dolar Singapura ke akun yang disediakan Atiena. Korban lalu mencoba menghubungi Atiena namun ternyata gagal.
Akun yang Atiena berikan sebenarnya milik penjual Carousell lain, yang merupakan mainan anak. Atiena sebenarnya ingin membeli mainan yang ditawarkan akun tersebut.
Dia mengaku akan membayar mainan dengan CoD (Cash on Delivery). Kemudian penjual mainan ini mengirimkan 250 dolar Singapura ke PayNow Atiena tetapi tidak pernah melakukan transaksi CoD.
Modus ini dilakukan Atiena guna untuk menutupi identitas. Atiena telah membayar 50 dolar Singapura kepada salah satu korban dan menggunakan sisa uang yang ia dapat untuk membeli susu bubuk, makanan bayi dan popok untuk anaknya yang saat itu berusia lima bulan.
Ia mengaku bersalah atas penipuan, dan tiga tuduhan lainnya masih dalam pertimbangan.
Wakil Jaksa Penuntut Umum, Michelle Tay, menyatakan tidak keberatan jika Atiena dikenai wajib lapor dan masa percobaan. Michelle beralasan kasus seperti ini biasanya diberlakukan penjara wajib, tetapi melihat usia Atiena dan ini merupakan tindak kejahatan pertama yang terjadi selama masa pandemi corona.
Atiena memohon keringanan hukuman dan berharap diberi kesempatan lagi.
Hakim Distrik, Eddy Tham, bertanya apakah dia bersedia membayar tebusan. Atiena menjawab dengan menyatakan bersedia
Ibu muda tersebut telah diasingkan selama 1 bulan, 13 hari. Sayangnya, orang tuanya tidak bersedia membayar uang tebusan.
Dalam ketentuan peradilan di Singapura, mengingat usia Atiena yang masih muda, orangtuanya harus membantu mendapat jaminan agar dapat dibebaskan dari penahanan.
" Persiapan untuk masa percobaan akan memakan waktu antara empat hingga enam minggu, terutama dengan situasi Covid-19. Jika tidak ada yang membayar uang jaminan kamu, kamu akan ditahan untuk waktu yang lama. Jadi, adakah orang untuk menebusmu?" kata Hakim Tham
Atiena mengatakan pria yang merawat bayinya bersedia membayar tebusannya.
" Ada seorang teman. Keluarga mereka sepakat untuk membantu saya dan merawat bayi saya, karena orang tua saya tidak ingin merawat bayi saya," kata Atiena, nampak emosional.
" Di mana ayah bayimu?" tanya Hakim Tham.
" Saya tidak tahu pasti," jawabnya.
Dia mengatakan akan tinggal bersama teman yang merawat bayinya jika dibebaskan.
Hakim kemudian menunda hukumannya hingga 27 Mei dan menghapus syarat bagi orang tua Atiena untuk membayar uang jaminan. Dengan begitu, Atiena bisa dibebaskan.
Di Singapura sendiri, untuk tuduhan melakukan penipuan akan dikenakan denda dan hukuman penjara minimal 10 tahun.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya