5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Tri Rismaharini (Liputan6.com)
Dream - Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menangis saat menggelar audiensi dengan para dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Balai Kota. Tak hanya menangis, wanita yang karib disapa Risma itu juga bersujud di hadapan para dokter tersebut.
Menurut Liputan6.com, Senin 29 Juni 2020, dalam audiensi tersebut Risma mendengarkan berbagai keluhan dari para dokter dan para pimpinan rumah sakit rujukan di Surabaya terkait penanganan kesehatan COVID-19.
Risma tiba-tiba menuju kursi yang diduduki oleh para dokter dan kemudian memegang salah satu kaki dokter sambil bersujud dan menyampaikan permintaan maaf.
Peristiwa ini terjadi setelah seorang dokter ahli paru senior dari RSUD Dr Soetomo, dr Sudarsono, bercerita tentang penuhnya rumah sakit-rumah sakit karena COVID-19. " Saya mohon maaf Pak, mohon maaf,” kata Risma dengan suara lirih.
Risma menyampaikan, selama ini Pemerintah Kota Surabaya kesulitan berkoordinasi dengan RSUD Dr. Soetomo Surabaya bahkan untuk sekadar komunikasi.
Sembari bersujud, Risma menjelaskan sudah menyediakan 200 tempat tidur di RS Husada Utama jika RS Dr Soetomo penuh. " Kenapa saya selalu disalahkan, padahal bantuan saya ditolak," kata Risma sembari menangis.
Dream - Beberapa hari lalu ramai video Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini 'mengamuk' di telepon dengan seseorang. Hal ini lantaran mobil labolatorium khusus Polymerase Chain Reaction (PCR) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dipindahkan ke Trenggalek dan Sidoarjo.
Akibatnya sejumlah orang menumpuk dan jadwal tes yang sudah dibuat jadi berantakan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa akhirnya angkat berbicara terkait hal ini.
Khofifah menuturkan, Kabupaten Trenggalek memiliki jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 593 orang. Terbanyak kedua setelah Surabaya. Dengan angka kematian PDP yang menyentuh 175 orang.
" Separuhnya (pasien PDP) itu sudah meninggal tapi belum sempat di tes, keburu meninggal," ujar dia dalam konferensi pers di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu malam, 30 Mei 2020.
Sementara untuk Sidoarjo, kata dia, hanya memiliki kapasitas tes swab atau polymerase chain reaction (PCR) 16 spesimen per hari. Sedangkan jumlah pasien positif Covid-19 di tetangga Surabaya itu terbanyak kedua setelah kota pahlawan dengan 632 orang.
" Pasti sangat jauh dari apa yang diharapkan untuk memberikan percepatan penanganan Covid-19," ucap Khofifah.
Menurut Khofifah, Surabaya memiliki tujuh laboraturium besar. Meski di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga yang masih rehat sejenak, masih ada RSUD Dr Soetomo, RS Premier Surabaya, RS National Hospital, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, dan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya.

Khofifah menuturkan, bila semua laboratorium dimaksimalkan masih bisa membantu penanganan COVID-19. " Jadi kalau ini dimaksimalkan sesungguhnya ini akan bisa memberikan percepatan konfirmasi dari spesimen yang di PCR tes," ucap Khofifah.
Sementara itu, perkembangan jumlah pasien positif Corona COVID-19 di Jawa Timur per Sabtu 30 Mei 2020 ada tambahan 191 orang. Dengan begitu total menjadi 4.600 pasien di Jatim.
Tambahan paling banyak adalah Surabaya dengan 101 pasien, Sidoarjo 23 pasien, Kabupaten Kediri 10 orang, Lamongan dan Jombang masing-masing delapan pasien. Kemudian Tulungagung dan Ponorogo di tiap kabupaten ada tujuh pasien tambahan.
Lalu Gresik lima orang, Bojonegoro empat orang, Bangkalan tiga orang, Nganjuk dan Kota Mojokerto masing-masing bertambah dua orang. Trenggalek, Banyuwangi, Sumenep, Pacitan, Pamekasan, kota dan kabupaten Probolinggo, Kota Malang, Tuban, serta Jember ditiap daerah bertambah satu pasien.
Tidak hanya pasien positif bertambah, jumlah yang sembuh juga meningkat 20 orang menjadi 609 orang atau setara 13,24 persen. Sedangkan yang meninggal tercatat per hari ini ada 24 orang, sehingga total 396 orang atau setara 8,61 persen.
Untuk PDP tercatat 6.595 orang, dengan yang masih diawasi 3.174 orang. Kemudian Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 24.180 orang, dan yang masih dipantau 4.081 orang.
Laporan Dian Kurniawan/ Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?