Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Widodo
Dream - Pria paruh baya itu tergolek, lemah. Tangan dan kaki terkulai. Jangankan berdiri, bergerak saja susah. Diia benar-benar tak berdaya. Menjadi " bunga dipan'.
Hanya mata dan mulut saja yang bekerja. Jika butuh sesuatu, harus berteriak. Meminta bantuan keluarga untuk mengerjakannya. Harus didukung, mulai urusan mandi hingga pakaian. Semuanya.
Dialah Widodo. Mantan guru yang harus “ pensiun” setelah terserang stroke. Kini, dia hanya bisa terbaring di Perumahan Villa Nusa Indah, Kelurahan Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
“ Sekarang Bapak sudah tidak mengajar lagi karena stroke,” ucap putri Widodo, Gayatri.
Dulu, Widodo dikenal sebagai sosok yang gigih dan menginspirasi dunia pendidikan Indonesia. Catatan pengabdiannya luar biasa. Selama 26 tahun meniti jalan sebagai guru kesenian di SMA Purnama.
Widodo dikenal sebagai pengajar yang ikhlas. Padahal, upah sebagai pengajar honorer yang diterimanya tidak cukup menghidupi keluarga dengan lima anak. Status honorer bahkan dia sandang hingga tak mampu lagi mengajar.
***
Wajah Widodo sempat menghias halaman beberapa media nasional. Kisahnya menginspirasi karena gigih mencari rezeki halal. Dia tak mau menempuh jalan pintas: korupsi.
Pendapatan sebagai guru honorer yang tidak mencukupi memaksa Widodo memutar otak. Dia jalani profesi lain agar mendapat penghasilan tambahan. Salah satu profesi yang paling dominan di luar guru yaitu tukang parkir.
Widodo pernah menjadi tukang parkir di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tidak jauh dari lokasi mengajar. Dia menjalankan profesi sampingan ini selama enam tahun.
Saban hari, setelah mengajar, Widodo langsung meluncur ke “ kantor ke duanya”. Melepas pakaian guru, berganti “ seragam” juru parkir. Uang tambahan Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu dia kantongi dari pekerjaan ini.
Bagi sebagian orang, tukang parkir mungkin dianggap rendahan. Butuh keberanian tinggi untuk bisa menjalankan profesi ini. Widodo sadar betul risiko itu. Tetapi, dia memilih menanggalkan rasa malu demi rezeki halal –meski hanya sedikit.
Tidak hanya sebagai tukang parkir, Widodo ternyata juga pernah menjadi pedagang nasi goreng.
Kegigihan Widodo ini menjadikannya sebagai sosok idola. Hampir sebagian besar murid yang pernah dia ajar bangga dengan Widodo. Begitu pula dengan teman-teman sesama guru.
Sebut saja Badriyah. Guru yang menjadi rekan Widodo. Dia sangat kagum dengan dedikasi pria 57 tahun ini. Meski sedang sakit, kata dia, Widodo tetap berusaha datang ke sekolah dan mengajar.
“ Maklumlah, dia itu pengajar seni, banyak idenya, dan banyak disukai oleh siswa,” kata Badiyah. Meski sudah tidak lagi mengajar, Widodo tetap dikenang sebagai sosok guru yang kreatif.
***
Bagi tenaga honorer, diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan impian. Demikian pula dengan Widodo saat masih mengajar. Dalam benaknya waktu itu, menjadi PNS akan membantu mengatasi persoalan ekonomi.
Sayangnya, harapan itu belum juga terpenuhi. Sementara kini dia sudah tidak lagi mampu mengajar. Setiap hari, dia hanya bisa tergolek di tempat tidur.
Kini, Widodo hanya mengandalkan kemampuan anak ke duanya, Gayatri, yang bekerja sebagai penjual obat herbal. Mimpi menjadi PNS sudah tidak lagi ada dalam diri Widodo.
Meski demikian, Widodo hanya berharap tetap bisa berobat dan pulih seperti sedia kala. Semangat untuk sembuh begitu tinggi, setara dengan kegigihannya dalam mencari rezeki.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya