Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menjaga perekonomi Indonesia. Upaya-upaya itu misalnya pemberian stimulus, reformasi kebijakan dan peningkatan kualitas belanja negara. Menurut laporan terbaru Bank Dunia Indonesia Economic Quarterly, upaya-upaya ini dapat membantu Indonesia ke depannya.
Untuk belanja, misalnya, implementasi belanja modal pemerintah sudah naik lebih cepat di triwulan ketiga yang diperkirakan naik 21,4 persen secara riil selama sembilan bulan pertama tahun 2015, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja pemerintah ini diharapkan akan menunjang investasi tetap dan pertumbuhan.
“ Indonesia menghadapi kendala sama dengan negara tetangga, akibat upaya Tiongkok menuju economic rebalancing dan persiapan normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat," kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves, seperti dilansir melalui keterangan pers Bank Dunia pada Senin, 26 Oktober 2015.
" Tapi pertumbuhan di Indonesia tetap lebih baik dibandingkan negara pengekspor komoditas yang lain, dan tanggapan kebijakan pemerintah pro-aktif. Implementasi yang baik upaya reformasi ini bisa memperkuat kepercayaan investor,” tambahnya.
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk 2015 diperkirakan tetap pada angka 4,7%. Pertumbuhan diharapkan sedikit meningkat menjadi 5,3% di tahun depan, yang mencerminkan kondisi eksternal yang membaik dan belanja modal negara yang lebih tinggi.
Namun proyeksi ini disertai risiko, seperti kemungkinan naiknya suku bunga Amerika Serikat, pelambatan di negara-negara mitra dagang seperti Tiongkok, pelemahan di sektor swasta akibat depresiasi nilai tukar dan berkurangnya marjin keuntungan, serta kemarau akibat pola cuaca El Nino. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya