Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream – Sektor keuangan syariah harus diakui masih minim peminat. Tidak hanya pengguna sistem ini, tetapi juga ahli di bidang ini. Hal ini menjadi masalah global yang memberikan dampak sulitnya sistem ini berkembang pesat.
Didukung oleh Dubai Islamic Economy Development Centre (DIEDC), Kamar Dagang dan Industri Dubai, bekerja sama dengan Thomson Reuters dan International Centre for Education in Islamic Finance (INCEIF) menyelenggarakan konferensi yang membahas masalah kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia di sektor keuangan syariah, dalam upaya untuk menemukan dan mengembangkan solusi yang nyata.
Pertemuan satu hari di Sasana Kijang, Bank Negara Malaysia, Kuala Lumpur pada tanggal 1 Juni lalu merupakan pemanasan bagi Pertemuan Ekonomi Islam Global atau Global Islamic Economy Summit - GIES 2015- yang dijadwalkan berlangsung di Dubai pada 5-6 Oktober mendatang.
Abdulla Al Awar, CEO DIEDC, mengatakan GIES 2015 sejalan dengan inisiatif 'Dubai: Capital of Islamic Economy' yang diluncurkan oleh Yang Mulia Shaikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden dan Perdana Menteri Uni Emirat Arab dan Penguasa Dubai, pada bulan Oktober 2013.
Menyeru kepada pemimpin industri global dalam domain keuangan syariah, pertemuan tersebut berlangsung dalam tiga sesi yang masing membahas masalah perekrutan sumber daya di masa depan, memenuhi kebutuhan tenaga terampil saat ini dan membentuk karakter pemimpin untuk masa depan, serta memberikan dukungan untuk pengembangan pengetahuan di dunia keuangan syariah.
Selain itu, seperti dikutip dari Khaleej Times, Selasa 16 Juni 2015, pertemuan ini juga akan membahas besarnya kesenjangan antara kurikulum akademik dan persyaratan keahlian khusus yang diminta industri dan pasar.
" Mengingat sifat yang sangat khusus dari keuangan syariah, para ahli sepakat bahwa kompetensi di sektor ketenagakerjaan bidang keuangan syariah sangat penting. Ketidaksesuaian antara kualifikasi lulusan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri bisa menjadi beban bagi sektor ekonomi Islam yang tengah berkembang," kata Al Awar.
Dalam sambutannya, Dato Seri Dr Zaini Ujang, Sekretaris Jenderal II di Kementerian Pendidikan Malaysia, membahas tantangan utama yang dihadapi oleh pengembangan sumber daya manusia di bidang keuangan syariah. Dia menegaskan kembali adanya kekurangan tenaga kerja dan ketidaksesuaian antara kurikulum universitas dan kebutuhan industri.
Sayd Farouk, kepala global Pasar Modal Islam Thomson Reuters, mengatakan: " Forum ini mengonfirmasi bahwa keuangan syariah masih perlu menemukan solusi untuk menjawab tantangan pasokan dan permintaan pada domain penting seperti perekrutan sumber daya manusia dan pengembangan penelitian."
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya