Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Industri kecerdasan buatan (artificail inteligent/AI) membuka peluang kerja baru yang sangat menjanjikan. Laporan terbaru raksasa teknologi China, Tencent Research Institute, melaporkan dunia saat ini baru memiliki 300 ribu peneliti dan praktisi AI.
Angka itu sangat minim. Saat ini kebutuhan pasar tenaga kerja yang menguasai AI ditaksir sudah mencapai jutaan orang.
Meski tak dijelaskan dari mana data kebutuhan ahli AI itu muncul, kenyataannya para pelaku industri sarat teknologi ini memang tengah kekurangan pasokan SDM berkualitas. Pengusaha selalu mengeluh kesulitan mencari ahli AI terbaik.
Alhasil, persaingan ketat mencari tenaga ahli AI ini membuat mereka yang menguasai teknologi terbaru itu bisa mematok gaji sangat mahal.
Bayangkan saja, laporan The New Yor Times menyebut, orang yang dengan pengalaman baru hitungan beberapa tahun saja sudah berani meminta gaji US$ 300 ribu-500 ribu per tahun. Jika dirupiahkan, nilainya setara Rp4,06 miliar-6,77 miliar.
Jika dibagi per bulan, penghasilan dari profesi baru untuk orang yang minim pengalaman saja sudah dibayar Rp388 juta hingga Rp564 juta.
Sebuah pusat penelitian independen AI mengungkapkan hanya ada 10 ribu individu yang benar-benar ahli AI dan mereka tersebar dalam berbagai proyek serius.
Tescent dalam laporan terjudul 2017 Global AI Talent White Paper menilai masalah ini terjadi karena faktor pendidikan. Tescent memperkirakan 200 ribu-300 ribu peneliti aktif telah bekerja di berbagai perusahaan. Sementara 100 ribu lainnya baru tahap belajar.
Laporan itu juga menyebutkan jika Amerika Serikat, China, Jepang, dan Inggris sebagai pemain utama industri AI. Tak lupa dua negara lain ikut dalam daftar yaitu Israel dan Kanada.
Jadi buat Sahabat Dream yang sedang bingung menentukan karier, menjadi ahli AI bisa jadi pertimbangan.
(Sah/The Verge)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya