Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
ADB Mengucurkan Dana Untuk Membantu Riset Dampak Teknologi Distruptif Di Indonesia.
Dream – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyetujui kucuran dana US$750 ribu, sekitar Rp10,2 miliar (Kurs Rp13.5660/US$) kepada Indonesia. Dana ini merupakan bentuk dukungan teknis ADB untuk mempelajari dampak teknologi disruptif terhadap prospek pembangunan di Indonesia.
“ Dukungan teknis ADB akan membantu memetakan dampak teknologi disruptif terhadap ekonomi Indonesia, baik secara agregat maupun di tingkat sektoral,” kata Kepala Kantor Perwakilan ADB di Indonesia, Winfried Wicklein, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Selasa 12 Desember 2017.
Wicklein mengatakan Indonesia adalah satu negara dengan tingkat pertumbuhan pengguna internet tercepat di dunia. Potensi manfaat ekonomi digital bagi Indonesia diprediksi cukup besar. Berbagai indikator seperti lalu lintas internet, pendapatan dari layanan komputasi awan dan sistem terkait (Internet of Things) tumbuh pesat.
Dia mengatakan aplikasi pemesanan transportasi online seperti Grab dan Go-Jek tak hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga memberikan penghasilan dan fasilitas lain seperti asuransi kesehatan dan akses pada perbankan yang lebih baik, jika dibandingkan dengan penyedia layanan tradisional.
Namun, teknologi disruptif juga membawa sejumlah risiko bagi Indonesia dalam bentuk berkurangnya pekerjaan di sektor tertentu dan potensi naiknya ketimpangan.
“ Bantuan teknis ini akan mendukung upaya pemerintah memanfaatkan keuntungan teknologi tersebut, sembari mengelola risikonya,” kata Wicklein.
Sekadar informasi, pemerintah telah mengembangkan “ 2020 Go Digital Vision” yang bertekad menjadikan Indonesia perekonomian digital terbesar di ASEAN pada 2020. Kebijakan ekonomi ke-14 yang diluncurkan tahun lalu mencakup peta jalan komprehensif untuk mendorong e-commerce. Pemerintah juga menyiapkan berbagai tolok ukur dan program untuk mendorong teknologi finansial (fintech) dan teknologi lainnya sebagai bagian dari upayanya menekan kemiskinan dan kesejangan.
“ Indonesia berada di persimpangan perubahan teknologi global,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara.
Suahasil mengatakan pemahaman yang lebih baik terhadap topik yang berkembang cepat sangatlah penting. Tujuannya agar kebijakan dan investasi pendukung yang tepat dapat diambil.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya